BerandaPendidikanGok Dame Simbolon Perkuat PAK Kontekstual Berbasis Dalihan Na Tolu

Gok Dame Simbolon Perkuat PAK Kontekstual Berbasis Dalihan Na Tolu

Green Times | Medan :
Gok Dame Simbolon mengevaluasi penerapan Pendidikan Agama Kristen berbasis kearifan lokal dalam membangun identitas iman peserta didik yang inklusif di Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi, Senin 3/8/2026.

Kajian tersebut dituangkan dalam tesis berjudul “Evaluasi Model Pendidikan Agama Kristen Berbasis Kearifan Lokal dalam Membangun Identitas Iman yang Inklusif di SMP Negeri Parbuluan, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi.”

Penelitian Gok Dame Simbolon berangkat dari persoalan pembelajaran Pendidikan Agama Kristen atau PAK yang masih sering berfokus pada penyampaian pengetahuan Alkitab, penguasaan materi, dan pemenuhan tuntutan kurikulum.

Pola pembelajaran tersebut dinilai belum selalu mampu menghubungkan ajaran iman Kristen dengan pengalaman sosial dan budaya yang dihadapi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penyusunan tesis, Gok Dame Simbolon dibimbing oleh Dr. Hery Buha Manalu, M.Mis. dan Dr. Nixon Lumban Gaol, M.Pd.K. Adapun tim dosen penguji terdiri atas Dr. Adolfina E. Koamesakh, M.Th., M.Hum., Dr. Marojahan Hutabarat, M.Pd.K., dan Dr. Joy Sopater Wasiyono, ST, M.Th.

Pembelajaran PAK Belum Maksimal Menggunakan Budaya Lokal
Gok Dame Simbolon menempatkan budaya Batak Toba sebagai bagian penting dalam evaluasi pembelajaran PAK di SMP Negeri Parbuluan.

Peserta didik di wilayah tersebut tumbuh di tengah masyarakat yang masih memegang kuat nilai kekeluargaan, penghormatan terhadap kerabat, tanggung jawab sosial, dan kewajiban menjaga keharmonisan.

Nilai-nilai tersebut hidup dalam sistem budaya Batak Toba yang dikenal sebagai Dalihan Na Tolu.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa peserta didik telah memiliki pengetahuan tentang budaya Batak Toba. Namun, pengetahuan tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai bagian dari proses pembelajaran PAK.

Guru telah mengajarkan nilai kasih, penghormatan, toleransi, pengampunan, dan kehidupan yang rukun. Namun, nilai-nilai tersebut belum dikaitkan secara terencana dengan prinsip-prinsip Dalihan Na Tolu.

Kondisi itu menimbulkan jarak antara materi agama yang diterima di sekolah dan pengalaman budaya yang dijalani siswa dalam keluarga serta masyarakat.

Peserta didik dapat memahami ajaran Kristen secara teoritis. Namun, mereka belum selalu memperoleh kesempatan untuk melihat hubungan langsung antara ajaran tersebut dan tata kehidupan masyarakat Batak Toba.

Baca Juga  Forum Peduli Chapel USU Gelar Rapat di Medan, Bahas Dukungan Renovasi dan Penguatan Kebersamaan
Dalihan Na Tolu Menjadi Sumber Pembelajaran
Dalihan Na Tolu menjadi bagian utama dalam penelitian Gok Dame Simbolon. Sistem sosial ini terdiri atas tiga prinsip, yaitu somba marhula-hula, elek marboru, dan manat mardongan tubu.

Somba marhula-hula menekankan sikap hormat kepada pihak hula-hula. Elek marboru mengajarkan kasih, perhatian, pendekatan yang baik, serta tanggung jawab kepada pihak boru.

Sementara itu, manat mardongan tubu menekankan kehati-hatian, kesetaraan, dan tanggung jawab dalam menjaga hubungan dengan sesama anggota kelompok kekerabatan.

Ketiga prinsip tersebut dinilai memiliki hubungan dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam iman Kristen.

Penghormatan kepada orang lain sejalan dengan ajaran untuk menghormati orang tua dan sesama. Kasih serta perhatian selaras dengan perintah untuk saling mengasihi.

Sikap hati-hati dalam menjaga hubungan juga memiliki kaitan dengan ajaran Kristen mengenai persaudaraan, pengampunan, perdamaian, dan kehidupan yang rukun.

Karena itu, Dalihan Na Tolu tidak hanya dapat dipahami sebagai aturan adat.

Nilai-nilainya juga dapat digunakan sebagai sumber pendidikan karakter dan sarana untuk menjelaskan ajaran Kristen secara kontekstual.

Budaya lokal dapat menjadi jembatan agar peserta didik memahami hubungan antara iman dan kehidupan nyata.

Guru Membutuhkan Panduan yang Sistematis
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa guru telah memiliki pemahaman yang cukup baik mengenai pentingnya PAK kontekstual.
Guru menyadari bahwa pembelajaran agama tidak cukup hanya menyampaikan teks Alkitab. Ajaran iman juga perlu dikaitkan dengan pengalaman siswa, lingkungan sosial, perkembangan zaman, dan budaya setempat.

Namun, penelitian menemukan adanya kesenjangan antara pemahaman guru dan pelaksanaan pembelajaran di kelas.

Proses pembelajaran masih banyak menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan diskusi sederhana. Guru masih menjadi sumber utama informasi.

Pada saat yang sama, kesempatan siswa untuk menggali pengalaman, berdialog, melakukan refleksi, dan membangun pemahaman secara mandiri masih terbatas.

Guru juga belum memiliki panduan yang sistematis untuk menghubungkan materi PAK dengan budaya Batak Toba.

