Green Times – Di bawah kaki Gunung Penanggungan yang agung dan dikelilingi hamparan hijau persawahan, Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI Mojokerto menjadi saksi bisu sebuah peristiwa penuh makna, Silaturahmi Nasional Ke-12 dan Tabligh Akbar yang membangkitkan semangat keislaman, kebangsaan, dan keilmuan secara bersamaan.
Lebih dari 4.000 orang, mulai dari wali santri, alumni, hingga masyarakat umum dari berbagai penjuru tanah air memadati kompleks pesantren dibawah kaki gunung. Di tengah suasana penuh kehangatan itu, hadir sosok penting: Wakil Menteri Agama RI, Romo Muhammad Syafi’i, yang membawa pesan kuat tentang peran historis pesantren dalam menjaga NKRI.
“Santri bukan hanya pelajar agama, tapi pejuang peradaban. Sejak Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 hingga hari ini, pesantren tetap menjadi benteng kemerdekaan dan penjaga moral bangsa,” tegas Wamenag dengan penuh semangat, memantik tepuk tangan meriah dari hadirin.
Salah satu momen paling menyentuh adalah sesi adu cepat hafalan hadits. Lima santri dengan percaya diri melangkah ke depan, namun satu nama mencuri perhatian, Mursyid. Remaja yang telah menghafal 300 hadits ini menjawab pertanyaan Ketua MUI Mojokerto, KH Cholil Arphaphy, dengan tenang dan tepat. Ketika namanya diumumkan sebagai peraih predikat mumtaz, senyum bahagia dan air mata haru orang tuanya tak terbendung, menjadi simbol kemenangan spiritual dan pendidikan yang hakiki.
“Ini bukan sekadar ajang hafalan, ini adalah cermin dari semangat perjuangan zaman kini. Melawan malas, menaklukkan godaan, dan memegang teguh ilmu serta akhlak. Itulah santri masa depan Indonesia,” ujar Wamenag menambahkan.
Acara ini bukan hanya menjadi ajang silaturahmi dan pembuktian kapasitas santri, tetapi juga ruang pembaruan tekad umat untuk terus memperkuat pendidikan berbasis nilai-nilai luhur Islam. Lebih dari itu, harapan tentang Indonesia yang unggul dan berkarakter digantungkan pada pundak para santri, generasi mumtaz yang siap menjaga keutuhan bangsa dengan ilmu, iman, dan keikhlasan. (Hery Buha Manalu)


