Oleh : Hery Buha Manalu
Dalihan Na Tolu tidak hanya berfungsi sebagai sistem kekerabatan masyarakat Batak Toba. Falsafah tersebut juga menyimpan pengetahuan budaya tentang hubungan, tanggung jawab, pelayanan, keseimbangan, dan keberlanjutan hidup.
Dalam kehidupan masyarakat Batak Toba, Dalihan Na Tolu mengatur hubungan antara hula-hula, dongan tubu, dan boru. Ketiga unsur tersebut menentukan posisi, sikap, hak, dan kewajiban seseorang dalam berbagai kegiatan adat. Hubungan itu tampak dalam perkawinan, kematian, kelahiran, musyawarah keluarga, dan kegiatan sosial lainnya. Penelitian Nainggolan, Panjaitan, dan Sitompul menunjukkan bahwa ketiga unsur Dalihan Na Tolu membentuk kerja sama berdasarkan prinsip somba marhula-hula, manat mardongan tubu, dan elek marboru (Nainggolan et al., 2023).
Namun, Dalihan Na Tolu tidak hanya berbicara tentang pembagian posisi dalam keluarga. Secara harfiah, istilah tersebut menunjuk pada tungku yang ditopang tiga batu. Tungku menjadi gambaran konkret mengenai cara unsur yang berbeda bekerja bersama untuk menopang kehidupan.
Tungku sebagai Sumber Pengetahuan Budaya
Tungku tradisional bekerja melalui hubungan yang tepat. Ketiga batu harus ditempatkan pada jarak dan ketinggian yang sesuai. Jika satu batu terlalu rendah atau bergeser, wadah di atasnya akan kehilangan keseimbangan. Jika ruang antarbatunya terlalu sempit, udara tidak dapat menjaga api tetap menyala.
Tungku juga mempertemukan batu, kayu, api, udara, air, bahan makanan, wadah, dan tenaga manusia. Setiap unsur memiliki fungsi yang berbeda. Namun, tidak satu pun dapat menghasilkan makanan secara mandiri.
Dalam artikel ini, istilah ide sains Dalihan Na Tolu digunakan untuk menjelaskan pengetahuan yang lahir melalui pengamatan dan pengalaman hidup masyarakat. Istilah ini tidak menyamakan Dalihan Na Tolu dengan sains modern yang menggunakan eksperimen laboratorium, pengukuran statistik, dan pengujian terkontrol.
Penggunaan istilah tersebut lebih dekat dengan pendekatan etnosains. Penelitian Sijabat dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa Dalihan Na Tolu dapat digunakan sebagai konteks budaya dalam pengembangan pembelajaran konsep dasar IPA. Penelitian itu menempatkan pengetahuan lokal sebagai sumber pembelajaran yang dapat diuji dari segi validitas, kepraktisan, dan efektivitasnya (Sijabat et al., 2024).
Dari tungku tersebut dapat dikembangkan tiga pembacaan utama, yaitu kesetaraan, keseimbangan, dan kesederhanaan. Ketiganya merupakan penafsiran etis yang dapat didialogkan dengan kehidupan dan pengajaran Yesus Kristus.
Kesetaraan: Berbeda Peran, Setara Martabat
Tiga batu tungku tidak harus memiliki bentuk yang sama. Namun, ketiganya sama-sama dibutuhkan. Tidak ada satu batu yang dapat menopang wadah sendirian.
Prinsip tersebut dapat menjadi dasar untuk memahami kesetaraan dalam Dalihan Na Tolu. Hula-hula, dongan tubu, dan boru mempunyai peran berbeda, tetapi perbedaan peran tidak seharusnya menghasilkan perbedaan martabat.
Dalam praktiknya, nilai kesetaraan itu belum selalu terwujud secara sempurna. Marpaung menemukan bahwa struktur bahasa Dalihan Na Tolu dapat menempatkan laki-laki lebih dominan sebagai pemimpin dan pengambil keputusan.
Perempuan berada dalam posisi yang lebih terbatas. Namun, penelitian tersebut juga menemukan ruang kesetaraan ketika laki-laki dan perempuan sama-sama menjalankan tanggung jawab dalam hubungan dongan tubu (Marpaung, 2023).