Baca Juga  Jangan Tertipu Nama Prodi, Periksa Kurikulum dan Mutu Kampus

Dalihan Na Tolu belum dicantumkan secara jelas dalam tujuan pembelajaran, materi, metode, kegiatan kelas, maupun sistem evaluasi.

Persoalan tersebut bukan terjadi karena guru menolak pembelajaran berbasis budaya lokal. Guru justru memahami pentingnya pendekatan kontekstual.

Namun, guru masih menghadapi keterbatasan referensi, pelatihan, kreativitas pedagogis, dan contoh model pembelajaran yang dapat diterapkan secara praktis di kelas.

Temuan ini menunjukkan perlunya peningkatan kompetensi guru serta penyusunan perangkat pembelajaran yang lebih terarah.

Perangkat tersebut harus membantu guru menggunakan budaya lokal sebagai sumber belajar tanpa mengurangi dasar teologis dalam Pendidikan Agama Kristen.

Membangun Identitas Iman yang Inklusif
Penelitian Gok Dame Simbolon juga mengevaluasi pembentukan identitas iman yang inklusif pada peserta didik.

Identitas iman yang inklusif tidak berarti melemahkan keyakinan Kristen atau menyamakan seluruh ajaran agama.

Identitas iman yang inklusif menunjukkan kemampuan peserta didik untuk memegang keyakinannya secara bertanggung jawab sekaligus menghormati orang lain.

Sikap tersebut terlihat melalui keterbukaan, toleransi, penolakan terhadap diskriminasi, kesediaan berdialog, dan kemampuan hidup damai di tengah perbedaan agama serta budaya.

Hasil wawancara memperlihatkan bahwa siswa secara umum telah menunjukkan sikap inklusif.

Mereka menghargai perbedaan, tidak membeda-bedakan teman, menghindari tindakan mengejek, menolak perundungan, serta mampu menjalin hubungan dengan siswa dari latar belakang yang berbeda.

Pembelajaran PAK telah berkontribusi dalam membentuk sikap tersebut melalui pengajaran mengenai kasih, pengampunan, penghormatan, dan hidup rukun.

Namun, pembentukan identitas iman masih berlangsung secara umum. Proses tersebut belum dirancang secara khusus dengan menggunakan pengalaman budaya peserta didik sebagai bagian dari strategi pembelajaran.

Integrasi Dalihan Na Tolu dinilai dapat memperkuat pembentukan identitas iman siswa.

Peserta didik tidak hanya mengetahui kewajiban untuk menghormati dan mengasihi sesama. Mereka juga dapat melihat bentuk konkretnya dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Model PAK-KI DNT Tawarkan Lima Tahap Pembelajaran
Penelitian Gok Dame Simbolon membahas Model PAK Kontekstual Integratif Berbasis Dalihan Na Tolu atau PAK-KI DNT.
Model ini menghubungkan ajaran iman Kristen dengan pengalaman budaya peserta didik melalui lima tahap pembelajaran.

Tahap pertama ialah orientasi kontekstual. Guru memulai pembelajaran melalui pengalaman nyata siswa, situasi keluarga, atau peristiwa sosial yang dekat dengan kehidupan mereka.

Baca Juga  SMP Kristen Johannes Prodromos Cetak Generasi Unggul dari Desa Perjuangan

Tahap kedua ialah eksplorasi nilai budaya. Siswa menggali makna somba marhula-hula, elek marboru, dan manat mardongan tubu melalui diskusi, cerita pengalaman, atau kajian kasus.

Tahap ketiga ialah integrasi iman dan budaya. Guru menghubungkan nilai-nilai Dalihan Na Tolu dengan ajaran Alkitab mengenai kasih, penghormatan, pelayanan, persaudaraan, dan perdamaian.

Tahap keempat ialah refleksi iman. Siswa menilai sikap dan tindakannya sendiri berdasarkan nilai yang telah dipelajari.

Refleksi dapat dilakukan melalui diskusi, pertanyaan terbuka, maupun tulisan pribadi.
Tahap kelima ialah aksi dan implementasi. Siswa menerapkan nilai pembelajaran melalui tindakan nyata.

Tindakan tersebut dapat berupa menghormati orang tua, membantu teman, menolak perundungan, tidak membeda-bedakan sesama, serta menjaga hubungan yang damai.

Mempertemukan Iman, Budaya, dan Pendidikan
Tesis Gok Dame Simbolon menegaskan bahwa pendidikan agama perlu hadir dalam konteks kehidupan peserta didik.

Budaya lokal tidak harus dipandang sebagai penghambat pembentukan iman. Budaya dapat menjadi rekan dialog apabila nilai-nilainya dikaji secara kritis berdasarkan ajaran Kristen.

Bagi guru, Model PAK-KI DNT menawarkan langkah yang lebih jelas untuk merancang pembelajaran kontekstual.

Bagi peserta didik, model tersebut membantu mereka memahami ajaran iman melalui pengalaman budaya yang telah dikenal sejak kecil.

Bagi sekolah, pendekatan ini dapat mendukung pendidikan karakter sekaligus menjaga nilai-nilai budaya yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat.

Penelitian ini berupaya mempertemukan iman, budaya, dan pendidikan dalam satu proses pembelajaran yang terarah.

Melalui PAK berbasis kearifan lokal, pembelajaran agama diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang mengetahui ajaran Kristen.

Pembelajaran juga perlu membentuk siswa yang mampu menghidupi kasih, menjaga hubungan, menghargai perbedaan, menolak diskriminasi, dan bertanggung jawab di tengah masyarakat yang majemuk. (Red/*)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read