BerandaOpini & RefleksiDalihan Na Tolu dalam Kehidupan Mahasiswa, Menemukan Harmoni dalam Relasi dan Pelayanan

Dalihan Na Tolu dalam Kehidupan Mahasiswa, Menemukan Harmoni dalam Relasi dan Pelayanan

Makna Dalihan Na Tolu sebagai Pedoman Hidup

Oleh : Zerlina Giawa, Mahasiswa STT Paulus Medan, Prodi Pendidikan Agama Kristen

Dalihan Na Tolu secara harfiah berarti “tungku yang tiga” adalah konsep sosial dan filosofis yang menjadi inti sistem kekerabatan Batak Toba. Seperti tungku yang membutuhkan tiga batu untuk menopang periuk agar tetap seimbang, demikian pula kehidupan manusia membutuhkan keseimbangan hubungan antara tiga unsur:

1. Hula-hula, pihak yang harus dihormati,
2. Dongan tubu, pihak yang harus diajak bermusyawarah secara setara, dan
3. Boru, pihak yang harus dilindungi dan dikasihi.
Ketiga unsur ini bukan hanya struktur adat, tetapi juga nilai moral dan sosial yang membentuk cara berpikir, berelasi, dan bersikap. Dalihan Na Tolu mengajarkan keseimbangan antara hormat, kebersamaan, dan kasih.

2.Penerapan Dalihan Na Tolu dalam Dunia Mahasiswa
Dalam kehidupan kampus, nilai-nilai Dalihan Na Tolu bisa menjadi panduan konkret dalam membangun relasi yang sehat dan harmonis.
1. Hormat kepada Dosen dan Pimpinan (Hula-hula)
Seperti seorang anak menghormati hula-hula dalam adat, mahasiswa diajar untuk menghargai dosen dan pemimpin dengan sikap rendah hati. Menghormati bukan berarti takut, tetapi mengakui peran dan kebijaksanaan mereka sebagai pembimbing. Dengan menghormati dosen, mahasiswa menumbuhkan sikap belajar yang sungguh-sungguh dan menghargai ilmu sebagai anugerah.
2. Kerja Sama dengan Teman Selevel (Dongan Tubu)
Dalam kehidupan kampus atau organisasi, mahasiswa hidup dalam komunitas sejajar. Prinsip dongan tubu mengajarkan musyawarah, saling mendukung, dan menjaga keseimbangan tanpa iri hati. Teman bukan pesaing, melainkan mitra belajar dan berproses bersama. Bila prinsip ini dijaga, konflik karena ego, kesalahpahaman, atau perbedaan pendapat bisa diminimalisir.
3. Kasih dan Pembimbingan terhadap Junior (Boru)
Mahasiswa senior berperan seperti hula-hula bagi adik tingkatnya. Mereka dipanggil untuk menuntun, membimbing, dan memberi teladan dengan kasih.

Baca Juga  Inflasi Terkendali, Tapi Ketahanan Pangan Masih Ujian Serius

Seorang senior yang menghidupi semangat Dalihan Na Tolu tidak akan merendahkan juniornya, melainkan menjadi penolong yang menumbuhkan. Nilai ini membangun kultur akademik yang inklusif, di mana setiap orang merasa diterima dan dihargai.

Dalihan Na Tolu sebagai Model Kepemimpinan Relasional
Dalihan Na Tolu juga mengandung pelajaran tentang kepemimpinan yang berakar pada relasi. Seorang pemimpin yang memahami nilai ini akan menghormati atasannya, bekerja sama dengan rekan sejawat, dan mengasihi bawahannya. Pola ini menciptakan keseimbangan yang mencegah kesombongan di puncak, kecemburuan di tengah, dan ketertindasan di bawah.

Dalam dunia pelayanan gereja, prinsip ini membentuk pemimpin yang mengutamakan kebersamaan daripada kekuasaan. Pelayan yang hidup dalam pola Dalihan Na Tolu akan menjadi jembatan bagi jemaat, bukan tembok pemisah.

Refleksi Alkitabiah, Dalihan Na Tolu dan Nilai Kerajaan Allah

Konsep Dalihan Na Tolu memiliki kesejajaran yang indah dengan ajaran kasih dalam Alkitab. Prinsip “hormat setara kasih” selaras dengan nilai-nilai Kerajaan Allah yang Yesus ajarkan
1. Hormat kepada yang lebih tua atau pemimpin
“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu.
Ibrani 13:17 Dalam menghormati dosen dan pemimpin, mahasiswa belajar tentang ketaatan yang melatih kerendahan hati dan menghargai otoritas yang ditetapkan Allah.
2. Kebersamaan dengan teman selevel
“Janganlah kamu memandang kepentingan sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Filipi 2:4 Prinsip dongan tubu mengajarkan semangat kolaborasi dan kesetaraan, sebagaimana Kristus mengajarkan hidup dalam saling melayani.
3. Kasih kepada yang lebih muda atau yang dibimbing
“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya” 1 Timotius 4:12
Seorang senior atau pemimpin dipanggil menjadi teladan dalam tutur kata, kasih, dan kesetiaan bukan menindas, melainkan membangun.
4. Hidup dalam kasih sebagai dasar segalanya:
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Matius 7:12
Prinsip “hormat, kerja sama, kasih” adalah wujud nyata dari Hukum Emas ini kasih yang aktif dan timbal balik.

Baca Juga  Perkataan yang Menghidupkan, Kekuatan Komunikasi dalam Pendidikan Kristen

Penutup Reflektif

Dalam konteks kehidupan mahasiswa, Dalihan Na Tolu bukan hanya warisan budaya Batak, tetapi juga pedoman moral dan spiritual. Mengajarkan bagaimana menghormati otoritas, menjaga harmoni dengan sesama, dan melayani dengan kasih. Jika setiap mahasiswa menerapkan nilai ini, kampus akan menjadi tempat di mana ilmu, karakter, dan spiritualitas tumbuh bersama.

Dalihan Na Tolu membantu mahasiswa menjadi pribadi yang seimbang: tahu kapan harus tunduk, kapan berdialog, dan kapan menuntun. Seperti Kristus yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani (Markus 10:45), demikianlah nilai-nilai Dalihan Na Tolu mengingatkan kita bahwa hidup yang sejati bukan tentang posisi, melainkan tentang relasi relasi yang dibangun atas dasar kasih, hormat, dan kebersamaan. (Red/*)

Materi ini adalah hasil diskusi dan Pengembangan materi Mata kuliah Soft Skill Keterampilan Berbasis Kearifan Lokal

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read