BMPTKKI Dorong Teologi yang Membumi
Green Times – BMPTKKI menegaskan pentingnya teologi yang tidak berhenti pada ruang pemikiran, tetapi hadir menjawab persoalan nyata manusia dan alam, Jakarta (17/4/2026). Gagasan itu mengemuka dalam 3rd International Conference on Theology, Humanity, and Christian Education (IConTHCE 2026) yang mengangkat tema “Integration Among Theology, Humanity and Nature”.

IConTHCE 2026 menyoroti bahwa hubungan antara teologi, kemanusiaan, dan alam bukanlah isu baru. Dalam pandangan Kristen, ketiganya sejak lama telah menjadi bagian dari refleksi iman. Teologi tidak hanya berbicara tentang Allah secara abstrak, tetapi juga menolong manusia memahami Allah, sesama, dan alam sebagai satu kesatuan dalam ciptaan.
Teologi, kemanusiaan, dan alam dipandang tidak dapat dipisahkan. Manusia diciptakan menurut gambar Allah dan diberi tanggung jawab untuk hidup dalam relasi yang benar dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan ciptaan. Karena itu, kerusakan hubungan di salah satu bagian akan berdampak pada keseluruhan tatanan hidup.
Kondisi dunia saat ini memperlihatkan bahwa berbagai krisis terjadi secara bersamaan. Krisis kemanusiaan, kerusakan lingkungan, dan tantangan iman muncul di tengah perubahan zaman yang sangat cepat. Situasi ini menunjukkan bahwa teologi perlu berdialog dengan realitas kehidupan, bukan berdiri sendiri di luar pergumulan dunia.
Dalam pandangan Kristen, akar dari disharmoni itu berkaitan dengan keberdosaan manusia. Dosa merusak relasi manusia dengan Allah, lalu meluas menjadi kerusakan relasi dengan sesama dan dengan alam. Akibatnya, kemanusiaan mengalami luka, sementara alam terus menerima tekanan dan kerusakan.
Humanity atau kemanusiaan karena itu dipahami sebagai wilayah yang terus membutuhkan restorasi. Pemulihan manusia tidak hanya menyangkut kehidupan rohani, tetapi juga menyentuh tanggung jawab moral, keadilan sosial, dan sikap terhadap lingkungan. Manusia yang dipulihkan seharusnya menghadirkan kehidupan yang lebih selaras dengan kehendak Allah.
Pemikiran G. Sudarmanto tentang orthodoxy dan orthopraksis menjadi salah satu sorotan penting dalam pembahasan ini. Iman yang benar tidak cukup hanya diakui dalam ajaran, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan yang benar. Dengan kata lain, pengenalan akan Allah harus terlihat dalam cara manusia hidup, memperlakukan sesama, dan menjaga alam ciptaan.
IConTHCE 2026 juga menghadirkan Adolfina Elisabeth Koamesakh dari STT Paulus Medan yang bertugas sebagai moderator. Membawa seminar ini menjadi lebih hidup, menuntun jalannya diskusi sehingga pembahasan tentang teologi, kemanusiaan, dan alam berlangsung terarah, mendalam, dan memberi ruang refleksi yang kuat bagi peserta seminar.

IConTHCE 2026 ingin mendorong lahirnya teologi yang membumi, teologi yang hidup, dan teologi yang memberi jawaban atas luka manusia serta jeritan alam. Konferensi ini menjadi ruang untuk menegaskan bahwa iman Kristen yang utuh harus hadir dalam kepedulian terhadap martabat manusia dan tanggung jawab terhadap kelestarian ciptaan.
Melalui pembahasan ini, BMPTKKI mengajak gereja, lembaga teologi, akademisi, dan orang percaya untuk melihat kembali panggilannya di tengah krisis zaman. Teologi, kemanusiaan, dan alam bukan tiga hal yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan yang harus dipahami secara utuh dalam terang iman Kristen. (Red/Hery Buha)


