BerandaBudayaBudaya Batak Menjadi Kekuatan Sosial Bila Menghadapi Kemarau

Budaya Batak Menjadi Kekuatan Sosial Bila Menghadapi Kemarau

Oleh : Hery Buha Manalu
Kemarau di kawasan Danau Toba bukan hanya persoalan iklim dan lingkungan. Kondisi ini juga menyentuh ruang budaya masyarakat Batak yang telah tumbuh bersama danau, pegunungan, lahan pertanian, dan sumber air selama beberapa generasi.

Danau Toba merupakan ruang hidup. Di sekitarnya terdapat desa adat, rumah tradisional, tempat bersejarah, kawasan pertanian, situs geologi, serta pusat seni dan kerajinan. Hubungan tersebut menjadikan perlindungan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga identitas budaya.

Toba Caldera ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark pada 2020. Pengakuan itu diberikan bukan hanya karena kekayaan geologinya, tetapi juga karena hubungan antara bentang alam, keanekaragaman hayati, dan kehidupan masyarakat. UNESCO menyebut Kaldera Toba terbentuk oleh letusan besar sekitar 74.000 tahun lalu dan memiliki nilai geologi yang penting bagi dunia.

Status geopark membawa tanggung jawab. UNESCO melakukan revalidasi terhadap setiap UNESCO Global Geopark setiap empat tahun. Penilaian tersebut memeriksa fungsi, kualitas pengelolaan, pendidikan, konservasi, keterlibatan masyarakat, dan manfaat ekonomi bagi penduduk setempat. Hasilnya dapat berupa kartu hijau, kartu kuning, atau kartu merah.

Karena itu, kemampuan kawasan Danau Toba menghadapi kemarau juga berkaitan dengan kualitas pengelolaan geopark. Lingkungan yang rusak, kebakaran berulang, sumber air yang tidak terjaga, dan masyarakat yang tidak memperoleh manfaat akan melemahkan makna geopark itu sendiri.

Budaya dapat menjadi kekuatan sosial dalam menghadapi risiko tersebut. Nilai kebersamaan, penghormatan, dan kerja kolektif terlihat dalam berbagai kegiatan budaya Batak. Festival Solu Bolon, misalnya, menampilkan ritual Mangebang Solu, kegiatan mengelilingi danau, serta Opera Batak. Pemerintah mempromosikan festival ini sebagai ruang pelestarian budaya, gotong royong, persatuan, dan penghormatan.

Nilai tersebut dapat diterapkan dalam perlindungan air. Gotong royong dapat diarahkan untuk membersihkan mata air, memperbaiki saluran, menjaga sempadan sungai, mengawasi kebakaran, dan menanam vegetasi pada lahan kritis.

Baca Juga  Gotong Royong Karo, Kearifan Lokal yang Menjadi Soft Skill Kehidupan

Namun, penerapan budaya perlu dilakukan secara nyata. Budaya tidak cukup ditampilkan sebagai pertunjukan bagi wisatawan. Nilai budaya harus hadir dalam keputusan pembangunan, tata ruang, pengelolaan sampah, penggunaan air, dan perlindungan kawasan adat.

Tokoh adat, pemimpin agama, guru, kelompok perempuan, pemuda, dan pelaku seni memiliki posisi penting. Mereka dapat menyampaikan pesan lingkungan melalui bahasa yang dekat dengan masyarakat. Informasi teknis tentang El Niño, kekeringan, dan kebakaran perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang mudah dilakukan.

Festival budaya juga dapat menjadi ruang pendidikan iklim. Setiap kegiatan besar di sekitar danau dapat menyediakan informasi tentang penghematan air, larangan membakar lahan, pengurangan plastik, serta perlindungan mata air. Panitia dapat menerapkan standar pengelolaan sampah dan penggunaan air yang terukur.

Budaya Batak juga memiliki nilai ekonomi. Ulos, kopi, ukiran kayu, kuliner, musik, tari, dan desa tradisional menjadi bagian dari pengalaman wisata Danau Toba. Portal resmi pariwisata Indonesia mempromosikan ulos, kopi Lintong, dan kerajinan kayu sebagai produk khas yang dapat mendukung perjalanan wisata di kawasan tersebut.

Musim kemarau dapat memengaruhi rantai ekonomi budaya. Kekurangan air dapat menekan produksi kopi dan pangan yang menjadi bahan kuliner. Kebakaran dapat mengganggu kegiatan wisata. Kerusakan bentang alam dapat mengurangi daya tarik desa dan situs budaya.

Di sisi lain, ekonomi budaya dapat membantu pembiayaan konservasi. Sebagian pendapatan festival, tiket, tur desa, atau penjualan produk lokal dapat dialokasikan untuk merawat sumber air dan ruang publik. Model ini perlu dikelola secara transparan dan melibatkan masyarakat.

Generasi muda juga perlu mendapat ruang lebih besar. Mereka dapat membuat dokumentasi digital tentang mata air, sejarah desa, perubahan bentang alam, dan praktik konservasi. Sekolah dapat menggabungkan pengetahuan geologi, iklim, bahasa, seni, dan lingkungan dalam kegiatan belajar.

Baca Juga  Budaya yang Bernapas Iman, Ruang Hidup Tempat Injil Menjadi Nyata

Program Sekolah Peduli Lingkungan yang dilaporkan menjangkau 15 sekolah di kawasan Danau Toba dapat menjadi awal. Program semacam itu perlu dikembangkan dengan materi lokal, pengamatan lapangan, dan keterlibatan orang tua.

Kemarau tidak harus dilihat sebagai kejadian alam yang terpisah dari kehidupan sosial. Cara masyarakat menggunakan air, membuka lahan, membuang sampah, dan menjaga hutan dibentuk oleh nilai serta kebiasaan sehari-hari.

Budaya yang hidup dapat membantu masyarakat bertindak bersama. Akan tetapi, budaya juga perlu mendapat dukungan kebijakan, anggaran, data, dan perlindungan hukum. Masyarakat tidak dapat diminta menjaga lingkungan apabila ruang hidupnya terus tertekan oleh pembangunan yang tidak terkendali.

Danau Toba membutuhkan pendekatan yang menyatukan ilmu pengetahuan dan budaya. BMKG menyediakan informasi iklim. Akademisi membantu membaca risiko. Pemerintah membuat kebijakan. Masyarakat menjaga ruang hidup melalui tindakan sehari-hari.

Ketika budaya ditempatkan sebagai bagian dari tata kelola lingkungan, perlindungan Danau Toba menjadi lebih kuat. Danau tidak hanya dijaga karena nilai ekonominya, tetapi juga karena menjadi bagian dari sejarah, identitas, dan masa depan masyarakat Batak. (Red/”)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read