BerandaOpini & RefleksiIptek sebagai Jalan Memanusiakan Manusia dalam Terang Iman Kristen

Iptek sebagai Jalan Memanusiakan Manusia dalam Terang Iman Kristen

Oleh : Hery Buha Manalu

Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) bukan sekadar hasil kecerdasan rasional manusia, melainkan buah dari panggilan dasar manusia untuk memahami, mengelola, dan merawat dunia. Dalam iman Kristen, kemampuan berpikir dan mencipta ini berakar pada keyakinan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kejadian 1:26). Ayat ini menegaskan bahwa akal budi, kreativitas, dan daya inovasi manusia bukan kebetulan biologis, melainkan anugerah ilahi yang mengandung tanggung jawab moral.

Iptek, karena itu, tidak pernah berdiri netral. Ia selalu membawa nilai dan arah. Di dunia pendidikan tinggi, termasuk sekolah tinggi manajemen, iptek kerap dipahami sebagai sarana mencapai efisiensi, produktivitas, dan keunggulan kompetitif. Namun, iman Kristen mengingatkan bahwa keberhasilan teknis tanpa kebijaksanaan etis dapat kehilangan makna. Alkitab menegaskan, “Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian” (Amsal 2:6). Pengetahuan yang sejati bukan hanya soal kemampuan, tetapi juga soal hikmat: tahu kapan, bagaimana, dan untuk siapa iptek digunakan.

Dalam terang mandat penciptaan, manusia dipanggil untuk “mengusahakan dan memelihara taman” (Kejadian 2:15). Mandat ini menjadi dasar teologis bagi pengembangan iptek yang bertanggung jawab. Iptek seharusnya membantu manusia merawat kehidupan, bukan merusaknya. Ketika teknologi dipakai untuk memperbaiki sistem kesehatan, pendidikan, tata kelola organisasi, dan keberlanjutan lingkungan, manusia sedang berpartisipasi dalam karya pemeliharaan Allah atas dunia.

Namun Alkitab juga jujur tentang potensi penyimpangan manusia. Pengetahuan yang dilepaskan dari kasih dapat menjadi alat penindasan. Rasul Paulus mengingatkan, “Pengetahuan membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun” (1 Korintus 8:1). Ayat ini sangat relevan dalam era kecerdasan buatan, big data, dan otomatisasi. Iptek yang tidak disertai kasih dan empati berisiko mereduksi manusia menjadi sekadar data, angka, atau sumber daya yang dapat dieksploitasi.

Baca Juga  Inada Nias, Keteladanan Empati, Ketekunan, dan Komunikasi sebagai Soft Skill Kehidupan

Dalam konteks manajemen, teknologi sering digunakan untuk mempercepat pengambilan keputusan dan mengontrol sistem. Namun iman Kristen menolak logika yang mengorbankan martabat manusia demi efisiensi semata. Yesus sendiri menegaskan bahwa hukum, termasuk sistem dan struktur, harus melayani manusia, bukan sebaliknya: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Markus 2:27). Prinsip ini dapat diterjemahkan secara kontekstual, teknologi diciptakan untuk manusia, bukan manusia untuk teknologi.
Iptek juga menuntut sikap kerendahan hati.

Semakin maju teknologi, semakin besar godaan manusia untuk merasa berkuasa tanpa batas. Alkitab mengingatkan, “Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak” (Roma 12:16). Kesadaran akan keterbatasan manusia penting agar iptek tidak berubah menjadi berhala baru. Dalam dunia manajemen, sikap ini mendorong praktik kepemimpinan yang etis, transparan, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama.

Pendidikan Agama Kristen memiliki peran strategis untuk menanamkan kerangka etis ini. Ia bukan anti-iptek, tetapi bersikap kritis dan profetis. Tujuannya adalah membentuk insan manajerial yang bukan hanya cerdas secara teknologis, tetapi juga matang secara moral dan spiritual. Seperti diingatkan Mikha 6:8, “Yang dituntut TUHAN daripadamu: berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu.”

Pada akhirnya, iptek menemukan maknanya yang paling dalam ketika ia diarahkan pada kasih dan pelayanan. Yesus berkata, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Markus 10:45). Prinsip pelayanan inilah yang seharusnya menjadi roh dalam pengembangan dan penerapan iptek. Dengan demikian, iptek bukan hanya sarana kemajuan, tetapi jalan untuk memanusiakan manusia, membangun dunia yang lebih adil, berkelanjutan, dan bermartabat di hadapan Allah dan sesama. (Red/*)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read