Oleh : Hery Buha Manalu
Sumatera Utara bergerak. Bukan hanya cepat, tapi juga tepat arah. Lewat gelaran Karya Kreatif Sumatera Utara (KKSU) 2025, denyut baru perekonomian lokal mulai terasa nyata, bukan sekadar tentang transaksi dan untung rugi, tapi tentang cara baru berbisnis yang lebih ramah lingkungan, lebih peduli sosial, dan lebih visioner. Inilah wajah baru ekonomi hijau yang mulai tumbuh subur dari akar rumput UMKM.
Dibuka secara resmi oleh tokoh-tokoh strategis seperti Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, Gubernur Sumut M. Bobby Afif Nasution, Ketua DPRD Erni Ariyanti, dan Kepala Perwakilan BI Sumut Rudy Brando Hutabarat, KKSU 2025 bukan hanya pameran dagang, melainkan ajang konsolidasi antara ekonomi rakyat dan visi pembangunan masa depan yang lestari.
Selama tiga hari penuh di Deli Park Mall, ribuan pengunjung memadati lokasi, bukan hanya untuk berbelanja produk lokal, tetapi untuk melihat dan merasakan bagaimana inovasi kreatif bisa sejalan dengan keberlanjutan lingkungan. Konsep utama KKSU 2025 yang terbagi ke dalam tiga segmen—fashion, kopi, dan kuliner—menjadi refleksi nyata dari bagaimana UMKM di Sumut mulai bergerak menuju model ekonomi hijau yang inklusif dan berdaya saing global.
Ulos dan Gerakan Ekonomi Hijau
Segmen fashion menjadi sorotan utama, terutama dengan hadirnya talkshow bertema “Sustainable Fashion” dan peragaan busana berbasis wastra unggulan. Para desainer muda Sumut tidak lagi sekadar memproduksi busana, tapi membawa pesan kuat tentang slow fashion, pelestarian budaya, dan ekonomi sirkular.
Ulos, misalnya, digunakan kembali dari potongan sisa, dipadukan dengan bahan organik dan pewarna alami. Desain yang tidak hanya menawan, tapi juga bertanggung jawab. Ini adalah praktik nyata ekonomi hijau dalam dunia mode—mengurangi limbah tekstil, mendukung pengrajin lokal, dan mengangkat nilai etis dari setiap helai kain.
Dari Lereng Gunung ke Cangkir Dunia, Lewat Inovasi Ramah Lingkungan
Di segmen kopi, Sumatra Coffee Journey bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga membuka mata publik tentang potensi besar kopi organik, agroforestry, dan model pertanian regeneratif. Lewat Coffee Talks, para petani, barista, hingga pelajar internasional diajak memahami pentingnya praktik pertanian yang tidak merusak hutan, menggunakan pupuk alami, dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Kopi Sumut tidak sekadar harum dan kuat, tetapi juga punya jejak karbon yang rendah dan cerita hijau yang tinggi. Bahkan, beberapa pelaku usaha kopi kini mulai menerapkan konsep “kopi bersertifikat hijau” untuk memperluas pasar ekspor yang kini semakin ketat soal isu lingkungan.
Kuliner Lokal, Inovasi Cita Rasa dengan Sentuhan Ekologis
Teras Kuliner Sumut juga tak kalah penting. Aneka kuliner lokal yang disuguhkan merupakan hasil dari inovasi UMKM binaan BI—banyak di antaranya kini mengurangi plastik sekali pakai, menggunakan kemasan ramah lingkungan berbahan daun pisang, paper wrap, atau bioplastik.
Beberapa UMKM bahkan mulai mengadopsi jejak produksi berkelanjutan, misalnya menggunakan bahan baku lokal dari petani organik, atau memanfaatkan kembali limbah dapur untuk pupuk kompos. Di sini, ekonomi hijau tidak terasa muluk, justru terasa hangat, nikmat, dan realistis di atas piring.
Greenpreneurship, Masa Depan yang Terhubung dan Berkelanjutan
Keberhasilan KKSU 2025 juga ditopang oleh infrastruktur digital yang makin merata. QRIS, katalog digital, dan pelatihan e-commerce menjadi alat penting bagi pelaku UMKM untuk menjangkau pasar luas tanpa membebani lingkungan. Semakin sedikit perjalanan fisik, semakin kecil jejak karbon.
Program seperti Fast-Track Young Preneur (FYP) menjadi kawah candradimuka bagi para greenpreneur muda yang ingin membangun usaha dengan prinsip keberlanjutan, inklusivitas, dan dampak sosial. Di sini, semangat wirausaha tidak hanya tentang mencari laba, tetapi juga menciptakan perubahan.
Catatan Penting, KKSU dan Ekonomi Hijau adalah Keniscayaan
KKSU 2025 menunjukkan bahwa ekonomi hijau bukan hanya tren, tetapi kebutuhan dan keniscayaan. Ia bukan tentang mengganti semua yang lama, tapi tentang memperbarui cara pandang, memperhalus cara produksi, dan memperdalam relasi kita dengan alam serta masyarakat.
Sumatera Utara memiliki semua potensi untuk memimpin perubahan ini—sumber daya alam melimpah, kreativitas budaya tinggi, generasi muda yang adaptif, dan kebijakan yang mulai berpihak pada keberlanjutan. KKSU adalah bukti nyata bahwa ekonomi hijau bisa dimulai dari UMKM, dari lokal, dan dari sekarang.