Simatupang juga menunjukkan bahwa konstruksi budaya patriarkal dapat membatasi posisi dan pemenuhan hak perempuan Batak Toba.
Kehadiran nilai kesetaraan dalam kekristenan ikut memengaruhi perubahan cara masyarakat menilai kedudukan perempuan, meskipun perubahan itu tidak terjadi secara seragam (Simatupang, 2021).
Karena itu, ideologi Batak yang terbuka tidak cukup hanya menyatakan bahwa semua unsur Dalihan Na Tolu memiliki kedudukan penting. Masyarakat perlu menguji apakah boru mendapat penghargaan yang adil, perempuan dilibatkan dalam pengambilan keputusan, generasi muda diberi ruang berbicara, dan orang miskin memperoleh penghormatan yang sama.
Dalam terang Kristus, ukuran kebesaran tidak terletak pada kemampuan menguasai orang lain. Yesus mengajarkan bahwa orang yang ingin menjadi besar harus bersedia melayani (Mrk. 10:42–45). Ia juga membasuh kaki para murid dan meminta mereka meneladani tindakan tersebut (Yoh. 13:1–17).
Pelayanan tidak menghilangkan kehormatan. Pelayanan justru menjadi bukti bahwa seseorang memakai kedudukannya untuk memelihara kehidupan orang lain.
Keseimbangan: Hubungan yang Terus Dipelihara
Tungku tidak akan bekerja hanya karena memiliki tiga batu. Orang yang memasak harus terus mengatur kayu, api, udara, air, wadah, dan bahan makanan.
Api yang terlalu besar dapat membakar makanan. Api yang terlalu kecil tidak mampu memasak. Keseimbangan harus dijaga selama proses berlangsung.
Demikian pula kehidupan sosial. Hubungan keluarga tidak otomatis berjalan baik hanya karena orang berada dalam satu marga. Hubungan perlu dipelihara melalui komunikasi, musyawarah, pengendalian diri, koreksi, dan kesediaan meminta maaf.
Yesus menunjukkan keseimbangan antara kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Keduanya ditempatkan sebagai hukum yang terutama dan tidak dapat dipisahkan (Mat. 22:37–40).
Prinsip itu penting dalam pelaksanaan adat. Ketertiban upacara tidak boleh mengalahkan kasih, keadilan, dan keselamatan manusia. Adat kehilangan tujuan jika keluarga harus menanggung utang besar hanya untuk memenuhi gengsi sosial.
Kesederhanaan: Hidup Secukupnya
Tungku tradisional tidak membutuhkan banyak batu. Tiga batu yang disusun dengan tepat sudah cukup menopang wadah. Penambahan batu secara berlebihan justru dapat menutup ruang udara dan mengganggu nyala api.
Kesederhanaan bukan kemiskinan. Kesederhanaan juga bukan penolakan terhadap pendidikan, teknologi, kenyamanan, atau kemajuan.
Kesederhanaan berarti menggunakan sesuatu berdasarkan kebutuhan, kemampuan, dan tujuan.
Dalam kehidupan adat, prinsip ini menuntut keluarga menyelenggarakan kegiatan sesuai kemampuan. Nilai sebuah pesta tidak terletak pada kemegahan gedung atau mahalnya makanan. Nilainya terletak pada rasa syukur, solidaritas, dan hubungan yang dipulihkan.
Yesus mengajarkan kecukupan melalui permohonan akan makanan sehari-hari dalam Doa Bapa Kami (Mat. 6:11). Ketika memberi makan orang banyak, Yesus menerima apa yang tersedia, mengucap syukur, membagikannya, dan meminta agar sisa makanan dikumpulkan supaya tidak terbuang (Yoh. 6:1–13).
Kesederhanaan Kristiani mencakup kemampuan menerima, bersyukur, berbagi, dan mencegah pemborosan.
Dalihan Na Tolu dan Tanggung Jawab Ekologis
Tungku memperlihatkan bahwa manusia bergantung pada alam. Batu berasal dari bumi. Kayu berasal dari tumbuhan. Api membutuhkan udara. Air dan hasil bumi menjadi bahan makanan.
