BerandaBudaya“Mata Guru, Roha Sisean Membaca Kemelut Chapel USU dengan Mata Jernih dan...

“Mata Guru, Roha Sisean Membaca Kemelut Chapel USU dengan Mata Jernih dan Hati yang Belajar.”

Oleh : Hery Buha Manalu
Kemelut yang terjadi dalam rencana renovasi dan revitalisasi Chapel Universitas Sumatera Utara tidak dapat dibaca hanya sebagai persoalan bangunan. Ia juga menyentuh ruang sejarah, pelayanan, tata kelola, dan relasi sosial di lingkungan kampus. Chapel USU bukan sekadar gedung. Bagi banyak mahasiswa, dosen, pegawai, alumni, dan warga Kristen kampus, Chapel adalah ruang doa, ruang pembinaan iman, dan ruang persekutuan yang memiliki nilai batin.

Dalam konteks budaya Batak Toba, persoalan ini dapat dilihat melalui falsafah Mata Guru, Roha Sisean. Secara sederhana, ungkapan ini berarti mata menjadi guru dan hati menjadi murid. Mata melihat kenyataan yang terjadi. Hati belajar dari kenyataan itu. Falsafah ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh mengambil keputusan hanya berdasarkan emosi, kepentingan sesaat, atau suara yang paling keras. Manusia perlu melihat dengan jernih, lalu menimbang dengan hati nurani.

Mata Guru, Roha Sisean mengajak semua pihak untuk lebih dahulu melihat Chapel USU secara utuh. Mata melihat bahwa ada rencana renovasi. Mata juga melihat adanya kekhawatiran dari berbagai pihak. Ada yang khawatir fungsi Chapel berubah. Ada yang meminta agar ibadah tetap berjalan. Ada yang menekankan pentingnya administrasi yang tertib. Ada pula yang meminta agar hak pelayan dan umat tetap diperhatikan. Semua kenyataan itu tidak boleh diabaikan.

Namun, setelah mata melihat, roha harus belajar. Hati perlu memahami bahwa renovasi bukan hanya urusan teknis. Renovasi bukan hanya soal memperbaiki dinding, atap, kursi, atau tata ruang. Renovasi Chapel USU harus menyentuh dimensi yang lebih dalam, yaitu bagaimana pelayanan tetap hidup, ibadah tetap berjalan, dan sejarah Chapel tetap dihormati.

Dalam budaya Batak Toba, roha memiliki makna yang luas. Roha bukan hanya perasaan. Roha adalah pusat kesadaran moral. Roha menjadi tempat manusia menimbang baik dan buruk, pantas dan tidak pantas, adil dan tidak adil. Karena itu, setiap keputusan tentang Chapel USU perlu melewati pertimbangan roha. Apakah keputusan itu membangun kebersamaan.

Baca Juga  Renovasi Chapel USU Dipastikan Berjalan, Ibadah Tetap Dilayani

Apakah keputusan itu menjaga martabat manusia. Apakah keputusan itu memperkuat pelayanan. Apakah keputusan itu tidak melukai pihak yang selama ini merasa memiliki ikatan batin dengan Chapel.

Falsafah Mata Guru, Roha Sisean juga mengajarkan pentingnya mendengar sebelum memutuskan. Dalam kemelut Chapel USU, berbagai unsur telah terlibat, mulai dari Forum Peduli Chapel USU, pimpinan aras gereja, Kementerian Agama, tokoh Kristen, organisasi kemasyarakatan Kristen, akademisi, alumni, hingga unsur internal Universitas Sumatera Utara. Keterlibatan banyak pihak ini menunjukkan bahwa Chapel USU memiliki makna sosial yang luas. Ia bukan ruang yang dapat dibicarakan secara sepihak.

Karena itu, rapat koordinasi yang melibatkan berbagai unsur merupakan langkah penting. Dalam budaya Batak, penyelesaian masalah idealnya dilakukan melalui pembicaraan terbuka, penghormatan terhadap posisi pihak lain, dan pencarian titik temu. Prinsip ini dekat dengan semangat musyawarah. Setiap pihak boleh menyampaikan pandangan, tetapi tidak boleh menghilangkan kehormatan pihak lain.

