BerandaOpini & RefleksiFamangöli dan Kepemimpinan Partisipatif, Dua Nilai yang Saling Menguatkan dalam Budaya Nias

Famangöli dan Kepemimpinan Partisipatif, Dua Nilai yang Saling Menguatkan dalam Budaya Nias

Oleh : Zerlina Giawa, Mahasiswa STT Paulus Medan, Prodi Pendidikan Agama Kristen

Dalam budaya Nias, ada istilah Famangöli dan ada semangat “sifatano luo” (gotong royong) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Nilai ini bukan hanya sekadar bekerja bersama untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga mengekspresikan rasa persaudaraan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial yang dalam. Dalam setiap kegiatan masyarakat mulai dari membangun rumah, memanen hasil bumi, hingga menyiapkan pesta adat (owasa) semangat sifatano luo selalu menjadi dasar dari keteraturan sosial dan solidaritas komunal.

Namun, semangat gotong royong ini tidak berjalan sendiri. Ia selalu disertai oleh kepemimpinan partisipatif, di mana pemimpin tidak memerintah dari atas, melainkan berjalan bersama masyarakatnya. Dalam bahasa Nias, pemimpin semacam ini disebut sihöli ba dödö orang yang “memimpin dengan hati”. Ia bukan sekadar pemberi perintah, tetapi penggerak dan penginspirasi yang menuntun komunitas menuju tujuan bersama dengan penuh kebijaksanaan dan kasih.

Keduanya famangöli dan kepemimpinan partisipatif saling menguatkan seperti dua sisi dari satu mata uang. Gotong royong tanpa kepemimpinan dapat kehilangan arah dan tujuan, sedangkan kepemimpinan tanpa semangat gotong royong berisiko menjadi otoriter, menindas, dan merusak solidaritas. Dalam harmoni keduanya, kita menemukan dasar kehidupan sosial yang kokoh: persatuan, tanggung jawab bersama, dan keadilan relasional.

1. Sifatano luo sebagai Wujud Solidaritas Sosial

Dalam masyarakat Nias tradisional, sifatano luo adalah wujud nyata dari nilai kasih dan persaudaraan. Misalnya, ketika seorang warga hendak membangun rumah (omo hada), seluruh komunitas akan datang membantu ada yang membawa bahan bangunan, ada yang menyiapkan makanan, ada pula yang memberikan tenaga. Semua dilakukan tanpa pamrih, karena mereka percaya bahwa “hidup bersama lebih kuat daripada hidup sendiri.”

Pepatah Nias mengatakan:
“Orahua ba mböwö, ndrao dödö ba dödö”
(“Jika tangan bersatu, pekerjaan menjadi ringan; jika hati bersatu, kehidupan menjadi damai.”)
Gotong royong di Nias bukan sekadar kerja fisik, tetapi juga manifestasi dari nilai rohani kasih yang diwujudkan dalam tindakan, saling menopang dalam kebutuhan, dan berbagi berkat dalam kebersamaan. Semangat ini membentuk masyarakat yang tangguh, tidak mudah tercerai-berai oleh kepentingan pribadi.

Baca Juga  Makna Kehidupan yang Tak Bisa Diulang

2.Kepemimpinan Partisipatif, Memimpin dengan Hati, Bukan Kekuasaan

Dalam tradisi Nias, seorang pemimpin adat (balugu atau si’ulu) bukan hanya tokoh yang dihormati karena kekuasaannya, tetapi karena kebijaksanaan, kerendahan hati, dan kemampuannya melibatkan semua orang dalam proses pengambilan keputusan. Ia mendengarkan suara masyarakat, menghormati para sesepuh, dan memastikan setiap keputusan membawa kesejahteraan bersama (fahuwusa sifao faomusododo, hidup damai bersama).

