Oleh : Sri Ulina Br Tarigan, Mahasiswa STT Paulus Medan, Jurusan Pendidikan Agama Kristen
Gotong royong dalam adat Karo berarti mendahulukan kepentingan bersama. Orang memberikan tenaga, waktu, bahkan pikiran, tanpa mengukur dengan uang. Nilai ini mengajarkan keterampilan empati dan solidaritas, sebuah soft skill yang sangat dibutuhkan di dunia kerja maupun kehidupan sosial. Misalnya, saat petani bergantian mengolah ladang dalam sistem aron, mereka bukan hanya menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga melatih manajemen waktu, keterampilan komunikasi, dan koordinasi tim. Setiap orang belajar menjadi pemimpin sekaligus pengikut, tahu kapan harus memberi instruksi, kapan harus mendengar.
Namun, perkembangan zaman menggeser makna ini. Gotong royong perlahan berganti rupa menjadi kerja upahan. Inilah tantangan yang perlu kita renungkan: bagaimana menjaga roh gotong royong tetap hidup sebagai budaya berbasis ketulusan, bukan semata transaksi.
Rakut Sitelu, Soft Skill dalam Ikatan Sosial
Selain gotong royong, masyarakat Karo juga mengenal Rakut Sitelu, sistem kekerabatan yang membagi peran menjadi Kalimbubu, Senina, dan Anak Beru. Dalam konteks soft skill, Rakut Sitelu adalah bentuk nyata kecerdasan sosial dan kemampuan kolaborasi.
Kalimbubu dihormati sebagai “pemberi perempuan”, melatih kita tentang pentingnya menghargai otoritas dan kebijaksanaan.
Senina mewakili saudara sedarah, mengajarkan solidaritas dan kerja tim yang setara.
Anak Beru menjadi pelayan adat, yang menumbuhkan kerendahan hati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.
Ketiga peran ini ibarat tungku tiga batu (daliken sitelu) yang menopang kehidupan. Semua orang belajar untuk saling mengandalkan. Dalam dunia modern, inilah keterampilan networking, leadership, dan service mindset yang sangat berharga.
Landek, Ekspresi Kreatif dan Keterampilan Emosional
Dalam tradisi Karo, tarian disebut landek. Ia bukan sekadar hiburan, tetapi sarana mengekspresikan perasaan, menyampaikan doa, bahkan menyatukan komunitas. Misalnya, Tari Gundala-Gundala memanggil hujan, Tari Lima Serangkai menggambarkan kisah cinta dan kebersamaan, sedangkan Tari Piso Surit mengungkapkan kerinduan.
Melalui tarian, masyarakat Karo melatih kecerdasan emosional, kreativitas, dan kepekaan sosial. Penari belajar mengolah rasa, memahami ritme kelompok, dan mengharmonikan gerak dengan orang lain. Bukankah ini juga keterampilan penting di era kini, ketika komunikasi nonverbal, empati, dan ekspresi diri semakin menentukan keberhasilan seseorang?
Kearifan yang Membentuk Karakter
Nilai-nilai Karo tidak berhenti pada kerja dan tarian. Mereka juga tampak dalam kepercayaan, makanan, dan filosofi hidup. Makanan khas seperti pagit-pagit atau tasak telu bukan hanya soal rasa, tetapi melambangkan kebersamaan. Hidangan disajikan untuk dinikmati bersama, mengajarkan keterampilan berbagi dan rasa syukur. Begitu pula kepercayaan lama yang meyakini roh dalam alam, kini bertransformasi dalam iman kepada Tuhan (Dibata). Ada kesinambungan nilai spiritual yang menumbuhkan kesadaran transendental—soft skill berupa kesadaran diri, integritas, dan etika.
Relevansi dengan Kehidupan Modern
Dalam dunia kerja, perusahaan kini lebih menghargai soft skill ketimbang sekadar keterampilan teknis. Kemampuan bekerja sama, berkomunikasi efektif, dan menyelesaikan masalah bersama adalah kualitas yang dicari. Semua ini sesungguhnya telah lama diajarkan budaya Karo. Gotong royong menanamkan teamwork, Rakut Sitelu mengajarkan networking, Landek melatih ekspresi kreatif, dan hidangan adat menumbuhkan keterampilan berbagi.
Firman Tuhan meneguhkan nilai ini. Paulus menasihati jemaat di Korintus agar “seia sekata dan sehati sepikir” (1 Korintus 1:10), sejalan dengan semangat gotong royong yang menolak perpecahan. Yesus juga berpesan, “supaya kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:34), yang sesungguhnya menjadi inti dari seluruh praktik budaya Karo: kasih yang diwujudkan dalam kerja, pelayanan, dan kebersamaan.
Menjaga dan Menghidupi Kearifan Lokal
Di tengah arus globalisasi, kearifan lokal sering dipandang usang. Padahal, ia menyimpan soft skill yang justru paling dibutuhkan di era modern. Budaya Karo mengingatkan kita bahwa teknologi tanpa empati akan kering, dan kemajuan tanpa solidaritas hanya melahirkan kesenjangan.
Gotong royong, Rakut Sitelu, Landek, hingga filosofi makanan adat adalah sekolah kehidupan yang membentuk karakter unggul. Jika kita mampu menghidupkan kembali nilai-nilai ini, maka kita tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga mempersiapkan generasi yang tangguh, kreatif, dan berempati. (Red/*)
Materi ini adalah pengembangan hasil diskusi dari Mata Kuliah Soft Skill Keterampilan Berbasis Kearifan Lokal


