Oleh : Zerlina Giawa, Mahasiswa STT Paulus Medan, Prodi Pendidikan Agama Kristen
Pendahuluan
Dalam kehidupan masyarakat Nias, peran inada (ibu) tidak hanya terbatas pada ruang domestik atau pengasuhan anak, melainkan menjadi pilar utama dalam menjaga keseimbangan sosial, budaya, dan spiritual keluarga. Di balik kesederhanaan kehidupannya, sosok inada menyimpan kebijaksanaan yang dalam dan keteguhan yang luar biasa. Ia adalah lambang kasih tanpa pamrih, sumber kehidupan, sekaligus penjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun.
Masyarakat Nias memandang inada sebagai tulang punggung yang menegakkan rumah tangga dan penjaga api kehidupan keluarga. Ungkapan adat “noro ni onoro sifao faomuso dodo ba fa’abe’e dodo” menggambarkan bahwa seorang ibu memikul beban hidup dengan hati yang kuat, penuh kasih, dan tidak mengeluh. Ia menjadi figur yang melahirkan bukan hanya secara biologis, tetapi juga secara kultural dan moral.
Dalam konteks pendidikan modern, terutama dalam pembelajaran soft skill berbasis kearifan lokal, peran inada Nias memiliki relevansi yang tinggi. Melalui keteladanannya, mahasiswa dapat belajar mengenai nilai-nilai empati (kemampuan memahami orang lain), ketekunan (daya juang dan kesetiaan), serta komunikasi (membangun relasi dengan kasih dan kebijaksanaan). Nilai-nilai tersebut adalah fondasi keterampilan hidup yang sejati keterampilan yang tidak hanya membentuk kecerdasan sosial, tetapi juga karakter spiritual yang matang.
Dengan demikian, mengangkat figur ini dalam pendidikan soft skill bukan hanya memperkaya pemahaman mahasiswa terhadap budaya sendiri, tetapi juga menegaskan bahwa kebijaksanaan lokal adalah sumber pembelajaran universal tentang kemanusiaan dan kasih ilahi.
1. Inada dan Empati dalam Budaya Nias
Empati merupakan kemampuan untuk menyelami perasaan orang lain, memahami kesedihan maupun kebahagiaannya dari hati ke hati. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Nias, empati menjadi nilai yang hidup dan nyata, terutama tercermin melalui peran ini.
Seorang inada memiliki kepekaan batin yang kuat terhadap keluarganya. Ia mampu “membaca” suasana hati tanpa perlu kata-kata. Ketika anaknya pulang dengan wajah lesu, inada tidak langsung bertanya keras, melainkan menyambut dengan senyuman dan menyiapkan makanan hangat. Ia tahu bahwa perhatian kecil sering lebih bermakna daripada seribu nasihat.
Empatinya juga meluas dalam relasi sosial di komunitasnya. Dalam budaya Nias yang menjunjung tinggi kebersamaan (fahuwusa ba niha), seorang inada terlibat aktif dalam setiap kegiatan sosial baik dalam pesta adat, gotong royong, maupun saat duka cita. Ia menunjukkan kepedulian kepada sesama dengan tulus, tanpa pamrih.
Melalui tindakan inada, masyarakat Nias belajar bahwa empati bukan sekadar perasaan iba, tetapi tindakan nyata yang menumbuhkan solidaritas dan kebersamaan.
Bagi mahasiswa teologi, empati dari teladan ini mengajarkan bahwa menjadi pelayan Tuhan berarti juga menjadi pribadi yang memahami pergumulan orang lain. Empati menuntun seseorang untuk hadir bersama bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai saudara yang ikut merasakan.
2. Ketekunan Inada, Kekuatan yang Menghidupi
Jika empati menggambarkan kelembutan hati seorang ibu, maka ketekunan mencerminkan kekuatannya. Dalam budaya Nias, inada dikenal sebagai sosok yang tabah, tekun, dan tak kenal lelah. Pagi-pagi ia telah bangun untuk menyiapkan kebutuhan keluarga, lalu bekerja di ladang atau pasar, dan di malam hari tetap memastikan anak-anak belajar dengan baik. Semua dilakukan tanpa banyak keluh kesah. Ketekunannya bukan sekadar kebiasaan, melainkan ekspresi dari kasih yang bertanggung jawab.
Ungkapan adat Nias seperti “dodo sabe’e same danga wohalowo” (hati yang kuat membuat tangan tak berhenti bekerja) menjadi gambaran hidup inada yang selalu gigih. Ia tidak hanya berjuang untuk memenuhi kebutuhan fisik keluarga, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur, kesetiaan, kerja keras, dan pengharapan.
Dalam mendidik anak-anak, hal yang menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Ia tahu bahwa membentuk karakter bukan proses instan. Ia menegur dengan kasih, membimbing dengan teladan, dan terus mendorong anak-anaknya untuk mengejar pendidikan sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Bagi mahasiswa, ketekunan inada menjadi cermin bagaimana iman dan kerja keras harus berjalan beriringan. Ketekunan bukan hanya kemampuan untuk terus bekerja, tetapi juga kesetiaan dalam menjalani proses kehidupan yang panjang dan penuh ujian.
3. Komunikasi Keluarga, Inada sebagai Penjaga Keharmonisan
Dalam keluarga Nias, komunikasi bukan sekadar pertukaran kata, tetapi jembatan kasih yang menjaga keutuhan hubungan antaranggota keluarga. Dan di sinilah peran inada menjadi sangat penting.