Kepemimpinan partisipatif dalam budaya Nias menekankan bahwa pemimpin sejati tidak berdiri di atas rakyatnya, tetapi di tengah mereka. Ia hadir untuk melayani, bukan dilayani. Dalam setiap kegiatan gotong royong, pemimpin menjadi teladan yang bekerja bersama warga mengangkat batu, menebang kayu, atau menyiapkan makanan. Kehadirannya memberi arah dan semangat, bukan tekanan. Kepemimpinan semacam ini sangat relevan dengan prinsip soft skill modern: kemampuan kolaboratif, komunikasi efektif, dan empati sosial. Ia menumbuhkan rasa memiliki bersama, karena setiap anggota masyarakat merasa dilibatkan dan dihargai.

3. Integrasi Nilai, Kekuatan Sosial dan Spiritualitas Komunal

Ketika nilai sifatano luo (gotong royong) berpadu dengan kepemimpinan partisipatif, lahirlah kekuatan sosial yang luar biasa. Masyarakat menjadi kompak, pekerjaan berat terasa ringan, dan keputusan bersama dijalankan dengan sukacita. Dalam konteks pendidikan dan pelayanan, sinergi ini mengajarkan bahwa kolaborasi dan kepemimpinan yang terbuka adalah kunci keberhasilan. Seorang mahasiswa, pelayan gereja, atau pemimpin komunitas dapat belajar dari nilai-nilai ini bahwa bekerja bersama dengan kasih dan kerendahan hati jauh lebih kuat daripada bekerja sendiri dengan ambisi pribadi.

Budaya Nias menegaskan bahwa “hidup adalah milik bersama.” Keberhasilan satu orang tidak pernah terlepas dari dukungan komunitasnya. Oleh karena itu, membangun soft skill dengan dasar gotong royong dan kepemimpinan partisipatif berarti juga membangun karakter yang mencerminkan iman, kasih, dan tanggung jawab sosial.

Baca Juga  Gen Z dan Daya Saing Ekonomi Hijau, Saatnya Anak Muda Ambil Peran!

B. Refleksi Berdasarkan Alkitab

Nilai famangöli dan kepemimpinan partisipatif bukan hanya warisan budaya, tetapi juga selaras dengan prinsip-prinsip iman Kristen. Alkitab sendiri menegaskan pentingnya kerjasama dan kepemimpinan yang melayani.

1. Gotong Royong, Pengkhotbah 4:9–10
“Berdua lebih baik daripada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya; tetapi celakalah orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!”

Ayat ini menggambarkan makna sifatano luo: hidup bersama memberi kekuatan. Tuhan menciptakan manusia bukan untuk hidup sendiri, melainkan saling menolong dan menopang.

2. Kepemimpinan Partisipatif, Markus 10:43–45
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu; dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.”

Yesus menegaskan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kerendahan hati dan pelayanan, bukan dari kekuasaan. Pemimpin yang melibatkan dan menghargai sesamanya mencerminkan teladan Kristus.

3. Kesatuan dalam Kristus, 1 Korintus 12:12–14
“Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, tetapi semua anggota itu merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.”
Seperti tubuh yang terdiri dari banyak bagian namun bekerja sebagai satu kesatuan, demikian juga masyarakat atau gereja dipanggil untuk hidup dalam semangat famangöli: saling melengkapi, saling melayani, dan bergerak menuju tujuan bersama dalam kasih.

C. Penutup Reflektif

Budaya Nias mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada individu, tetapi pada kebersamaan yang dipimpin oleh kasih dan kebijaksanaan.

Semangat sifatano luo menanamkan nilai solidaritas dan kesetaraan, sementara kepemimpinan partisipatif menumbuhkan rasa tanggung jawab dan arah moral dalam komunitas. Ketika dua nilai ini bersatu, muncullah komunitas yang hidup dalam kasih, berlandaskan keadilan, dan berakar dalam iman. Di sinilah kebijaksanaan lokal dan nilai-nilai Kristiani bertemu dalam tindakan kasih yang bekerja bersama, dalam kepemimpinan yang melayani, dan dalam semangat membangun kehidupan bersama demi kemuliaan Tuhan. (Red/*)

Baca Juga  Kebangkitan Ekonomi Global Selatan: BRICS Jadi Motor Solidaritas Baru Dunia

Materi ini adalah hasil diskusi dan Pengembangan materi Mata kuliah Soft Skill Keterampilan Berbasis Kearifan Lokal

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read