Oleh: Hery Buha Manalu
Inflasi Indonesia pada Juni 2025 tercatat masih dalam jalur aman. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), secara bulanan (month-to-month/mtm) berada diangka 0,19%, sementara inflasi tahunan (year-on-year/yoy) tercatat sebesar 1,87%. Angka ini jauh lebih rendah dari batas atas target Bank Indonesia (BI) sebesar 3,5%. Namun di balik angka yang terlihat menggembirakan ini, ada beberapa catatan penting yang patut menjadi perhatian bersama, terutama jika kita berbicara soal ketahanan pangan dan keseimbangan ekonomi jangka panjang.
Dalam siaran pers Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso dari Departemen Komunikasi menyebutkan bahwa inflasi yang rendah ini merupakan hasil sinergi kebijakan moneter yang konsisten serta kolaborasi erat antara BI dan pemerintah, baik pusat maupun daerah, melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID). Program unggulan seperti Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) pun dinilai efektif dalam menjaga harga-harga pangan agar tidak melonjak liar. Namun, sejauh mana gerakan ini menyentuh akar masalah pangan kita? Di sinilah diskusi seharusnya dimulai.
Salah satu hal yang mencolok dalam data pada Juni 2025 adalah melonjaknya harga bahan pangan bergejolak atau volatile food, terutama beras, cabai rawit, dan bawang merah. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,77% (mtm), berbalik dari deflasi 2,48% (mtm) bulan sebelumnya. Secara tahunan pun, kelompok ini mencatatkan inflasi 0,57% (yoy), setelah sebelumnya sempat deflasi. Pemicunya jelas: masa panen berakhir, distribusi terganggu, dan produksi terkendala cuaca.
Di sinilah terlihat bahwa secara nasional belum tentu merefleksikan kondisi di pasar-pasar tradisional tempat mayoritas masyarakat kecil berbelanja. Kenaikan harga cabai atau beras, meskipun hanya terjadi di satu bulan, bisa sangat memengaruhi daya beli harian rumah tangga kelas bawah. Bahkan bisa mengganggu ketenangan psikologis ibu rumah tangga yang harus mengatur ulang menu masakan karena harga naik tiba-tiba. Jadi, meskipun inflasi nasional terkendali, inflasi rasa di dapur-dapur rumah tangga tidak selalu mereda.
Pertanyaannya, Apakah kita terlalu fokus pada angka makro dan lupa memperkuat fondasi mikro dari sistem pangan kita? Sebab, jika pasokan pangan mudah terganggu oleh musim dan distribusi, berarti ada masalah struktural yang belum tuntas. Apakah petani cukup terlindungi dari risiko gagal panen? Apakah distribusi bahan pangan ke daerah pelosok cukup lancar dan efisien? Dan apakah kita sudah cukup serius mengembangkan cadangan pangan berbasis lokal?
Tentu kita patut mengapresiasi keberhasilan pemerintah dan BI menjaga inflasi tetap rendah. Namun melihat bahwa stabilitas harga tidak boleh hanya dilihat dari sisi statistik, tetapi harus pula dirasakan oleh masyarakat kecil secara langsung. Stabilitas harga harus menyentuh meja makan rakyat, bukan hanya memuaskan laporan keuangan negara.
Sisi menarik lainnya datang dari kelompok administered prices, harga yang diatur pemerintah. Kelompok ini mencatat inflasi 0,09% (mtm), naik dari bulan sebelumnya yang justru deflasi. Kenaikan tarif angkutan udara, harga bahan bakar rumah tangga, dan rokok menjadi pemicu utama. Meskipun masih terkendali, tren ini menunjukkan adanya tekanan dari sisi kebijakan, terutama menyangkut subsidi dan tarif jasa publik.
Di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya pulih dan potensi ketegangan geopolitik yang berdampak pada rantai pasok, menjaga agar tetap stabil memang bukan pekerjaan mudah. Namun, pemerintah tidak bisa hanya bergantung pada intervensi harga. Perlu ada pendekatan yang lebih berani dalam memperkuat produksi dalam negeri, menciptakan ekosistem distribusi pangan yang cerdas, serta mendukung petani dan pelaku usaha mikro agar tahan terhadap fluktuasi iklim dan pasar.
Ke depan, kita juga perlu lebih terbuka membahas hal ini, yang tersembunyi bukan hanya kenaikan harga, tetapi juga penyusutan ukuran kemasan produk (shrinkflation), penurunan kualitas bahan baku, atau harga yang stabil tetapi dengan pelayanan yang menurun. Hal-hal ini kerap luput dari radar statistik tetapi dirasakan masyarakat setiap hari.
Kesimpulannya, menjaga inflasi tetap rendah adalah sebuah prestasi. Namun lebih penting lagi adalah memastikan bahwa stabilitas harga itu benar-benar dirasakan di pasar, di warung, dan di dapur-dapur masyarakat. Kita butuh kebijakan yang tidak hanya makroekonomis, tetapi juga empatik, konkret, dan berkelanjutan.


