BerandaBudayaJong Batak’s Arts Festival 2025 Rayakan Seni, Budaya, dan Kearifan Pangan Lokal...

Jong Batak’s Arts Festival 2025 Rayakan Seni, Budaya, dan Kearifan Pangan Lokal di Medan

Green Times | Medan :

Perhelatan seni dan budaya terbesar dari generasi muda Batak, Jong Batak’s Arts Festival (JBAF), kembali digelar tahun ini. Memasuki usia ke-12, festival yang diinisiasi oleh Rumah Karya Indonesia (RKI) ini siap menyapa publik dengan semangat baru di Taman Budaya Medan, Jalan Perintis Kemerdekaan, mulai 18 hingga 28 Oktober 2025.

Menariknya, Jong Batak’s Arts Festival tahun ini hadir dengan tema yang hangat dan membumi. Festival ini mendapat dukungan dari Dana Indonesiana, dengan fokus menjadikan pangan lokal sebagai sumber kreativitas seni dan budaya. Tak sekadar soal makanan, pangan lokal diangkat sebagai simbol pengetahuan, kearifan, dan identitas budaya yang hidup di tengah masyarakat.

“Pangan lokal bukan hanya sesuatu yang kita makan, tetapi juga menyimpan nilai dan pengetahuan budaya yang luar biasa,” ujar Audrin Manurung, Direktur Festival JBAF, dalam bincang santai bersama media di Taman Budaya Medan, Jumat (17/10/2025).

Dengan konsep yang menggabungkan seni, musik, kuliner, dan tradisi, Jong Batak’s ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan lintas generasi untuk merayakan kekayaan budaya Batak dalam semangat kebersamaan dan kreativitas tanpa batas.

Dikatakan Audrin, festival ini menjadi ajang pertemuan seniman, komunitas, dan masyarakat untuk merayakan seni dan budaya, sekaligus mengangkat isu penting tentang pangan lokal.

Tahun ini, jelas Audrin, Jong Batak’s mengusung tema “Pangan Lokal: Ronggurnesia Suara dari Akar Budaya yang Menggema ke Masa Depan”.

“JBAF #12 ingin menegaskan peran pangan bukan sekadar konsumsi, tetapi juga sebagai identitas, ingatan kolektif, dan warisan yang menyatukan masyarakat,” kata Audrin.

Dengan mengusung semangat Ronggurnesia, tambah Audrin, festival ini diharapkan dapat menjadi gema suara-suara lokal yang menembus batas, menyuarakan harapan akan masa depan yang lebih berdaulat secara budaya dan pangan.

Baca Juga  World Cleanup Day 2025, Atasi Sampah dari Hulu

Berbagai komunitas seni dari sejumlah kota di Indonesia akan tampil di JBAF. Termasuk Tongam Sirait, Vicky Sianipar dan sebagainya.

Selain itu, juga ikut mengisi acara sejumlah pelaku seni dan budaya dari berbagai daerah di Sumut yang masih aktif menggelar ritus budaya. Ritus-ritus itu aka ln dipertunjukkan di panggung JBAF, kata Audrin.

Agenda Selama 11 Hari

Panggung pertunjukan menampilkan musik, tari, teater, dan seni lintas disiplin. Diskusi dan workhsop yakni
ruang belajar bersama mengenai pangan, seni, dan kebudayaan. Pasaraya yaitu pameran produk dan pengetahuan pangan tradisional.

Kemudian program regenerasi yang melibatkan pelajar, mahasiswa, dan komunitas muda. Lalu pameran dan instalasi seni menyoroti pangan lokal, lingkungan, dan kebudayaan.

“Sejak pertama kali digelar pada 2014, JBAF konsisten mczenjadi ruang kolaborasi terbuka bagi seniman muda maupun senior, komunitas, dan masyarakat. Tahun ini, JBAF kembali mengajak semua pihak untuk merayakan hubungan manusia dengan tanah, air, dan hasil bumi, serta menghidupkan kembali kesadaran akan pentingnya pangan lokal sebagai bagian dari identitas budaya,” tandas Audrin.

Kurator Jong Batak’s (JBAF 2025) Junita Batubara menambahkan istilah “Ronggur” dalam bahasa Batak Toba berarti petir. Dalam konteks ini, petir diartikan sebagai ruang bunyi yang menggema.

“Spiritnya ‘ringgur’ menjadi ruang bunyi yang menggema untuk masa depan. Lewat kegiatan ini, identitas kita akan menggema kembali lewat pangan lokal dengan kekayaan pengetahuan dan nilai yang ada di dalamnya,” kata Junita.

Kurator Ojax Manalu menambahkan, dari persiapan yang dilakukan selama proses JBAF, pihaknya menemukan banyak sekali pengetahuan dan nilai yang ada di dalam wacana pangan lokal.

Rumah Karya Indonesia sebagai inisiator Jong Batak’s ini , kata Ojax, memilih pangan lokal karena isu ini sangat mendasar dan sangat penting terutama dalam situasi global hari ini.

Baca Juga  Alam dan Budaya, Dua Saudara Tak Terpisahkan di Tanah Toba

Indonesia, khususnya Sumatra Utara, sangat kaya dengan pangan lokalnya. Dari temuan dan diskusi kami di sejumlah daerah, ketahanan pangan terkait erat dengan ritus yang mengikatnya.

“Bisa dikatakan dari hasil riset kami, ketahanan pangan itu semakin kuat pada masyarakat yang ekosistem budayanya tetap terjaga,” kata Ojax. (Red/Hery Buha Manalu)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read