BerandaOpini & Refleksi“Mendengar dengan Hati, Bicara dengan Kasih, Keterampilan Komunikasi Interpersonal bagi Calon Pemimpin...

“Mendengar dengan Hati, Bicara dengan Kasih, Keterampilan Komunikasi Interpersonal bagi Calon Pemimpin Kristen”

Oleh : Hery Buha Manalu, Soft Skill Kemampuam Berkomunikasi di Sekolah (Bagian ke 2)

Mendengar dengan hati, bicara dengan kasih merupakan keterampilan komunikasi Interpersonal bagi calon pemimpin kristen, Komunikasi adalah napas kehidupan manusia. Setiap hari kita berbicara, mendengar, menulis, bahkan berkomunikasi lewat tatapan mata atau gerakan tubuh. Namun, sering kali kita mengira komunikasi hanya sebatas kata-kata yang keluar dari mulut. Padahal, komunikasi jauh lebih dalam,  ia adalah jembatan relasi, ruang empati, dan medium pelayanan. Bagi mahasiswa di perguruan tinggi keagamaan Kristen, komunikasi bukan hanya keterampilan teknis, melainkan panggilan rohani. Ia menentukan bagaimana kita membangun persahabatan, mengajar dengan penuh kasih, dan melayani jemaat Tuhan.

Alkitab menegaskan betapa pentingnya komunikasi yang sehat. Yakobus 1:19 berkata: “Cepatlah mendengar, tetapi lambat berkata-kata.” Nasihat sederhana ini mengingatkan kita bahwa mendengar adalah dasar komunikasi yang baik. Sayangnya, di dunia yang serba cepat, banyak orang lebih sibuk menyiapkan jawaban daripada sungguh-sungguh mendengarkan. Inilah alasan mengapa keterampilan komunikasi interpersonal, mendengarkan aktif, berbicara empatik, dan bersikap asertif, perlu dipelajari dengan sungguh-sungguh.

Mendengarkan Aktif, Lebih dari Sekadar Mendengar

Mendengarkan aktif berarti hadir sepenuhnya bagi orang lain. Tidak hanya telinga yang bekerja, tetapi juga pikiran, hati, dan tubuh. Mendengar aktif menuntut fokus penuh: meletakkan gawai, menjaga kontak mata, dan memberi tanda sederhana seperti anggukan. Kadang, kita perlu mengulang inti pesan dengan kata kita sendiri untuk memastikan pemahaman, atau menambahkan kalimat singkat seperti, “Saya mengerti,” agar lawan bicara merasa dihargai.

Yesus sendiri adalah pendengar yang ulung. Ia tidak menolak orang-orang kecil yang datang kepada-Nya. Ia meluangkan waktu mendengarkan, bahkan mereka yang dianggap hina oleh masyarakat. Dari sini kita belajar bahwa mendengarkan aktif adalah wujud kasih. Ia bukan sekadar teknik komunikasi, melainkan sikap hidup yang menempatkan orang lain lebih penting daripada diri sendiri.

Baca Juga  Retaknya Nilai, Martabat Manusia, dan Panggilan Iman, Membaca Krisis Nilai dan Isu LGBT dengan Nurani Kristiani

Empati, Menyatu dengan Perasaan Orang Lain

Komunikasi tanpa empati akan terasa kering dan formal. Empati berarti berusaha merasakan apa yang orang lain rasakan, melihat dunia dari sudut pandang mereka. Ada tiga bentuk empati: kognitif (memahami pikiran orang lain), emosional (ikut merasakan perasaan), dan komunikatif (menyatakan kepedulian dengan kata atau gestur).

Yesus memberi teladan nyata ketika Ia menangis bersama Maria dan Marta atas kematian Lazarus (Yoh. 11:35). Ia tahu Ia akan membangkitkan Lazarus, tetapi Ia tetap larut dalam kesedihan mereka. Empati membuat orang merasa tidak sendirian. Bagi mahasiswa teologi, empati adalah kunci pelayanan pastoral yang otentik. Jemaat tidak selalu membutuhkan solusi instan; sering kali mereka hanya butuh seseorang yang mau duduk, mendengar, dan menangis bersama.

