BerandaGaya Hidup HijauGerakan Menuju Sejuta Biopori untuk Kesadaran Lingkungan

Gerakan Menuju Sejuta Biopori untuk Kesadaran Lingkungan

Green Times – Sahabat Lingkungan, Pernah kebayang nggak sih, kalau satu lubang kecil di tanah bisa punya dampak segede itu buat bumi kita? Gerakan Menuju Sejuta Biopori. Nah, itulah yang lagi digalakkan di Kota Pelajar, Yogyakarta! Beberapa waktu lalu, 100 orang keren dari berbagai latar belakang ngumpul di Sekolah Pascasarjana UGM.

Bukan buat rapat biasa, tapi buat mencanangkan Gerakan Menuju Sejuta Biopori! Keren, kan?

Kenapa Biopori Penting Banget?

Acara ini bukan cuma seremonial, lho. Ini adalah langkah nyata kita semua untuk bikin lingkungan jadi lebih baik.

Bayangin, gerakan biopori itu ibarat rumah kecil buat makhluk-makhluk tanah, kayak cacing, yang bantu bikin tanah kita makin subur dan gampang menyerap air. Jadi, pas hujan deras, air nggak langsung ngalir gitu aja dan bikin banjir. Airnya bisa terserap ke dalam tanah, mengisi cadangan air, dan bikin lingkungan kita jadi lebih hijau.

Kolaborasi Keren untuk Bumi

Hebatnya lagi, gerakan ini nggak jalan sendiri. Banyak banget pihak yang ikut gotong royong. Ada Bapak Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, yang langsung hadir. Terus, ada juga Prof. Kamir R. Brata, bapak penemu Lubang Resapan Biopori itu sendiri! Ini bukti kalau biopori memang solusi jitu buat masalah lingkungan kita.

Nggak cuma itu, acara ini juga hasil kolaborasi apik dari Pemerintah Kota Yogyakarta, Paguyuban Bank Sampah DIY, Lokalab, Perisai Bumi, CRCS UGM, P3Nusantara, PERSADA LANGGENG MAKMUR, dan Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa. Bahkan, pengurus Bank Sampah dari berbagai daerah di DIY, sampai generasi muda dari GKJ dan Orang Muda Katolik (OMK) ikut nimbrung lho! Ini menunjukkan kalau kepedulian sama untuk gerakan lingkungan itu bisa menyatukan banyak pihak, dari berbagai usia dan latar belakang.

Baca Juga  Hijaukan Sumut, Ekonomi Tumbuh, Alam Terjaga, Generasi Muda Berdaya"
Gerakan Menuju Sejuta Biopori untuk Kesadaran Lingkungan
Sahabat Lingkungan,
Pernah kebayang nggak sih, kalau satu lubang kecil di tanah bisa punya dampak segede itu buat bumi kita? Gerakan Menuju Sejuta Biopori/Foto :ist/greentimes

Mari kita sama-sama dukung gerakan biopori ini. Bayangin kalau di setiap rumah dan sudut kota ada biopori, pasti Yogyakarta makin asri dan bebas banjir! Jadi, siapkah kamu jadi bagian dari gerakan sejuta biopori?

Narasumber utama, Prof. Kamir dari IPB, turut memberikan dukungan dalam rangka mendukung gerakan sejuta biopori yang direncanakan akan dilaksanakan pada Oktober mendatang, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2025.

Ia mengingatkan bahwa praktik pembuatan biopori selama ini sering menyimpang dari prinsip dasar teknologi ini. Salah satu kekeliruan yang umum ditemukan adalah penggunaan paralon yang mahal dan tidak sesuai prinsip keanekaragaman hayati tanah. Ia menegaskan perlunya kembali ke prinsip dasar agar biopori dapat berfungsi secara efektif dan berkelanjutan.

Acara juga diwarnai pertunjukan wayang kristal karya Ki Dalang Sardiman Beib, yang menampilkan cerita dari bahan sampah botol plastik hasil daur ulang. Beib menyampaikan bahwa di masa lalu, limbah plastik tidak ada dan bahan organik menjadi satu-satunya bahan yang dapat terurai secara alami.

Ia memperingatkan bahaya mikroplastik yang saat ini mencemari lingkungan dan berpotensi masuk ke tubuh manusia, karena sistem pencernaan manusia dirancang untuk mencerna bahan organik, bukan non-organik.

Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyampaikan dukungannya sekaligus berbagi pengalaman selama tiga bulan menjabat. Ia mengakui bahwa tantangan utama yang dihadapi adalah pengelolaan sampah yang masih belum optimal.

Gerakan Menuju Sejuta Biopori untuk Kesadaran Lingkungan
Bayangin, gerakan biopori itu ibarat rumah kecil buat makhluk-makhluk tanah, kayak cacing, yang bantu bikin tanah kita makin subur dan gampang menyerap air./foto :ist/greentimes

“Saya baru tiga bulan menjabat sebagai Walikota, tapi sudah disuguhi berbagai tantangan sampah,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.

Ia menambahkan bahwa langkah-langkah yang telah dilakukan dalam 100 hari pertama pemerintahan, termasuk mengaitkan pengelolaan sampah dengan isu kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius.

Acara ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama dari seluruh peserta untuk berpartisipasi aktif dalam mengatasi masalah sampah di Yogyakarta. Dengan semangat kebersamaan dan kreativitas, diharapkan upaya ini mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat dan aksi nyata dalam menjaga lingkungan kota agar tetap bersih, sehat, dan ramah lingkungan. (HB)

Baca Juga  Balkon, Dari Tempat Menjemur Jadi Lumbung Mini Keluarga

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read