BerandaOpini & RefleksiGen Z dan Daya Saing Ekonomi Hijau, Saatnya Anak Muda Ambil Peran!

Gen Z dan Daya Saing Ekonomi Hijau, Saatnya Anak Muda Ambil Peran!

Oleh : Hery Buha Manalu

Di tengah tantangan iklim global dan perubahan perilaku pasar dunia, Sumatera Utara mulai menyadari satu hal penting, masa depan ekonomi tidak bisa lagi bertumpu pada cara-cara lama. Dunia butuh pertumbuhan, tapi juga keberlanjutan. Dan dari sanalah lahir konsep ekonomi hijau, model pembangunan yang peduli pada lingkungan, tapi tetap memberi ruang bagi bisnis, inovasi, dan kesejahteraan.

Menariknya, Sumut punya semua syarat untuk jadi pemain utama dalam ekonomi hijau. Dari kopi organik di dataran tinggi Mandailing, energi surya di pesisir Tapanuli, kain ulos ramah lingkungan dari Tanah Batak, hingga potensi hutan karbon dan ekowisata Danau Toba, semuanya adalah sumber daya strategis yang bisa diolah dengan cara berkelanjutan. Sumut tak hanya kaya, tapi juga punya peluang besar untuk kompetitif secara global.

Namun potensi ini tidak akan maksimal jika tidak ditopang oleh generasi muda yang visioner dan inovatif.

Gen Z, Mesin Penggerak Ekonomi Hijau

Generasi Z anak muda berusia 15–27 tahun saat ini, tumbuh di tengah era digital, globalisasi, dan krisis iklim. Mereka bukan generasi pasif, melainkan kritis, kreatif, dan sadar akan pentingnya keberlanjutan. Mereka adalah pembeli cerdas yang memilih produk ramah lingkungan. Mereka juga pencipta tren yang bisa mengangkat brand lokal dengan satu unggahan Instagram atau TikTok.

Lebih dari itu, banyak dari mereka sudah mulai menciptakan solusi konkret, bisnis daur ulang, kopi berbasis agroforestry, startup energi terbarukan, fashion upcycle, dan pertanian organik. Bagi mereka, ekonomi hijau bukan sekadar ide idealis, tapi peluang bisnis, gaya hidup, dan panggilan moral.

Sumut, Memanfaatkan Momentum Ini

Agar ekonomi hijau di Sumut benar-benar berdaya saing, perlu sinergi antara potensi alam dan daya cipta anak muda. Ini artinya:

Baca Juga  Komunikasi Verbal, Nonverbal, dan Komunikasi Lintas Budaya

Mengedukasinya lewat kurikulum sekolah dan kampus yang mengenalkan green economy secara aplikatndukung inkubasi bisnis hijau lewat dana bergulir, pelatihan, dan mentoring.embuka akses pasar ekspor hijau, dengan membantu UMKM menembus sertifikasi lingkungan dan digitalisasi.

Kolaborasi lintas sektor, pemda, swasta, NGO, dan komunitas muda harus duduk bersama membuat roadmap ekonomi hijau.

Peluang Sumut di Masa Depan

Beberapa sektor yang punya peluang besar didorong sebagai champion ekonomi hijau Sumut antara lain:

Pertanian berkelanjutan (kopi, kakao, rempah, hortikultura)

Industri kreatif ramah lingkungan (ulos, kerajinan, busana etnik modern)

Energi terbarukan (surya, air, biomassa)

Ekowisata dan wisata edukatif berbasis budaya dan lingkungan

Ekonomi sirkular (daur ulang, pengelolaan sampah terpadu)

Semua sektor ini membutuhkan energi, semangat, dan ide-ide baru dari Gen Z.M

Masa Depan Ada di Tangan Gen Z

Ekonomi hijau bukan sekadar strategi pembangunan, tapi cara baru menjalani hidup dan menjalankan bisnis. Dan mereka adalah ujung tombaknya.

Sumut punya potensi. Generasi yang punya energi. Jika disatukan, kita bukan hanya akan punya ekonomi yang kuat, tapi juga berdaya saing global, inklusif, dan ramah bumi.

Mari dorong lebih banyak mereka ini di Sumut menjadi petani kopi visioner, desainer wastra ramah lingkungan, founder startup energi bersih, pengusaha kuliner organik, dan influencer gaya hidup berkelanjutan.

Karena dunia tidak butuh generasi yang hanya melihat. Dunia butuh generasi yang bergerak. Dan Sumut siap jika generasi ini memimpinnya.

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read