Dalam kerangka Mata Guru, Roha Sisean, tanggapan Kementerian Agama yang menekankan agar ibadah tetap berjalan menjadi sangat penting. Pernyataan bahwa renovasi dapat dilaksanakan, tetapi ibadah tidak boleh terhenti, merupakan bentuk keseimbangan antara kebutuhan fisik dan kebutuhan rohani. Gedung boleh direnovasi. Tata kelola boleh diperbaiki. Namun, umat tetap harus mendapat ruang untuk beribadah.

Di sinilah nilai kemanusiaan menjadi pusat. Chapel USU tidak boleh dipahami sebagai benda mati. Ia adalah ruang hidup. Di dalamnya ada doa, pelayanan, relasi, air mata, sukacita, dan sejarah pembentukan iman. Maka, bila Chapel direnovasi, yang harus dijaga bukan hanya bentuk bangunannya, tetapi juga kehidupan yang tumbuh di dalamnya.

Perspektif Batak Toba juga menekankan pentingnya martabat. Bila ada pelayan yang selama ini melayani di Chapel, maka hak dan posisinya perlu dibicarakan secara manusiawi. Perubahan tidak boleh membuat seseorang merasa disingkirkan tanpa penghargaan. Dalam budaya Batak, manusia memiliki harga diri yang harus dijaga. Penyelesaian yang baik bukan hanya benar secara administratif, tetapi juga pantas secara moral.

Baca Juga  Budaya Batak Menjadi Kekuatan Sosial Bila Menghadapi Kemarau

Mata Guru, Roha Sisean juga menuntut keterbukaan terhadap kritik. Bila ada kekhawatiran tentang alih fungsi, maka kekhawatiran itu harus dijawab dengan penjelasan yang jelas. Bila ada tuntutan tertib administrasi, maka dokumen dan dasar kebijakan harus disiapkan dengan baik. Bila ada permintaan tempat ibadah sementara, maka hal itu perlu menjadi prioritas. Dengan cara ini, kecurigaan dapat dikurangi dan kepercayaan dapat dibangun kembali.

Dalam konteks akademik, USU memiliki tanggung jawab moral untuk menjadikan persoalan Chapel sebagai ruang pembelajaran sosial. Kampus bukan hanya tempat ilmu diajarkan. Kampus juga tempat etika, dialog, dan kedewasaan sosial dipraktikkan. Penyelesaian Chapel USU dapat menjadi contoh bahwa konflik dapat dikelola dengan akal sehat, data yang jelas, dan hati yang bersih.

Falsafah Mata Guru, Roha Sisean akhirnya mengingatkan bahwa setiap kemelut dapat menjadi guru. Mata melihat adanya perbedaan. Roha belajar mencari persatuan. Mata melihat adanya ketegangan. Roha belajar membangun damai. Mata melihat adanya kebutuhan renovasi. Roha belajar menjaga pelayanan. Mata melihat adanya persoalan tata kelola. Roha belajar memperbaiki tanpa merusak martabat manusia.

Karena itu, penyelesaian Chapel USU sebaiknya diarahkan pada pemulihan menyeluruh. Pemulihan fisik bangunan penting. Pemulihan administrasi juga penting. Namun, pemulihan kepercayaan jauh lebih penting. Tanpa kepercayaan, bangunan yang baru tidak akan sepenuhnya menjadi rumah rohani. Tanpa komunikasi, revitalisasi mudah disalahpahami. Tanpa roha, keputusan mudah menjadi kering dan melukai.

Chapel USU membutuhkan pembaruan yang berpijak pada kebijaksanaan. Renovasi harus berjalan dengan tertib. Ibadah harus tetap terlayani. Fungsi awal Chapel harus dijaga. Semua pihak harus didengar.

Pelayan dan umat harus diperlakukan dengan hormat. Dengan cara itu, Chapel USU tidak hanya diperbaiki secara fisik, tetapi juga dipulihkan secara sosial dan rohani.

Baca Juga  Metropolitan Photios Kunjungi Medan, SMP Johannes Prodromos Teguhkan Pendidikan Orthodox

Dalam terang budaya Batak Toba, Mata Guru, Roha Sisean memberi pesan yang kuat: lihatlah persoalan dengan jernih, lalu belajarlah dengan hati. Bila semua pihak bersedia melakukan itu, kemelut Chapel USU dapat berubah menjadi jalan pemulihan. Bukan hanya bagi gedung Chapel, tetapi juga bagi kebersamaan warga kampus dan umat yang selama ini hidup di sekitarnya. (Red/*)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read