Green Times – Di tengah hiruk-pikuk tantangan global seperti krisis iklim, lonjakan harga energi, dan ketimpangan sosial, muncul harapan baru dari sektor paling dekat dengan masyarakat, UMKM. Di Sumatera Utara, geliat UMKM lokal tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi mulai menjelma sebagai kekuatan hijau yang mengintegrasikan keberlanjutan dengan daya saing global.
Bukan sekadar wacana, transformasi ini nyata terjadi. Dalam gelaran Karya Kreatif Sumatera Utara (KKSU) 2025, kita menyaksikan bagaimana pelaku UMKM mampu menjadikan produk lokal sebagai simbol gaya hidup baru: ramah lingkungan, bercita rasa lokal, dan berorientasi ekspor.
UMKM Sumut, Dari Tradisional ke Transformasional
Di masa lalu, UMKM identik dengan kegiatan ekonomi skala kecil yang terbatas pada pasar lokal. Kini, dengan dukungan teknologi, kebijakan publik, dan kesadaran pasar global, UMKM di Sumut tampil sebagai motor penggerak ekonomi hijau yang tangguh. Pelaku usaha mulai beralih ke model produksi berkelanjutan—mengurangi limbah, memakai bahan alami, dan memperhatikan kesejahteraan pekerja.
Contohnya, industri kopi lokal tak lagi hanya soal rasa dan aroma, tapi juga soal bagaimana kopi ditanam tanpa merusak hutan, diproses tanpa mencemari air, dan dipasarkan dengan transparansi asal-usul (traceability). Hal serupa terjadi di industri fesyen, di mana desainer muda menggunakan ulos hasil tenun tangan dan pewarna alami untuk menciptakan koleksi fashion yang memikat dunia internasional.
Etalase Hijau Masa Depan Ekonomi Daerah
Dalam event KKSU 2025 di Deli Park Mall Medan, semangat ekonomi hijau ini sangat terasa. Segmen fashion menampilkan busana modern berbahan ulos berkelanjutan. Segmen kopi menyuguhkan “green coffee chain” yang menghubungkan petani kopi hutan dengan pasar internasional. Bahkan segmen kuliner menekankan bahan lokal organik dan pengolahan minim sampah.
Tak hanya jadi pameran produk, KKSU menjadi ruang belajar dan jejaring. Talkshow tentang sustainable fashion, diskusi kopi hijau, hingga lomba QRIS bertema digitalisasi ramah lingkungan, semuanya menciptakan kesadaran kolektif bahwa ekonomi hijau bukan tren sesaat, tetapi arah pembangunan masa depan.
Dukungan Kuat Lembaga Keuangan dan Pemerintah
Transformasi UMKM Sumut menuju ekonomi hijau tidak berdiri sendiri. Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan BI Sumut secara konsisten mendorong UMKM binaan untuk mengadopsi prinsip ESG (Environment, Social, Governance) dalam usaha mereka. Hal ini diwujudkan melalui:
Sertifikasi kurator UMKM untuk memastikan kelayakan dan keberlanjutan usaha
Program Fast-Track Young Preneur (FYP) yang melahirkan wirausaha muda hijau
Edukasi digitalisasi transaksi untuk efisiensi dan transparansi
Kemitraan dengan event berskala internasional seperti F1 Powerboat dan Aquabike untuk memperluas promosi global
Pemerintah daerah juga turut mendukung melalui pelatihan, perizinan hijau, dan insentif bagi pelaku usaha yang menerapkan produksi ramah lingkungan. (Hery Buha Manalu)


