Green Times – Peran generasi muda menjadi kunci. Mereka tidak hanya jadi konsumen, tetapi juga produsen nilai. Dengan kecakapan digital, kreativitas tinggi, dan kesadaran lingkungan yang terus tumbuh, Gen Z dan Milenial menjadi jembatan antara tradisi dan inovasi.
Mereka, Generasi Gen Z mendirikan bisnis kopi ramah lingkungan, memasarkan ulos lewat platform digital, dan menciptakan narasi-narasi yang kuat di media sosial. Yang lebih penting, mereka menanamkan bahwa gaya hidup hijau bukan sekadar pilihan etis, tapi juga cara untuk membangun ekonomi yang adil dan berdaya saing.
Saatnya Infrastruktur dan Kebijakan Mengikuti
Tentu, potensi ini harus didukung oleh ekosistem yang kondusif. Peran lembaga seperti Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan mitra pembangunan sangat penting dalam hal ini berkaitan kepada Generasi Gen z, antara lain:
Menyediakan akses pembiayaan hijau untuk UMKM kreatif dan pertanian berkelanjutan
Mengembangkan pelatihan kewirausahaan berbasis lingkungan
Memperluas pasar lewat promosi dan sertifikasi produk hijau
Memperkuat infrastruktur digital dan logistik ramah lingkungan
Jika ini dilakukan secara terintegrasi, Sumatera Utara tidak hanya menjadi penghasil kopi dan ulos terbaik, tapi juga mempersiapkan Generasi Gen z menjadi pemimpin dalam gerakan ekonomi hijau berbasis budaya di Indonesia.
Dari Alam, untuk Masa Depan
Ekonomi hijau di Sumut bukan sekadar impian atau slogan. Ia sedang tumbuh—pelan tapi pasti, dari tangan para petani kopi yang menjaga hutan, desainer muda yang menenun masa depan, hingga anak-anak muda yang menjadikan keberlanjutan sebagai identitas diri mereka.
Dari hutan kopi hingga catwalk wastra, Sumatera Utara bergerak menuju masa depan yang lebih sehat, kreatif, dan inklusif. Kini, saatnya kita semua menjadi bagian dari gerakan ini. Karena ekonomi yang hijau bukan hanya tentang lingkungan, tapi tentang hidup yang lebih adil, lestari, dan penuh makna. (Hery Buha Manalu)


