Green Times – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia justru mencatat kabar baik. Neraca perdagangan nasional pada Mei 2025 mencatat surplus gemilang sebesar 4,30 miliar dolar AS, melesat jauh dibandingkan dengan surplus bulan sebelumnya yang hanya 0,16 miliar dolar AS.
Kabar ini disampaikan oleh Ramdan Denny Prakoso dari Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) melalui siaran pers resmi. Ia menyebutkan bahwa data Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi acuan utama dalam pernyataan tersebut.
“Bank Indonesia memandang surplus neraca perdagangan ini sebagai sinyal positif yang akan memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” ujar Ramdan (2/7/2025)
Tak hanya angka yang membaik, tetapi struktur surplus juga menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia yang semakin kokoh. Surplus tersebut ditopang kuat oleh neraca perdagangan nonmigas yang tumbuh signifikan.
Lebih rinci, neraca perdagangan nonmigas mencatat surplus sebesar 5,83 miliar dolar AS pada Mei 2025. Angka ini tidak lepas dari lonjakan ekspor nonmigas yang mencapai 23,50 miliar dolar AS. Ini menjadi penanda bahwa mesin ekspor nasional masih hidup dan bahkan makin kencang.
“Kinerja ekspor nonmigas ini terutama ditopang oleh produk berbasis sumber daya alam seperti lemak dan minyak nabati, logam mulia serta perhiasan, dan juga produk manufaktur seperti besi dan baja,” jelas Ramdan.
Artinya, Indonesia tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga mulai menunjukkan nilai tambah dari sektor manufaktur. Ini merupakan langkah penting menuju transformasi ekonomi yang lebih bernilai tinggi.
Dalam peta ekspor, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi tiga pasar utama tujuan ekspor Indonesia. Ketiganya menyerap produk-produk unggulan nasional, sekaligus memperlihatkan bahwa posisi Indonesia dalam rantai pasok global masih relevan dan dibutuhkan.
Hal ini sekaligus menjadi peringatan bagi pemerintah untuk terus menjaga hubungan dagang strategis dengan negara-negara tersebut, terutama dalam menghadapi dinamika politik dan ekonomi global yang kerap berubah cepat.
Namun, di balik pencapaian surplus nonmigas yang patut dibanggakan, ada catatan yang perlu menjadi perhatian: defisit neraca perdagangan migas justru membengkak. Pada Mei 2025, defisit ini tercatat sebesar 1,53 miliar dolar AS, meningkat dibanding bulan sebelumnya.
Penyebabnya cukup klasik—impor migas meningkat sementara ekspor migas mengalami penurunan. Situasi ini menunjukkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap energi impor masih tinggi.
“Ini menjadi pekerjaan rumah yang tak boleh diabaikan. Ketahanan energi menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan eksternal Indonesia,” ungkap Ramdan.
Bank Indonesia, Sinergi Jadi Kunci
Menyikapi kondisi tersebut, Bank Indonesia menyatakan akan terus memperkuat sinergi kebijakan bersama pemerintah dan otoritas lain. Tujuannya jelas: menjaga daya tahan ekonomi nasional, khususnya dari tekanan eksternal seperti gejolak harga komoditas global, pelemahan mitra dagang utama, maupun tekanan geopolitik internasional.
Sinergi ini akan melibatkan langkah-langkah strategis lintas sektor, mulai dari penguatan industri pengolahan dalam negeri, efisiensi impor, hingga perluasan pasar ekspor nontradisional yang lebih beragam dan tangguh.
Surplus dagang yang tinggi ini sesungguhnya bukan hanya soal angka. Ini adalah peluang emas untuk memperkuat struktur ekonomi nasional.
Para pelaku industri di dalam negeri perlu terus didorong agar tidak hanya menjadi pengekspor bahan mentah, tetapi juga produsen barang jadi dan setengah jadi yang kompetitif di pasar dunia. Kenaikan ekspor produk logam dan manufaktur pada Mei 2025 menunjukkan tren ini sudah dimulai, dan harus terus diperkuat.
Pemerintah juga harus menjadikan surplus ini sebagai bantalan fiskal dan modal pembiayaan pembangunan sektor-sektor strategis, seperti pertanian, teknologi industri, dan energi baru terbarukan.
Optimisme, Tapi Tetap Waspada
Surplus perdagangan sebesar 4,30 miliar dolar AS di bulan Mei 2025 adalah capaian yang patut disyukuri, karena menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih berjalan di jalur yang sehat. Namun, keberhasilan ini tidak boleh membuat kita lengah.
Masih banyak pekerjaan rumah, terutama di sektor migas dan diversifikasi pasar. Ke depan, tantangan akan semakin kompleks, dan dibutuhkan respons kebijakan yang tanggap, kolaboratif, dan berpihak pada daya saing nasional.
“Momentum surplus dagang ini adalah kesempatan untuk memperkuat ekonomi yang lebih berdaulat, tangguh, dan inklusif,” tutup Ramdan. (HB)


