BerandaOpini & RefleksiMenjadi Pendengar yang Baik: Belajar dari Yakobus 1:19

Menjadi Pendengar yang Baik: Belajar dari Yakobus 1:19

Oleh Esra Novitra Ginting, Mahasiswa STT Paulus Medan, Jurusan Pendidikan Agama Kristen

Ada sebuah nasihat sederhana tetapi sangat mendalam dari Kitab Yakobus 1:19: “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini, setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” Ayat ini terdengar singkat, namun memiliki daya tegur yang kuat, terutama bagi kita yang dipanggil untuk melayani. Sebagai seorang pelayan Tuhan, saya merasakan betul bagaimana ayat ini menjadi cermin diri, sekaligus pengingat yang penuh kasih agar lebih berhati-hati dalam bersikap.

Mengapa mendengar itu penting? Karena dalam pelayanan, kita sering kali menjadi tempat bersandar bagi banyak orang yang datang dengan berbagai pergumulan, keresahan, bahkan luka batin. Mereka butuh bukan hanya solusi, tetapi juga telinga yang benar-benar mau mendengar dengan hati. Mendengar yang sejati bukan sekadar membiarkan kata-kata orang lain masuk telinga, melainkan memberi ruang komunikasi dalam pikiran, hati, dan empati kita.

Namun, kenyataannya tidak selalu mudah. Sering kali kita gagal menjadi pendengar. Kita lebih tergoda untuk segera menanggapi, membantah, atau bahkan menghakimi. Akibatnya, pesan yang sebenarnya ingin disampaikan orang lain tidak kita tangkap dengan baik. Dari situ, kesalahpahaman sering lahir, dan keputusan-keputusan keliru pun bisa terjadi hanya karena kita tidak mau berhenti sejenak untuk benar-benar mendengarkan.

Mendengar Bukan Pasif, Tetapi Aktif

Mendengar yang baik adalah sebuah keterampilan rohani sekaligus seni relasi. Ia bukanlah sikap pasif, melainkan keterlibatan aktif. Saat kita mendengar dengan penuh perhatian, kita memberi tanda bahwa orang yang berbicara itu berharga. Kita menghargai kisah dan perasaan mereka, bahkan sebelum kita menawarkan jalan keluar. Inilah sebabnya Yakobus mengingatkan kita untuk lebih cepat mendengar dibanding berbicara atau marah. Dengan kata lain, mendengar adalah langkah pertama menuju pengertian yang lebih dalam.

Baca Juga  Komunikasi yang Efektif

Sebuah Pengalaman Nyata dalam Pelayanan

Saya pernah mengalami sendiri bagaimana kurangnya komunikasi dan kegagalan mendengarkan dapat menimbulkan masalah. Saat itu saya sedang melatih anak-anak penari rebana bersama seorang rekan sepelayanan. Latihan berjalan cukup melelahkan, dan anak-anak tampak kesulitan mengikuti gerakan yang kami ajarkan. Tanpa banyak berpikir, saya mengambil inisiatif untuk sedikit mengubah gerakan agar lebih mudah diikuti.

Namun, rekan saya menanggapi dengan spontan. Ia langsung berbicara dengan nada yang keras dan kata-kata yang kurang baik. Sekilas, saya merasa tersinggung. Tetapi saat itu saya teringat kembali pada ajaran Yakobus: cepatlah untuk mendengar. Saya menahan diri untuk tidak langsung membalas, melainkan berusaha mendengarkan terlebih dahulu semua keluh kesahnya. Setelah ia selesai bicara, barulah saya menjelaskan bahwa tidak semua hal harus dipaksakan kepada anak-anak. Mereka masih belajar, sehingga perlu waktu dan penyesuaian.

Akhirnya, setelah saya meminta maaf dan ia pun juga meminta maaf, hubungan kami kembali dipulihkan. Dari peristiwa sederhana ini saya belajar satu hal penting: komunikasi yang sehat hanya bisa terbangun kalau kita mau menjadi pendengar yang baik.

Menjadi Pendengar Adalah Proses Belajar

Tidak ada orang yang langsung mahir mendengar. Semua butuh proses dan latihan. Kita perlu melatih diri untuk menahan lidah, menenangkan hati, dan membuka telinga dengan penuh kesabaran. Mendengar juga menuntut kerendahan hati, sebab dengan mendengar kita mengakui bahwa orang lain punya hal berharga untuk dibagikan.

Tentu saja, mendengar bukan berarti kita tidak boleh berbicara. Tetapi berbicara setelah mendengar akan jauh lebih bijaksana daripada berbicara tanpa tahu apa-apa. Begitu pula dengan amarah. Sering kali, marah lahir dari salah dengar atau salah tangkap. Jika kita mendengar lebih dahulu, mungkin kita tidak perlu marah sama sekali.

Baca Juga  Pencak Silat Bagian dari Harmoni Alam

Belajar dari Kristus

Yesus sendiri adalah teladan terbesar dalam hal mendengarkan. Ia tidak hanya menyembuhkan dan mengajar, tetapi juga mau mendengar keluhan, doa, bahkan ratapan orang-orang yang datang kepada-Nya. Dalam Injil, kita melihat bagaimana Ia memberikan waktu bagi perempuan yang berdosa, bagi orang sakit, dan bahkan bagi anak-anak kecil. Semua itu menunjukkan bahwa mendengar adalah bagian dari kasih.

Penutup

Menjadi pendengar yang baik adalah panggilan setiap orang, terutama mereka yang melayani. Yakobus 1:19 bukan hanya sebuah perintah moral, tetapi juga kunci untuk membangun relasi yang sehat. Mendengar dengan hati akan mencegah salah paham, meredakan konflik, dan membuka jalan bagi pemulihan.

Pengalaman saya bersama rekan sepelayanan hanyalah contoh kecil, namun sudah cukup untuk menyadarkan bahwa mendengar adalah hal mendasar yang harus terus kita latih. Kiranya kita semua mau belajar untuk cepat mendengar, lambat berkata-kata, dan lambat untuk marah. Dengan begitu, kita tidak hanya menjalankan firman Tuhan, tetapi juga menghadirkan kasih-Nya dalam setiap relasi yang kita bangun. (Red/*)

Materi ini adalah hasil pengembangan dan diskusi mata kuliah magang Soft Skill Kemampuan Berkomunikasi di Sekolah

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read