BerandaOpini & RefleksiSatu Tumbler dan Doa untuk Negeri

Satu Tumbler dan Doa untuk Negeri

Oleh : Hery Buha Manalu

Ada kalanya sebuah negeri tidak rusak oleh bencana besar saja, melainkan oleh kebiasaan kecil yang dibiarkan berulang, sampah yang dibuang sembarangan. Pastik sekali pakai yang dianggap wajar. Hidup praktis yang makin memanjakan diri, tetapi pelan-pelan menggerus tanggung jawab. Di ruang publik, orang berbicara tentang masa depan bangsa, tentang generasi emas, tentang pembangunan dan kemajuan. Namun di saat yang sama, kesadaran paling dasar untuk merawat lingkungan hidup justru sering tertinggal. Negeri ini tidak hanya membutuhkan pembangunan. Negeri ini membutuhkan pemulihan.

Inge Halim dari MPK Pusat layak dicatat. Gerakan tumbler ini memaknai agar siswa dan pelajar Kristen hidup sehat, mengurangi sampah plastik, dan membangun kesadaran lingkungan.
Inge Halim dari MPK Pusat layak dicatat. Gerakan tumbler ini memaknai agar siswa dan pelajar Kristen hidup sehat, mengurangi sampah plastik, dan membangun kesadaran lingkungan/foto :Greentimes

Karena itu, ketika Perayaan Paskah Majelis Pendidikan Kristen Wilayah Sumatera Utara-Aceh Tahun 2026 mengusung semangat “Kristus Bangkit, Generasi Muda Bersinar”, pesan itu dapat dibaca lebih dalam sebagai seruan, pulihkan kembali negeri kami. Seruan ini bukan semata-mata doa liturgis. Ia adalah panggilan untuk memperbaiki cara hidup. Dan menariknya, panggilan sebesar itu justru diterjemahkan melalui simbol yang sangat sederhana, satu tumbler untuk satu siswa.

Di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumatera Utara, Medan, Sabtu, 11 April 2026, sekitar 1.200 peserta hadir. Sebanyak 800 di antaranya siswa, 100 guru, dan selebihnya tokoh Kristen, unsur sinode, tokoh masyarakat, serta para undangan. Subtema yang diangkat ialah menjadi generasi muda yang hidup dalam kebenaran untuk menjadi terang bagi dunia. Kalimat ini tidak boleh berhenti sebagai hiasan acara. Menjadi terang bagi dunia berarti berani mulai dari hal yang nyata. Dan hal yang nyata sering kali dimulai dari kebiasaan yang kecil.

Di situlah makna satu tumbler untuk satu siswa menjadi penting. Ini bukan sekadar bingkisan Paskah. Ini adalah pesan pendidikan. Seorang siswa yang membawa tumbler setiap hari sedang diajak hidup sehat. Ia juga sedang diajar untuk tidak bergantung terus-menerus pada botol dan gelas plastik sekali pakai. Lebih dari itu, ia sedang dilatih untuk sadar bahwa tindakannya memiliki dampak. Bahwa pilihan kecil dalam hidup sehari-hari ikut menentukan wajah lingkungan dan masa depan negeri.

Baca Juga  Komunikasi yang Efektif

Negeri ini tidak akan pulih hanya oleh pidato yang panjang. Negeri ini tidak akan pulih hanya oleh seremoni, slogan, atau doa yang indah. Pemulihan selalu menuntut pertobatan dalam tindakan. Dalam konteks ekologis, pertobatan itu berarti mengubah pola hidup yang rakus menjadi pola hidup yang bertanggung jawab. Dari budaya membuang menjadi budaya merawat. Dari kebiasaan instan menjadi kebiasaan sadar. Dari sikap masa bodoh menjadi sikap memelihara.

Itulah sebabnya pesan yang disampaikan secara terpisah disela acara ini kepada Greentimes.id, Inge Halim dari MPK Pusat layak dicatat. Gerakan tumbler ini memaknai agar siswa dan pelajar Kristen hidup sehat, mengurangi sampah plastik, dan membangun kesadaran lingkungan. Secara terpisah, RE Nainggolan dan Dr. Adolfina Elisabeth Koamesakh, panitia acara Paskah MPKW se Sumut -Aceh juga menegaskan bahwa pembagian satu tumbler untuk satu siswa bukan hadiah biasa, melainkan ajakan untuk membudayakan hidup sehat, menjaga kebersihan, dan mengurangi sampah plastik.