Hubungan itu membuka kemungkinan untuk membaca Dalihan Na Tolu secara ekologis. Kesetaraan ekologis berarti manusia tidak menganggap alam tidak bernilai. Keseimbangan ekologis berarti sumber daya digunakan dengan memperhatikan kemampuan alam memulihkan diri. Kesederhanaan ekologis berarti manusia memenuhi kebutuhan tanpa mengikuti keinginan yang tidak terbatas.
Pasaribu, Sipahutar, dan Hutabarat membaca kembali Kejadian 1:26–28 melalui perspektif Batak Toba. Mereka mengkritik pemahaman tentang kekuasaan manusia yang membenarkan eksploitasi dan menawarkan paradigma yang memberi tempat bagi keberlanjutan seluruh ciptaan (Pasaribu et al., 2022).
Kajian terhadap puisi mistis Sitor Situmorang juga menemukan hubungan erat antara tanah, air, hutan, kepercayaan, dan kehidupan masyarakat Batak Toba. Alam dipahami bukan sebagai objek yang berdiri di luar manusia, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang harus dipelihara (Setiawan et al., 2024).
Dalam konteks ini, hamoraon tidak cukup dimaknai sebagai penumpukan harta. Kekayaan juga mencakup kesehatan, pengetahuan, tanah yang subur, air bersih, dan hubungan sosial yang baik.
Hagabeon tidak hanya berarti banyaknya keturunan. Hagabeon juga menyangkut keberlanjutan hidup anak dan cucu. Generasi sekarang tidak dapat mengaku memperjuangkan hagabeon jika meninggalkan tanah rusak dan air tercemar.
Hasangapon juga tidak hanya berasal dari jabatan, gelar, atau pesta besar.
Kehormatan sejati lahir dari integritas, pelayanan, kebijaksanaan, dan keberanian menjaga kehidupan.
Dialog antara Dalihan Na Tolu dan Injil tidak berarti bahwa adat Batak sama dengan ajaran Kristen. Dalihan Na Tolu lahir dalam sejarah masyarakat Batak, sedangkan Yesus hidup dalam kebudayaan Yahudi abad pertama.
Teologi kontekstual mempertemukan keduanya secara kritis. Kebudayaan menyediakan bahasa dan pengalaman. Injil memberi dasar untuk menerima nilai yang baik, mengkritik ketidakadilan, dan memperbarui praktik yang tidak lagi memelihara kehidupan.
Sipahutar menunjukkan bahwa konsep Batak Toba seperti marpadan dan maraleale dapat digunakan untuk membaca kembali narasi persahabatan Yonatan dan Daud. Pembacaan tersebut memperluas persahabatan dari hubungan pribadi menuju solidaritas antarkomunitas (Sipahutar, 2023).
Dalihan Na Tolu juga dapat menjadi jembatan dalam masyarakat majemuk. Zulkarnain, Simorangkir, dan Silitonga menempatkannya sebagai lokus teologi budaya yang dapat membantu membangun toleransi di tengah perbedaan agama, gender, status sosial, dan latar belakang masyarakat (Zulkarnain et al., 2023).
Keterbukaan tersebut perlu mengakui keragaman spiritual masyarakat Batak. Parmalim memiliki sistem teologi, ritual, tradisi lisan, dan ajaran etis yang menjadi bagian dari sejarah keagamaan Batak.
Kajian Sirait menunjukkan bahwa teologi Parmalim dibentuk melalui hubungan antara narasi budaya, upacara keagamaan, kehidupan sosial, dan pemahaman tentang Yang Ilahi (Sirait, 2024).
Bagi orang Kristen Batak, Kristus tetap menjadi dasar dalam menilai kebudayaan. Namun, keyakinan tersebut tidak boleh digunakan untuk merendahkan tradisi keagamaan lain.
Dalihan Na Tolu dapat memberi empat arah bagi ideologi Batak yang terbuka.
Pertama, kesetaraan yang menghormati martabat setiap manusia. Kedua, keseimbangan antara hak, tanggung jawab, kekuasaan, dan pelayanan. Ketiga, kesederhanaan yang menolak pemborosan dan gengsi berlebihan. Keempat, tanggung jawab ekologis yang melindungi tanah, air, hutan, Danau Toba, dan kehidupan generasi mendatang.
