Oleh : Hery Buha Manalu
Budaya bukan sekadar warisan masa lalu yang dibingkai oleh adat, simbol, dan ritus, ia adalah napas hidup manusia, cara berpikir, merasa, bekerja, merayakan, dan memaknai dunia. Dalam perspektif iman Kristen, budaya tidak pernah berada di luar perhatian Allah. Justru di sanalah Allah bekerja, menyapa, dan menyatakan kehendak-Nya. Alkitab menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk berbudaya sejak awal penciptaan. “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kejadian 1:26). Pernyataan ini mengandung makna bahwa manusia dipanggil untuk mengolah ciptaan, membangun relasi, dan mengembangkan kebudayaan sebagai perpanjangan karya Allah di dunia.
Budaya lahir dari relasi, relasi manusia dengan Allah, dengan sesama, dan dengan alam. Ketika relasi ini sehat, budaya menjadi ruang yang memuliakan Tuhan dan memanusiakan manusia. Namun ketika relasi itu rusak oleh dosa, ia pun dapat menyimpang, menjadi alat penindasan, kekerasan, atau pemujaan diri. Alkitab tidak menutup mata terhadap kenyataan ini. Kisah Menara Babel (Kejadian 11:1–9) menunjukkan bagaimana proyek budaya manusia, ketika dilepaskan dari ketaatan kepada Allah, berujung pada kekacauan. Namun Allah tidak memusnahkannya Ia memurnikannya. Allah membiarkan manusia belajar, jatuh, dan dibentuk kembali.
Yesus Kristus hadir bukan sebagai sosok asing yang menolaknya, melainkan sebagai Pribadi yang masuk ke dalam budaya tertentu, budaya Yahudi abad pertama. Ia lahir, bertumbuh, berbicara, dan mengajar dalam konteks budaya nyata. Injil Yohanes menegaskan, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yohanes 1:14). Inkarnasi adalah peristiwa budaya: Allah masuk ke dalam bahasa, simbol, dan kehidupan sehari-hari manusia. Ini pesan penting bagi iman Kristen, Injil tidak anti-budaya, tetapi hadir untuk menebus dan mengarahkan budaya.
Rasul Paulus memperlihatkan sikap teologis yang matang terhadap hal ini. Ketika berkhotbah di Atena, ia tidak mencela kebudayaan Yunani, melainkan mengutip puisi dan filsafat mereka untuk menjelaskan Allah yang hidup (Kisah Para Rasul 17:22–28). Paulus memahami bahwa budaya adalah jembatan, bukan tembok. Ia bahkan menyatakan, “Bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi… bagi orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat” (1 Korintus 9:20–22). Prinsip ini menegaskan bahwa iman Kristen bersifat dialogis, mampu berdialog dengan ini tanpa kehilangan identitasnya.
Dalam konteks pendidikan agama Kristen, pemahaman ini menjadi sangat relevan. Mahasiswa hidup di tengah arus budaya digital, budaya instan, dan budaya global yang serba cepat. Tantangannya bukan sekadar menghakiminya, melainkan menolong mahasiswa menilai dan mengolahnya secara kritis dan beriman. Alkitab mengingatkan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu” (Roma 12:2). Ayat ini bukan ajakan untuk lari darinya, melainkan undangan untuk mentransformasikannya dengan akal budi yang diperbarui oleh Kristus.
Hal ini juga menyimpan nilai-nilai luhur yang sejalan dengan kehendak Allah, solidaritas, keadilan, penghormatan terhadap kehidupan, dan tanggung jawab sosial. Nabi Mikha merumuskannya dengan sederhana namun tajam, “Yang dituntut Tuhan daripadamu: berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu” (Mikha 6:8). Ketika nilai-nilai ini hidup dalam budaya, iman Kristen menemukan rumahnya. Sebaliknya, ketika budaya kehilangan arah moral, gereja dan dunia akademik dipanggil menjadi suara kenabian, bukan dengan teriakan kebencian, melainkan dengan kesaksian hidup.
Pada akhirnya, ia adalah ladang pelayanan dan ruang perjumpaan dengan Allah. Iman Kristen yang dewasa tidak alergi terhadapnya, tetapi juga tidak larut tanpa daya kritis. Hal yang perlu ditafsir, disaring, dan ditransformasi dalam terang Injil. Seperti garam dan terang (Matius 5:13–16), orang percaya dipanggil hadir di tengah budaya, memberi rasa, menerangi arah, dan menjaga kehidupan. Di sanalah iman menjadi nyata bukan hanya di mimbar dan ruang ibadah, tetapi di kelas, pasar, media sosial, dan seluruh denyut kehidupan manusia. (Red/*)


