BerandaOpini & RefleksiKurikulum Berbasis Cinta, Menyemai Pendidikan Jiwa, Budaya, dan Bumi Indonesia

Kurikulum Berbasis Cinta, Menyemai Pendidikan Jiwa, Budaya, dan Bumi Indonesia

Green Times – Di tengah arus globalisasi yang deras dan modernisasi yang kerap membutakan nurani, Indonesia menghadapi tantangan besar: bagaimana membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, peduli secara sosial, dan bertanggung jawab secara ekologis. Maka, ketika Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)Ā diluncurkan oleh Menteri Agama, saya melihatnya bukan sekadar program pendidikan, melainkan sebuah paradigma kebangsaan dan kebudayaan yang sangat strategis.

KBC menyentuh akar terdalam dari apa yang selama ini dilupakan dalam sistem pendidikan kita: nilai cinta, empati, dan tanggung jawab antar sesama dan lingkunganĀ hidup. Pendidikan tidak boleh lagi terjebak dalam rutinitas angka dan kompetensi teknis semata. Di negeri yang menjunjung semboyan Bhinneka Tunggal Ika, pendidikan harus membentuk manusia yang mampu merangkul perbedaan dan menjadikannya kekuatan. Itulah mengapa KBC sangat relevan dan urgen.

Saya terenyuh ketika Rektor Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa, Prof. I Gusti Ngurah Sudiana, menyampaikan bahwa KBC sejalan dengan filosofi Bali yang luhur: Tri Hita Karana. Harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam adalah inti dari pendidikan berbasis cinta. Kita tak bisa lagi mendidik anak-anak bangsa dalam ruang-ruang belajar yang steril dari nilai budaya dan kearifan lokal. Kita tak bisa lagi mendidik dengan membiarkan alam dirusak atas nama pembangunan.

Kurikulum yang tidak mengakar pada budaya, dan tidak menyentuh kesadaran ekologis, hanya akan melahirkan generasi yang kehilangan arah. KBC memberi harapan untuk membalik arah itu. Ia bukan produk instan birokrasi, tapi seharusnya menjadi gerakan nilai yang dihidupi oleh pendidik, seniman, pemuka agama, dan aktivis lingkungan. KBC harus hidup di tengah-tengah komunitas, desa, sekolah, bahkan keluarga.

Baca Juga  Alam dan Budaya, Dua Saudara Tak Terpisahkan di Tanah Toba

Namun tentu, KBC bukan tanpa tantangan. Ia menuntut keberanian dan konsistensi semua pihak. Para guru harus dibekali bukan hanya modul, tetapi juga jiwa. Para rektor seperti Prof. Sudiana sudah menunjukkan teladan: siap mengintegrasikan KBC dalam Tridharma perguruan tinggi, bahkan dalam budaya akademik. Ini kabar baik. Tapi langkah ini tak akan cukup jika tak diikuti oleh gerakan nasional, lintas agama, lintas suku, dan lintas sektor.

KBC harus menjadi gerakan kebudayaan yang mengakar. Sebab budaya sejatinya adalah cara hidup yang mewariskan nilai. Dan cinta adalah nilai tertinggi dari semua warisan itu. Dalam masyarakat Batak, kita mengenal nilai Dalihan Na Tolu, dalam Jawa ada Hamemayu Hayuning Bawana, dalam Minangkabau ada Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah, semua mengajarkan harmoni, kasih, dan tanggung jawab terhadap ciptaan.

Sebagai pengamat lingkungan, saya pun menilai KBC bisa menjadi jembatan menuju pendidikan hijau yang selama ini kita idamkan. Ketika cinta diajarkan, maka pohon tak sekadar objek biologi, tapi makhluk hidup yang layak dihormati. Sungai bukan hanya sumber air, tapi juga bagian dari ekosistem spiritual dan sosial masyarakat. Di titik inilah, KBC menjadi kurikulum hidup, yang menyentuh kehidupan secara utuh.

Mungkin inilah momentum kita. Saat bangsa lain sibuk berdebat soal kecanggihan teknologi, kita bisa menjadi bangsa yang membangun masa depannya dengan cinta. Sebab teknologi tanpa cinta bisa membunuh. Tetapi cinta yang membimbing ilmu akan menyelamatkan peradaban.

Indonesia tidak kekurangan ilmu, kita hanya kurang kasih. Kita tidak kekurangan kurikulum, kita hanya kurang makna. Dan Kurikulum Berbasis Cinta, adalah jawaban yang berani atas krisis ini.

Catatan Redaksi,
Kurikulum Berbasis Cinta bukan hanya soal isi pelajaran, melainkan semangat zaman. Jika kita ingin menyelamatkan masa depan anak-anak kita, kebudayaan kita, dan bumi tempat kita berpijak, maka inilah saatnya: membangun pendidikan yang menyemai cinta, bukan kebencian; menyemai kearifan, bukan kekuasaan; menyemai hidup, bukan sekadar ijazah. (Hery Buha Manalu)

Baca Juga  Huta dan Ekologi Spiritual dalam Budaya Batak Toba

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read