Oleh : Esra Novitra Ginting, Mahasiswa STT Paulus Medan Jurusan Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Komunikasi adalah nafas kehidupan sosial. Di mana ada manusia, di situ selalu ada komunikasi. Di ruang kelas, di lorong sekolah, bahkan dalam diam sekalipun, komunikasi tetap berlangsung. Itulah mengapa komunikasi menjadi salah satu hal paling penting dalam dunia pendidikan. Tanpa komunikasi, tujuan pendidikan tidak akan tercapai.
Guru tidak akan bisa menyampaikan ilmu, murid tidak akan bisa memahami materi, dan suasana belajar tidak akan bisa tercipta. Karena itu, memahami bentuk-bentuk komunikasi, baik verbal, nonverbal, maupun lintas budaya, adalah kunci membangun sekolah yang sehat dan dinamis.
Pertama-tama, mari berbicara tentang komunikasi verbal. Ini adalah bentuk komunikasi yang paling sering kita jumpai. Sederhana saja, komunikasi verbal adalah komunikasi dengan menggunakan kata-kata, baik lisan maupun tulisan. Di sekolah, komunikasi verbal tampak jelas dalam berbagai situasi, ketika guru menyampaikan aturan kepada siswa, saat ada ruang tanya jawab, maupun dalam interaksi sehari-hari seperti memberi salam, menyapa, atau bercakap ringan.
Bahasa verbal bukan hanya menyampaikan pesan, tapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan. Misalnya, ucapan salam di awal pelajaran bukan sekadar ritual, tetapi juga tanda keterhubungan antara guru dan siswa, bahwa mereka memulai proses belajar dengan rasa hormat dan kebersamaan.
Namun, komunikasi di sekolah tidak berhenti pada kata-kata. Ada juga komunikasi nonverbal, bahasa yang berbicara tanpa suara. Bahasa tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, hingga intonasi suara, semua masuk dalam kategori ini.
Contohnya, ketika seorang siswa berbicara dengan temannya saat guru sedang menjelaskan, guru cukup memberikan lirikan mata tajam. Tanpa sepatah kata pun, siswa itu biasanya langsung terdiam, paham bahwa perilakunya kurang tepat.
Atau saat guru tersenyum sambil memberi acungan jempol kepada siswa yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar. Pesan itu jelas. “Kamu hebat!” Komunikasi nonverbal punya kekuatan yang sering kali lebih cepat dipahami daripada kata-kata. Ia menembus hati, menyentuh rasa, dan memberi makna yang kadang tidak bisa diucapkan dengan verbal.
Selain verbal dan nonverbal, sekolah juga menjadi ruang bagi komunikasi lintas budaya. Meskipun SMP SIKEBEN mayoritas siswanya berasal dari suku Karo, tetap saja ada perbedaan budaya yang muncul. Bahkan di dalam satu suku yang sama, misalnya sama-sama orang Karo, ada perbedaan dalam tutur kata, dialek, atau kebiasaan sehari-hari.
Perbedaan itu bisa kecil, tapi cukup membuat kita menyadari bahwa komunikasi bukan hanya soal kata, tetapi juga soal latar belakang budaya yang melingkupinya. Bayangkan jika di sekolah ada siswa dari suku lain, Batak Toba, Jawa, atau Minang, tentu nuansa komunikasi semakin berwarna. Lintas budaya membuat kita belajar menghargai perbedaan, membuka ruang toleransi, dan mengasah kepekaan kita dalam menyampaikan pesan agar tidak menyinggung pihak lain.
Apa yang bisa kita tarik dari refleksi ini? Bahwa komunikasi di sekolah adalah sebuah seni. Ia bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga membangun hubungan, menanamkan nilai, dan merawat keberagaman.
Komunikasi verbal membantu kita menyampaikan aturan dan ilmu pengetahuan. Komunikasi nonverbal memberi kita cara lain untuk menyentuh hati dan mengingatkan dengan elegan. Sedangkan komunikasi lintas budaya mengajarkan kita untuk rendah hati, terbuka, dan menghormati keragaman manusia.
Ada pepatah bijak yang mengatakan: “Semakin banyak kita tahu, semakin kita sadar bahwa masih banyak yang tidak kita tahu.” Belajar komunikasi pun seperti itu. Semakin kita memahami beragam cara manusia berinteraksi, semakin kita sadar bahwa dunia ini begitu luas dan penuh warna. Justru kesadaran itu yang mendorong kita untuk terus belajar, memperkaya diri, dan memperhalus cara kita berhubungan dengan orang lain.
Akhirnya, belajar komunikasi adalah belajar tentang hidup itu sendiri. Selama kita masih hidup, kita akan selalu berkomunikasi. Entah lewat kata-kata, gerak tubuh, atau cara kita menghargai perbedaan. Jadi, jangan pernah lelah untuk terus belajar memahami bahasa manusia, sebab di situlah letak kunci kebijaksanaan. (Red/“)
Materi ini adalah hasil pengembangan dan diskusi magang matakuliah Soft Skill Kemampuan Berkomunikasi di Sekolah


