Green Times – Dalihan Na Tolu, prinsip dalam budaya Batak potensi strategis. Di tengah arus modernisasi dan tekanan pariwisata massal, Geopark Kaldera Toba menghadapi tantangan serius dalam menjaga kelestariannya. Namun, sesungguhnya warisan budaya Batak telah sejak lama memiliki kunci etika ekologis yang mampu menopang keberlanjutan alam, yaitu Dalihan Na Tolu.
Sebagai sistem nilai sosial yang diwariskan turun-temurun, budaya Dalihan Na Tolu bukan hanya panduan dalam relasi manusia, tetapi juga menyiratkan cara masyarakat Batak menempatkan diri dalam relasi yang harmonis dengan alam dan leluhur.
Dalihan Na Tolu mengajarkan tentang tanggung jawab kolektif, saling menghormati, dan tatanan sosial yang setara, yang dapat diterjemahkan sebagai prinsip dasar pengelolaan geopark secara partisipatif.
Di dalamnya terkandung nilai somba marhulahula (menghormati pemimpin atau leluhur), manat mardongan tubu (hati-hati terhadap sesama marga), dan elek marboru (menyayangi pihak perempuan atau penerus). Nilai-nilai ini membentuk etika kolektif yang mencerminkan respek terhadap kehidupan, termasuk kehidupan alam.
Ketika Geopark Toba dipandang bukan semata sebagai objek wisata, tetapi sebagai ruang hidup yang diwariskan dan perlu dilestarikan lintas generasi, maka Dalihan Na Tolu bisa menjadi kerangka etis dalam membangun kesadaran masyarakat lokal untuk menjaga keseimbangan ekologi dan budaya.
Ini bukan sekadar filosofi, tetapi modal sosial yang relevan dengan agenda global seperti ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan.
Membangkitkan kembali semangat Dalihan Na Tolu bukan berarti kembali ke masa lalu, tetapi justru membawanya ke masa depan. Ia menjadi pijakan untuk membangun pengelolaan geopark berbasis kearifan lokal, dengan manusia sebagai penjaga dan bukan perusak.
Dari Toba, kita belajar bahwa harmoni antara batu, budaya, dan bumi dapat dijaga jika manusia kembali mendengarkan suara leluhur yang hidup dalam nilai-nilai budaya mereka sendiri. (Hery Buha Manalu)