Dalihan Na Tolu tidak boleh disamakan secara langsung dengan Allah Tritunggal. Hula-hula, dongan tubu, dan boru merupakan posisi sosial yang dapat berubah sesuai hubungan kekerabatan.
Bapa, Anak, dan Roh Kudus bukan tiga peran sosial yang berpindah-pindah.
Titik dialognya bukan sekadar angka tiga. Titik dialognya terdapat pada kehidupan relasional, pelayanan, pemberian diri, dan tanggung jawab bersama.
Tungku akhirnya tidak hanya menjadi alat memasak. Tungku menjadi sekolah kehidupan. Ia mengajarkan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika setiap unsur menjalankan fungsi secara adil.
Dalam terang Kristus, api tungku tidak dinyalakan untuk membakar sesama. Api digunakan untuk mengolah berkat agar kehidupan dapat dipelihara dan dibagikan.
Dari tungku tersebut, ideologi Batak yang terbuka memperoleh arah yang jelas, berakar pada budaya, diterangi oleh Kristus, menghormati martabat manusia, hidup secukupnya, dan bertanggung jawab terhadap seluruh ciptaan.
Daftar Pustaka
Marpaung, M. B. (2023). Man and woman identity in Dalihan Na Tolu. International Journal of Humanity Studies, 6(2), 264–275. doi:10.24071/ijhs.v6i2.5519.
Nainggolan, R. H., Panjaitan, B., & Sitompul, A. S. (2023). Reconstruction of Dalihan Na Tolu in Batak culture towards a practical theology relevant to the task of the church. International Journal of Educational Research Excellence, 2(1), 126–138. doi:10.55299/ijere.v2i1.452.
Pasaribu, A. G., Sipahutar, R. C. H. P., & Hutabarat, E. H. (2022). Imago Dei and ecology: Rereading Genesis 1:26–28 from the perspective of Toba Batak in the ecological struggle in Tapanuli, Indonesia. Verbum et Ecclesia, 43(1), a2620. doi:10.4102/ve.v43i1.2620.
Setiawan, K. E. P., Suwandi, S., & Winarni, R. (2024). A representation of eco-theology in Toba Batak society, Indonesia. Journal of Law and Sustainable Development, 12(1), e2633. doi:10.55908/sdgs.v12i1.2633.
Sijabat, A., Festiyed, F., Asrizal, A., Razak, A., & Juanta, P. (2024). Developing textbook of basic science concepts based on ethnoscience Dalihan Natolu. Research and Development in Education, 4(1), 350–360. doi:10.22219/raden.v4i1.32201.
Simatupang, J. B. (2021). Perempuan dalam budaya adat Batak Toba. Jurnal Pendidikan Tambusai, 5(3), 10288–10296. doi:10.31004/jptam.v5i3.2612.
Sinaga, N. (2024). The exploration Batak Toba culture based on Schwartz Basic Values Theory: A descriptive analysis of cultural value Dalihan Na Tolu. Psikologia: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi, 19(2), 92–98. doi:10.32734/psikologia.v19i2.15632.
Sipahutar, R. C. H. P. (2023). Constructing a contextual theology of friendship: Re-reading the friendship narrative between Jonathan and David through the lens of a Batak Toba. Indonesian Journal of Theology, 11(1), 88–109. doi:10.46567/ijt.v11i1.326.
Sirait, S. (2024). Spiritual being in Parmalim theology of the Batak people in North Sumatra. HTS Teologiese Studies/Theological Studies, 80(1), a9167. doi:10.4102/hts.v80i1.9167.
Zulkarnain, Z., Simorangkir, J., & Silitonga, E. J. (2023). Teologi toleransi dalam Dalihan Na Tolu: Kajian teologi religionum menemukan nilai-nilai toleransi di dalam budaya Dalihan Na Tolu sebagai jembatan teologi dan budaya. Jurnal Teologi Cultivation, 7(1), 1–30. doi:10.46965/jtc.v7i1.2267.
(Red/*)