Asertif: Jujur, Tegas, tetapi Penuh Hormat

Komunikasi asertif sering disalahpahami. Banyak orang mengira bersikap tegas berarti harus keras, atau sebaliknya memilih diam agar tidak menyinggung. Padahal, ada perbedaan jelas antara pasif, agresif, dan asertif.

Pasif: tidak berani menyatakan kebutuhan, akhirnya sering dirugikan.

Agresif: memaksakan kehendak, melukai orang lain.

Asertif: menyampaikan pendapat dengan jelas dan sopan, sambil tetap menghargai orang lain.

Bahasa asertif biasanya sederhana, misalnya: “Saya merasa tidak nyaman dengan cara ini, apakah kita bisa mencari jalan lain?” Kalimat ini menunjukkan kejujuran tanpa merendahkan lawan bicara. Ajaran Yesus dalam Matius 5:37 meneguhkan: “Ya katakan ya, tidak katakan tidak.” Asertif berarti hidup dalam integritas, tidak bertele-tele, dan tidak penuh kepalsuan.

Bahasa Tubuh dan Komunikasi Nonverbal

Kita sering lupa bahwa komunikasi bukan hanya soal kata. Senyum, tatapan mata, intonasi suara, atau posisi tubuh bisa lebih berbicara daripada paragraf panjang. Senyum seorang guru dapat memberi rasa aman lebih besar daripada penjelasan rumit. Sebaliknya, dahi berkerut atau nada suara yang ketus bisa membuat pesan yang baik terasa menyakitkan.

Baca Juga  Iptek sebagai Jalan Memanusiakan Manusia dalam Terang Iman Kristen

Di gereja maupun sekolah, bahasa tubuh adalah pesan tak tertulis yang kuat. Karena itu, calon pelayan Tuhan perlu belajar peka: apakah ekspresi wajah dan sikap tubuh kita mendukung atau justru bertolak belakang dengan pesan yang ingin kita sampaikan.

Lintas Budaya, Komunikasi yang Memersatukan

Dalam konteks multietnis, komunikasi bisa menjadi jembatan atau jurang. Misalnya, budaya Batak yang lugas sering kali dianggap terlalu keras oleh orang Jawa yang lebih halus. Tanpa pemahaman, perbedaan ini bisa menimbulkan konflik. Di sinilah kita dipanggil untuk memiliki kepekaan lintas budaya.

Kisah Pentakosta (Kis. 2:4–12) menunjukkan bahwa Roh Kudus memampukan murid-murid berkomunikasi melampaui batas bahasa dan budaya. Peristiwa ini mengajarkan kita bahwa komunikasi lintas budaya bukan ancaman, melainkan peluang untuk mempersatukan umat Tuhan yang berbeda-beda.

Latihan Praktis, Dari Teori ke Aksi

Belajar komunikasi bukan hanya membaca teori, melainkan berlatih. Itu sebabnya mahasiswa diajak melakukan role play percakapan empati antara guru dan siswa, serta menganalisis studi kasus komunikasi antarbudaya. Latihan ini menolong mahasiswa mempraktikkan mendengarkan aktif, merespon dengan empati, bersikap asertif, sekaligus menghargai perbedaan budaya.

Komunikasi sebagai Panggilan Iman

Komunikasi interpersonal yang sehat tidak hanya menjadikan kita komunikator yang baik, tetapi juga pelayan Tuhan yang menghadirkan damai sejahtera. Dengan mendengar aktif, berbicara dengan empati, bersikap asertif, serta peka terhadap nonverbal dan budaya, kita belajar meneladani Kristus dalam setiap kata dan tindakan. Pada akhirnya, komunikasi bukan hanya soal apa yang kita sampaikan, tetapi bagaimana kita menghadirkan kasih Tuhan dalam setiap perjumpaan. (Red/*)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read