Oleh : Hery Buha Manalu
Di tengah dinamika global yang sarat tantangan, ekonomi Indonesia menunjukkan sinyal ketahanan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Bank Indonesia, melalui siaran pers yang disampaikan oleh Ramdan Denny Prakoso dari Departemen Komunikasi, merilis data terkini terkait indikator stabilitas nilai tukar Rupiah serta pergerakan modal asing. Data ini menunjukkan bahwa meskipun tekanan eksternal masih ada, perekonomian nasional tetap solid dan mampu menarik kembali kepercayaan investor global.
Pada Rabu, 25 Juni 2025, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS ditutup pada level Rp16.285 per dolar AS (kurs bid). Angka ini mencerminkan tren stabilisasi setelah sebelumnya Rupiah sempat tertekan akibat penguatan dolar dan ketidakpastian global. Menariknya, pada pagi hari Kamis, 26 Juni 2025, Rupiah dibuka menguat ke level Rp16.270, menandakan respons positif pasar terhadap perkembangan ekonomi nasional maupun internasional.
Stabilnya Rupiah ini juga tak lepas dari pelemahan indeks dolar (DXY) yang turun ke level 97,68, serta penurunan yield US Treasury (UST) 10 tahun menjadi 4,291%. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS menurun, investor global cenderung mencari peluang di negara berkembang yang menawarkan imbal hasil menarik—termasuk Indonesia.
Seiring dengan penguatan Rupiah, yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun juga mengalami penurunan. Pada Rabu, 25 Juni 2025, yield SBN turun ke 6,67%, dan keesokan harinya kembali turun menjadi 6,63%. Penurunan yield ini biasanya mencerminkan meningkatnya permintaan investor terhadap obligasi negara karena dinilai aman dan menjanjikan.
Tren ini menunjukkan bahwa pasar mulai melihat prospek ekonomi Indonesia dengan lebih optimis. Di tengah ketidakpastian global, SBN tetap menjadi pilihan menarik bagi investor institusional, karena dinilai memberikan keseimbangan antara risiko dan imbal hasil.
Selama periode 23–25 Juni 2025, investor nonresiden mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp2,83 triliun. Rinciannya, mereka melakukan pembelian bersih sebesar Rp1,29 triliun di pasar SBN dan Rp3,68 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Namun di sisi lain, mereka juga melakukan penjualan bersih sebesar Rp2,14 triliun di pasar saham.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor global mulai kembali melirik pasar keuangan Indonesia, terutama instrumen-instrumen pendapatan tetap yang lebih aman. Pasar saham, meski masih mengalami tekanan, tetap menyimpan potensi rebound jika kondisi makro membaik dan sentimen domestik meningkat.
Salah satu indikator penting dalam menilai persepsi risiko terhadap ekonomi suatu negara adalah Credit Default Swap (CDS). Per 25 Juni 2025, premi CDS Indonesia tenor 5 tahun tercatat sebesar 78,05 basis poin, turun dibandingkan posisi 20 Juni 2025 yang berada di level 81,06 bps.
Penurunan ini menunjukkan bahwa biaya perlindungan risiko gagal bayar terhadap utang Indonesia semakin murah. Artinya, pasar global menilai kondisi fiskal dan kemampuan bayar Indonesia relatif aman dan stabil. Ini menjadi sinyal positif yang memperkuat reputasi Indonesia di mata pemodal internasional.
Meski ada sinyal positif, data kumulatif sepanjang tahun 2025 menunjukkan bahwa tantangan belum sepenuhnya usai. Hingga 25 Juni 2025, investor nonresiden masih tercatat melakukan penjualan bersih sebesar Rp52,05 triliun di pasar saham dan Rp35,87 triliun di instrumen SRBI. Namun di sisi lain, mereka juga mencatat pembelian bersih sebesar Rp40,80 triliun di pasar SBN.
Data ini menandakan bahwa meski investor mulai kembali percaya, mereka masih bersikap selektif. Mereka memilih instrumen dengan risiko lebih rendah, seperti SBN, dan belum sepenuhnya percaya terhadap prospek jangka pendek pasar saham domestik. Ini menjadi catatan penting bagi pemerintah dan regulator untuk terus memperkuat reformasi struktural dan meningkatkan kepercayaan pasar.
BI Tegaskan Komitmen: Jaga Stabilitas, Perkuat Ketahanan Ekonomi
Melalui siaran persnya, Bank Indonesia menegaskan bahwa mereka terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait. Strategi bauran kebijakan yang ditempuh meliputi langkah-langkah moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Tujuannya jelas: memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia, menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, serta menciptakan iklim investasi yang kondusif dan berkelanjutan.
Momentum Positif yang Harus Dijaga
Stabilitas nilai tukar, turunnya yield, dan mulai masuknya modal asing adalah sinyal bahwa perekonomian Indonesia memiliki daya tahan yang kuat. Namun ini bukan waktu untuk berpuas diri. Diperlukan konsistensi kebijakan, percepatan reformasi struktural, serta kepemimpinan ekonomi yang visioner untuk menjaga dan memperkuat momentum ini.
Dalam dunia yang terus berubah cepat, ekonomi yang tangguh bukan hanya soal bisa bertahan, tetapi tentang kemampuan untuk beradaptasi, menarik investasi, dan menciptakan pertumbuhan yang adil dan inklusif. Indonesia sedang menuju ke arah itu, dan kita semua memegang peran penting di dalamnya.