Kata pentingnya adalah membudayakan. Sebab kerusakan negeri ini sesungguhnya juga merupakan hasil dari budaya. Budaya abai. Budaya serba mudah. Budaya memakai lalu membuang. Budaya menganggap urusan kebersihan dan lingkungan sebagai hal kecil. Jika negeri ini hendak dipulihkan, maka yang harus dibangun bukan hanya program, tetapi budaya baru. Dan budaya baru tidak lahir dari teori. Ia lahir dari kebiasaan yang diulang dengan sadar.

Dalam terang iman Kristen, seruan “pulihkan kembali negeri kami” memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar harapan sosial. Pemulihan adalah bahasa teologis. Allah yang membangkitkan Kristus adalah Allah yang memulihkan. Paskah adalah kabar tentang hidup baru, tentang harapan yang tidak mati, tentang kemungkinan bagi sesuatu yang rusak untuk dibaharui. Maka jika gereja, sekolah, dan komunitas Kristen merayakan Paskah, perayaan itu seharusnya tidak berhenti pada altar. Ia harus menjalar ke ruang kelas, ke kebiasaan siswa, ke cara sekolah membentuk disiplin, dan ke cara warga merawat bumi sebagai rumah bersama.

Baca Juga  Komunikasi, Jembatan Kehidupan, Kunci Harmoni, dan Jalan Menuju Kesuksesan

Khotbah Bambang Yonan dari GBI Rumah Persembahan Medan mengingatkan tentang pengampunan, rasa syukur, dan penghargaan atas karya Tuhan Yesus di kayu salib. Tetapi rasa syukur yang sejati tidak cukup diucapkan. Syukur harus dihidupi. Dan salah satu bentuk hidup yang bersyukur ialah berhenti merusak apa yang telah Tuhan percayakan. Negeri ini, tanah ini, lingkungan ini, bukan tempat sampah dari kebiasaan manusia yang tidak mau berubah. Ia adalah ruang hidup yang harus dijaga.

Karena itu, satu tumbler untuk satu siswa dapat dibaca sebagai tindakan kecil yang memuat visi besar, memulihkan negeri melalui generasi muda. Anak-anak sekolah harus dididik bukan hanya menjadi pintar, tetapi juga menjadi sadar. Mereka harus belajar bahwa iman berkaitan dengan kebersihan, dengan kesehatan, dengan disiplin, dengan tanggung jawab sosial, dan dengan kepedulian terhadap ciptaan. Jika generasi muda hanya dibekali pengetahuan tanpa kebiasaan yang benar, negeri ini akan terus memiliki orang pandai yang gagal merawat masa depannya sendiri.

Tentu, satu tumbler tidak akan serta-merta menyembuhkan semua luka negeri ini. Ia tidak akan sendirian menyelesaikan persoalan sampah, krisis lingkungan, atau budaya abai yang sudah lama mengakar. Tetapi pemulihan memang hampir selalu dimulai dari tanda-tanda kecil. Dari langkah yang sederhana. Dari disiplin yang tampak sepele. Dari keputusan untuk tidak lagi hidup sembarangan.

Akhirnya, seruan “pulihkan kembali negeri kami” tidak boleh hanya menjadi doa yang dinaikkan dengan mata tertutup. Ia harus menjadi keputusan yang dijalani dengan mata terbuka. Negeri ini dipulihkan ketika generasi mudanya belajar hidup benar. Negeri ini dipulihkan ketika sekolah tidak hanya mengajar, tetapi membentuk watak. Negeri ini dipulihkan ketika iman tidak berhenti pada kata-kata, melainkan menjadi kebiasaan yang menjaga kehidupan.

Baca Juga  “Mendengar dengan Hati, Bicara dengan Kasih, Keterampilan Komunikasi Interpersonal bagi Calon Pemimpin Kristen”

Dan barangkali, pemulihan itu memang bisa mulai dari sebuah benda kecil yang dibawa seorang siswa ke sekolah, sebuah tumbler, dan kesadaran baru bahwa merawat bumi juga bagian dari memulihkan negeri. Kristus Bangkit, Generasi Muda Bersinar”. Red/*)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read