Oleh: Hery Buha Manalu
Ketika dunia masih bergulat dengan ketidakpastian ekonomi global, mulai dari tekanan geopolitik, fluktuasi harga komoditas, hingga pemulihan pasca pandemi, Indonesia justru membawa pulang kabar yang membanggakan neraca perdagangan pada Mei 2025 mencatat surplus sebesar 4,30 miliar dolar AS. Ini bukan angka kecil. Apalagi jika dibandingkan dengan surplus pada bulan sebelumnya yang hanya 0,16 miliar dolar AS. Kenaikan ini bukan hanya soal angka, tetapi sinyal kuat bahwa ada daya tahan dan daya gerak yang sedang tumbuh di dalam tubuh ekonomi nasional.
Bank Indonesia menyambut data ini dengan optimisme yang hati-hati. Melalui siaran pers yang disampaikan oleh Ramdan Denny Prakoso dari Departemen Komunikasi BI, disebutkan bahwa surplus perdagangan kali ini menopang ketahanan eksternal perekonomian. Benar, dalam teori maupun praktik, ketahanan eksternal, yakni kemampuan suatu negara menjaga stabilitas ekonomi dari tekanan luar, memang sangat ditentukan oleh kinerja neraca perdagangan.
Namun, sebagai seorang peneliti dan pengajar ekonomi bisnis, saya memandang surplus ini tidak boleh hanya dirayakan sebagai angka statistik. Kita harus membaca lebih dalam: apa sumber surplus ini, apakah ia berkelanjutan, dan bagaimana bisa dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat struktur ekonomi nasional.
Ekspor Nonmigas: Motor Utama yang Harus Dijaga
Surplus pada Mei 2025 ini didorong oleh neraca perdagangan nonmigas yang mencatat surplus sebesar 5,83 miliar dolar AS. Penyebabnya adalah meningkatnya ekspor nonmigas yang mencapai 23,50 miliar dolar AS. Produk-produk yang mendominasi ekspor antara lain lemak dan minyak nabati, logam mulia dan perhiasan, serta besi dan baja.
Jika kita telaah, sebagian besar ekspor tersebut masih berbasis sumber daya alam (SDA). Meski ada unsur manufaktur seperti baja, tetap saja dominasi komoditas primer belum bisa kita anggap sebagai keberhasilan transformasi ekonomi. Justru di sinilah letak tantangan kita ke depan: bagaimana menjadikan surplus ini sebagai landasan untuk memacu industrialisasi yang bernilai tambah tinggi.
Pasar utama ekspor Indonesia masih berkisar di tiga negara: Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Ketergantungan yang terlalu tinggi pada pasar besar memang bisa menjanjikan volume ekspor besar, tetapi juga membuat kita rentan terhadap kebijakan dagang dan fluktuasi ekonomi di negara-negara tersebut.
Defisit Migas: Sisi Lain yang Tak Boleh Diabaikan
Di balik kabar surplus nonmigas, terselip catatan yang harus menjadi perhatian serius: defisit perdagangan migas meningkat menjadi 1,53 miliar dolar AS. Penyebabnya adalah meningkatnya impor migas sementara ekspor migas justru turun.
Ini bukan masalah baru, tetapi masalah yang terus berulang. Ketergantungan Indonesia terhadap energi impor—baik dalam bentuk minyak mentah, bahan bakar, maupun gas, menjadi salah satu titik lemah yang menahan laju pembangunan ekonomi jangka panjang.
Maka dari itu, saya menilai bahwa agenda kemandirian energi harus kembali menjadi prioritas nasional. Ini bukan hanya soal mengurangi impor, tetapi juga membangun ekosistem energi baru dan terbarukan yang efisien, inklusif, dan bisa menjadi sumber ekspor baru ke depan.
Sinergi Kebijakan: Menjawab Tantangan dengan Kolaborasi
Penting untuk digarisbawahi bahwa surplus dagang tidak bisa bekerja sendirian dalam membangun ketahanan ekonomi. Ia harus disertai dengan sinergi kebijakan antara Bank Indonesia, Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, Bappenas, serta pelaku usaha dan masyarakat.
Misalnya, kebijakan moneter BI yang menjaga stabilitas nilai tukar rupiah harus sejalan dengan strategi ekspor dari Kementerian Perdagangan. Begitu pula, insentif fiskal dari pemerintah harus diarahkan untuk mendorong hilirisasi industri dan peningkatan produktivitas sektor riil.
Kunci dari semua itu adalah kolaborasi multisektor, bukan hanya antar lembaga negara, tetapi juga antara negara dan rakyat. Kita perlu memperkuat UMKM sebagai aktor ekspor baru, membangun rantai pasok lokal yang efisien, serta mempermudah investasi untuk sektor-sektor berorientasi ekspor.
Saatnya Melangkah Lebih Jauh
Surplus perdagangan Mei 2025 adalah kabar baik yang patut disyukuri. Tapi ia juga sekaligus sebuah peringatan halus bahwa kita harus segera melangkah ke tahap berikutnya. Tidak cukup puas hanya menjadi eksportir bahan mentah. Tidak cukup nyaman hanya mencatat surplus angka.
Saatnya kita dorong industrialisasi yang berkelanjutan, diversifikasi pasar ekspor, dan transformasi struktur ekonomi yang benar-benar menyejahterakan rakyat. Karena pada akhirnya, kekuatan ekonomi bukan hanya soal neraca perdagangan, tetapi soal bagaimana rakyat Indonesia bisa hidup lebih baik, lebih mandiri, dan lebih bermartabat di negeri sendiri.


