BerandaOpini & RefleksiKebangkitan Ekonomi Global Selatan: BRICS Jadi Motor Solidaritas Baru Dunia

Kebangkitan Ekonomi Global Selatan: BRICS Jadi Motor Solidaritas Baru Dunia

Oleh: Hery Buha Manalu

Pertemuan tingkat tinggi BRICS 2025 di Rio de Janeiro menjadi salah satu momen penting dalam sejarah kontemporer ekonomi ekonomi dunia. Di tengah ketidakpastian geopolitik, ketimpangan global, dan tekanan ekonomi yang makin membelit negara berkembang, forum ini hadir sebagai angin segar bagi kebangkitan Global Southbersama, sebuah istilah yang kini tak lagi merujuk pada “pinggiran dunia”, tetapi justru pada kekuatan baru yang tengah bangkit bersama.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartarto, dalam keterangannya di sela pertemuan menyampaikan pesan penting dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Presiden menekankan bahwa dunia kini tidak bisa lagi berjalan dengan arsitektur global yang usang. Prinsip multilateralism, yang menekankan kerja sama yang setara dan saling menghormati antarnegara—harus dihidupkan kembali, terutama di tengah dinamika global yang semakin multipolar.

Kebangkitan Ekonomi Global Selatan: BRICS Jadi Motor Solidaritas Baru Dunia
Dalam pertemuan tingkat tinggi BRICS 2025 yang digelar di Brasil, BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) telah menjelma dari sekadar kelompok negara berkembang menjadi forum strategis dengan visi global yang kuat. Dengan dukungan dari negara-negara mitra seperti Indonesia, BRICS kini dilihat sebagai motor penggerak solidaritas ekonomi negara-negara Global South/foto :ist/greentimes

BRICS dan Harapan Baru bagi Negara Berkembang

BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) telah menjelma dari sekadar kelompok negara berkembang menjadi forum strategis dengan visi global yang kuat. Dengan dukungan dari negara-negara mitra seperti Indonesia, BRICS kini dilihat sebagai motor penggerak solidaritas ekonomi negara-negara Global South.

Presiden Prabowo menekankan bahwa kerja sama ekonomi di antara negara berkembang bukan hanya soal perdagangan atau investasi, tetapi soal bagaimana bersama-sama membentuk arsitektur ekonomi dunia yang lebih adil dan tidak timpang. Indonesia mendukung penguatan peran New Development Bank (NDB), lembaga keuangan BRICS yang menjadi simbol pembiayaan alternatif bagi negara berkembang.

“Ini kemitraan ekonomi negara berkembang menjadi sangat penting dan diharapkan bahwa pemanfaatan dari New Development Bank bisa ditingkatkan,” ujar Airlangga.

NDB, Alternatif Adil untuk Pembiayaan Pembangunan

New Development Bank hadir sebagai respons terhadap ketidakpuasan banyak negara berkembang terhadap lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Syarat-syarat yang ketat, skema pinjaman yang kerap menjerat utang jangka panjang, hingga dominasi kepentingan negara-negara maju dalam proses pengambilan keputusan telah membuat banyak negara selatan mencari jalan baru.

Baca Juga  Rp200 Triliun Belum Cukup Mengatasi Rapuhnya Ekonomi Indonesia di Tengah Stagflasi, Growth Trap, dan Tantangan BRICS-AI

NDB berbeda. Ia didesain dengan semangat kesetaraan, mendanai proyek-proyek yang mendukung green economy, infrastruktur berkelanjutan, serta transformasi sosial. Hingga 2025, terdapat lebih dari 120 proyek senilai USD 39 miliar yang didanai NDB—mulai dari proyek energi bersih, transportasi ramah lingkungan, hingga pembangunan digital di negara-negara anggota.

Indonesia pun menyatakan kesiapannya untuk bergabung secara aktif sebagai anggota dan mitra strategis. Bagi Indonesia, akses ke NDB membuka peluang pembiayaan proyek-proyek pembangunan yang selaras dengan agenda transisi energi hijau dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Tak hanya itu, Presiden Prabowo juga mengusulkan gagasan baru yang sangat relevan dengan semangat kerja sama Selatan-Selatan: South-South Economic Compact. Inisiatif ini bertujuan memperkuat integrasi ekonomi antarnegara Global South, memperluas akses pasar, dan menciptakan rantai pasok baru yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada negara-negara utara.

Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir menjelaskan bahwa Indonesia ingin BRICS menjadi lokomotif integrasi ekonomi Selatan. Dengan penguatan konektivitas perdagangan, transfer teknologi, dan pembiayaan yang inklusif, negara-negara Global South akan semakin berdaya dan mampu membangun pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan mandiri.

“Tujuannya agar negara-negara BRICS menjadi motor untuk memberikan akses yang lebih luas kepada negara-negara global south untuk perdagangan, dan juga lebih mengintegrasikan perekonomiannya ke dalam supply chain global,” jelas Wamenlu Tata.

Momentum Kebangkitan dan Reposisi Global South

Apa yang ditunjukkan oleh Indonesia di panggung BRICS 2025 bukan sekadar kehadiran diplomatik, melainkan pernyataan visi: bahwa Global South tidak lagi menunggu arahan dari utara, tetapi telah siap menjadi arsitek masa depan dunia. Dengan semangat kolektif, solidaritas, dan keberanian untuk merumuskan jalan sendiri, negara-negara selatan kini menjadi pusat gravitasi baru ekonomi global.

Baca Juga  Cerahkan Masa Depan, Peran Gen Z Mendorong Transisi Ekonomi Berkelanjutan

Indonesia, dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan posisi strategis sebagai negara demokrasi besar, memiliki peran penting dalam memperkuat jaringan ini. Melalui partisipasi aktif dalam BRICS dan usulan konkret seperti South-South Economic Compact, Indonesia memberi sinyal jelas bahwa masa depan dunia bukan hanya milik segelintir negara maju, tetapi milik semua yang mau bergerak bersama, dari selatan dunia, untuk dunia.

Kebangkitan Global South bukan sekadar narasi alternatif, tapi kenyataan baru yang sedang kita saksikan. Dan BRICS adalah kendaraannya.

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read