Ketika terjadi perselisihan antara ayah dan anak, sering kali menjadi penengah yang menenangkan. Ia tidak menambah api konflik, melainkan menghadirkan kesejukan dengan kata-kata lembut dan penuh kasih. Dalam masyarakat Nias dikenal pepatah “fa,’asokhi dodo bawahuwusa banaw6da niha”. (jika hati tenang, hubungan antar manusia akan baik).
Inada mengajarkan anak-anaknya untuk berbicara dengan sopan, mendengar dengan hormat, dan menahan diri agar tidak menyakiti hati orang lain. Dalam setiap percakapan, ia menanamkan nilai penghargaan dan tanggung jawab.
Bagi mahasiswa, pelajaran ini amat berharga. Di dunia modern yang penuh persaingan dan komunikasi digital yang cepat, kemampuan berbicara dengan kasih dan mendengarkan dengan empati menjadi keterampilan penting untuk membangun relasi yang sehat dan harmonis.
Komunikasi yang baik bukan sekadar kemampuan berbicara, melainkan kesediaan hati untuk memahami. Inada Nias mengajarkan bahwa komunikasi yang berlandaskan kasih dapat menyembuhkan luka, memulihkan hubungan, dan meneguhkan kasih dalam keluarga maupun komunitas.
4. Integrasi Empati, Ketekunan, dan Komunikasi dalam Soft Skill
Ketiga nilai tersebut empati, ketekunan, dan komunikasi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Inada Nias menunjukkan bagaimana ketiganya saling melengkapi dan membentuk keutuhan karakter.
Empati membuatnya peka terhadap kebutuhan keluarga. Ketekunan menjadikannya kuat menghadapi beban hidup. Komunikasi menolongnya menjaga keharmonisan dan menanamkan nilai dalam hati anak-anak.
Dalam pembelajaran soft skill berbasis kearifan lokal, nilai-nilai ini dapat diterapkan dalam berbagai konteks kehidupan mahasiswa,
• Dalam pelayanan, empati menumbuhkan kepekaan terhadap kebutuhan jemaat.
• Dalam studi, ketekunan menuntun mahasiswa untuk tidak menyerah menghadapi kesulitan.
• Dalam pergaulan, komunikasi yang sehat membangun persaudaraan dan menghancurkan dinding perbedaan.
Dengan demikian, keteladanan inada Nias menjadi model konkret pendidikan karakter kontekstual di mana kebijaksanaan tradisional dipadukan dengan nilai-nilai spiritual dan akademik modern.
5. Relevansi bagi Pendidikan Teologi dan Kehidupan Mahasiswa
Bagi mahasiswa teologi, memahami dan meneladani peran inada Nias bukan hanya latihan akademik, tetapi proses pembentukan karakter rohani dan kepemimpinan yang berbelarasa.
Pelayan Tuhan masa depan tidak hanya dituntut pandai berkhotbah, tetapi juga memiliki soft skill yang mencerminkan kasih Kristus: empati dalam mendengar pergumulan jemaat, ketekunan dalam menghadapi tantangan pelayanan, dan kemampuan berkomunikasi dengan hikmat dan kasih.
Dengan mempelajari kearifan lokal, mahasiswa belajar bahwa kasih Allah sering kali hadir melalui cara-cara sederhana yang diwariskan dalam budaya seperti kasih seorang ibu yang tidak pernah padam.
Inada Nias menjadi cerminan kasih Allah yang setia dan sabar: kasih yang tidak mencari kepentingan diri, kasih yang membangun, dan kasih yang menghidupkan.
Penutup
Inada Nias adalah cermin hidup dari kebijaksanaan lokal yang bersumber pada kasih, kesabaran, dan kedamaian. Dari sosoknya kita belajar arti empati yang menembus batas kata-kata, ketekunan yang tak kenal menyerah, serta komunikasi yang menumbuhkan kasih dan persaudaraan.
Nilai-nilai luhur ini patut dijadikan bahan pembelajaran dalam pendidikan teologi dan pengembangan soft skill mahasiswa, agar mereka tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijaksana dalam perasaan dan tindakan.
Dengan meneladani inada, mahasiswa belajar menjadi pribadi yang peka terhadap sesama, kuat menghadapi tekanan, dan mampu menjadi pembawa damai. Dalam diri inada Nias, tersimpan jejak kasih Allah yang hidup dan nyata dalam budaya manusia.
Refleksi Alkitabiah
1. Empati, Roma 12:15
“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis.”
Empati inada mencerminkan kasih Kristus yang hadir bersama umat-Nya dalam suka dan duka. Empati adalah tanda kerendahan hati untuk berjalan bersama, bukan di atas orang lain.
2. Ketekunan, Roma 5:3–4
“Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan.”
Ketekunan inada mengajarkan iman yang tidak mudah goyah. Dalam setiap kerja kerasnya, ia mengajarkan bahwa kasih dan harapan akan selalu menemukan jalannya.
3. Komunikasi, Kolose 4:6
“Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.”
Komunikasi inada menjadi teladan bagaimana kasih harus diwujudkan dalam tutur kata, karena kata yang lahir dari kasih memiliki kuasa untuk menyembuhkan dan memulihkan. (Red/*)
Materi ini adalah hasil diskusi dan Pengembangan materi Mata kuliah Soft Skill Keterampilan Berbasis Kearifan Lokal


