BerandaArtikelKetahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Geopolitik, Tanda Kuat atau Sekadar Bertahan?

Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Geopolitik, Tanda Kuat atau Sekadar Bertahan?

Oleh: Hery Buha Manalu

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan geopolitik, tren suku bunga tinggi, ketidakpastian pertumbuhan global, dan dinamika iklim digital serta energi telah menciptakan medan ekonomi global yang penuh tantangan. Namun di tengah tekanan itu, Indonesia tampak masih mampu berdiri, bahkan mulai menunjukkan sinyal ketahanan yang menjanjikan. Pertanyaannya: apakah ini bukti kekuatan fundamental ekonomi kita, atau hanya kemampuan bertahan sementara?

Bank Indonesia baru-baru ini merilis data penting yang memberi kita gambaran utuh tentang posisi Indonesia di tengah guncangan dunia. Di satu sisi, nilai tukar Rupiah mulai menunjukkan stabilitas. Di sisi lain, investor asing mulai menunjukkan sinyal balik arah—setelah sempat hengkang dari pasar saham dan surat berharga.

Rupiah Stabil, Kepercayaan Investor Mulai Pulih

Per 25 Juni 2025, Rupiah ditutup pada level Rp16.285 per dolar AS, lalu menguat tipis menjadi Rp16.270 keesokan paginya. Meski belum kembali ke level ideal, kestabilan ini patut dicatat. Apalagi dalam situasi global yang fluktuatif, di mana nilai tukar mata uang negara berkembang cenderung tertekan oleh penguatan dolar AS dan ketidakpastian suku bunga The Fed.

Bersamaan dengan itu, yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun turun menjadi 6,63%—tanda bahwa investor mulai menilai risiko Indonesia relatif terkendali. Turunnya yield biasanya menjadi cermin meningkatnya permintaan terhadap surat utang negara, yang pada gilirannya menunjukkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi dan kebijakan moneter.

Lebih lanjut, yield US Treasury 10 tahun juga turun ke 4,291%, dan indeks dolar (DXY) melemah ke level 97,68. Kombinasi ini memberikan ruang gerak bagi mata uang negara berkembang untuk bernapas, termasuk Rupiah.

Yang menarik, dalam periode 23–25 Juni 2025, investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp2,83 triliun. Angka ini terdiri dari pembelian SBN Rp1,29 triliun dan SRBI Rp3,68 triliun, meski pasar saham masih mengalami tekanan dengan penjualan bersih Rp2,14 triliun.

Baca Juga  Pendidikan Iman Kristen dalam Konteks Multikultural

Tren ini memberi sinyal positif bahwa Indonesia masih dipandang sebagai tujuan investasi yang cukup menjanjikan. Tapi kita perlu cermat. Karena sepanjang 2025 hingga akhir Juni, asing masih mencatatkan penjualan bersih di pasar saham sebesar Rp52,05 triliun, dan di SRBI sebesar Rp35,87 triliun, meski di pasar obligasi mereka mencatatkan pembelian bersih Rp40,80 triliun.

Artinya, Indonesia memang masih menarik, tapi investor lebih memilih instrumen yang aman seperti obligasi daripada saham. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan belum sepenuhnya pulih, dan tantangan domestik seperti reformasi struktural, stabilitas hukum, serta kepastian regulasi tetap menjadi pekerjaan rumah besar.

CDS Turun, Risiko Dinilai Lebih Terkendali

Satu lagi indikator yang tak boleh dilupakan adalah Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun yang turun menjadi 78,05 basis poin dari 81,06 sebelumnya. CDS adalah semacam “asuransi risiko” atas surat utang negara. Jika CDS turun, itu artinya biaya asuransi terhadap risiko gagal bayar Indonesia lebih murah, atau dalam kata lain: pasar memandang Indonesia lebih aman.

Turunnya CDS menjadi pertanda bahwa ketahanan fiskal dan moneter Indonesia masih dipandang positif oleh pelaku pasar global. Ini juga menjadi hasil dari kebijakan BI yang terus melakukan sinergi dengan pemerintah dalam menjaga stabilitas makro dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Ketahanan Butuh Fondasi, Bukan Sekadar Strategi Tambal Sulam

Ketahanan ekonomi bukan sekadar tentang bisa bertahan dari gejolak. Lebih dari itu, ia adalah tentang memiliki fondasi yang kuat, daya adaptif yang cepat, dan strategi jangka panjang yang konsisten. Dalam konteks ini, data-data BI menunjukkan bahwa Indonesia berada pada posisi yang cukup menjanjikan, tetapi belum final.

Ketahanan ekonomi nasional harus diperkuat dari dalam. Ketergantungan pada modal asing masih tinggi, sementara sektor produktif domestik masih belum optimal dalam menyerap tenaga kerja, meningkatkan nilai tambah, dan menciptakan daya saing berkelanjutan. Penguatan UMKM, hilirisasi industri, digitalisasi ekonomi, dan penguatan fiskal daerah menjadi komponen penting yang tak bisa ditunda.

Baca Juga  Agama sebagai Jantung Kehidupan Sosial, Fungsi, Peran, dan Struktur Sosial dalam Masyarakat

Langkah BI dalam memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas lain merupakan langkah penting. Namun yang tak kalah penting adalah kejelasan arah. Strategi bauran kebijakan yang dilakukan BI—moneter, fiskal, dan makroprudensial—harus berpihak pada penguatan ekonomi domestik yang berkelanjutan, bukan hanya respons sesaat terhadap tekanan global.

Bagi Indonesia, ketahanan ekonomi bukan sekadar bertahan. Ia adalah soal bagaimana kita menciptakan ruang tumbuh di tengah keterbatasan. Ia adalah soal keberanian mengambil keputusan jangka panjang, sekaligus memastikan distribusi manfaat ekonomi merata ke seluruh penjuru negeri.

Data yang dirilis Bank Indonesia memberi secercah harapan. Tapi lebih dari sekadar angka, yang dibutuhkan Indonesia hari ini adalah keteguhan dalam membangun sistem ekonomi yang kuat, adil, dan adaptif. Dalam dunia yang terus berubah, hanya negara dengan fondasi ekonomi kokoh dan kepemimpinan strategis yang bisa tumbuh, bukan sekadar bertahan.

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read