Green Times | Medan :
Metropolitan Photios dari Athena, Yunani, mengunjungi Kota Medan selama empat hari. SMP Kristen Johannes Prodromos menyambut kunjungan itu sebagai peristiwa penting bagi penguatan iman dan pendidikan Orthodox di Indonesia.
Kunjungan Metropolitan Photios disambut langsung oleh siswa dan siswi SMP Kristen Johannes Prodromos. Para pelajar terlibat dalam rangkaian penyambutan yang disiapkan sekolah bersama para guru.

Salah satu bagian utama dalam penyambutan itu adalah penampilan Tor-Tor Pangelekan. Tarian ini dibawakan siswa dan siswi sekolah tersebut dalam konteks adat dan budaya Batak Toba.
Tor-Tor Pangelekan bukan sekadar pertunjukan seni. Dalam tradisi Batak Toba, tarian ini merupakan bagian dari ritual Hahomion. Filosofinya mengandung permohonan kepada Tuhan melalui kearifan lokal untuk memohon kebaikan, perlindungan, dan berkat agar kehidupan berjalan selaras.
Tor-Tor Pangelekan memuat tiga nilai utama. Pertama, nilai ketuhanan atau spiritualitas. Nilai ini menegaskan permohonan manusia kepada Tuhan untuk memperoleh kebaikan dan perlindungan.

Kedua, nilai transisi dan harapan. Tarian ini menjadi simbol kehidupan baru dan pemulihan nilai-nilai positif. Ketiga, nilai keseimbangan. Nilai ini menekankan hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
Dalam pelaksanaannya, Tor-Tor Pangelekan memadukan dua unsur tarian yang saling berkaitan, yakni Pangurason dan menabur Boras Pir. Dua unsur ini memperkuat makna spiritual yang terkandung dalam keseluruhan penyambutan.
Pangurason dalam masyarakat Batak Toba dimaknai sebagai tradisi penyucian atau pembersihan. Pembersihan itu tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual. Filosofi Pangurason terkait dengan upaya membersihkan desa atau wilayah dari mara bahaya, bencana, serta berbagai hal negatif.

Tradisi ini juga mengandung makna pelestarian alam, menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam, dan relasi dengan Sang Pencipta.
Adapun Boras Pir atau Boras Si Pir Ni Tondi mengandung makna sebagai simbol penguat roh, jiwa, dan semangat seseorang. Dalam adat Batak Toba, menabur Boras Pir melambangkan harapan agar seseorang menjadi tangguh, kokoh, sejahtera, panjang umur, memperoleh rezeki, serta terlindung dari marabahaya.
Penampilan Tor-Tor Pangelekan dalam penyambutan Metropolitan Photios menunjukkan pertemuan antara nilai iman dan budaya lokal. Sekolah menempatkan budaya Batak Toba sebagai bagian penting dalam cara menyambut tamu kehormatan, tanpa melepaskan pesan spiritual yang terkandung di dalamnya.
Bagi SMP Kristen Johannes Prodromos, kunjungan Metropolitan Photios menjadi momentum bersejarah. Kehadiran tokoh gerejawi dari Athena itu memperkuat posisi sekolah sebagai lembaga pendidikan yang memberi perhatian pada pengembangan iman dan pendidikan Orthodox.
Dalam kegiatan tersebut, siswa dan siswi SMP Kristen Johannes Prodromos didampingi Kepala Sekolah Mula Sahap Situmorang, M.Th. Turut mendampingi guru prakarya Rafael Sinaga, S.Sn, guru Bahasa Indonesia Oktafiani Sihite, S.Pd., Gr, serta guru IPA Yuniarta Pardede, S.Pd.
Kunjungan Metropolitan Photios ke Medan pada akhirnya tidak hanya menjadi agenda seremonial. Kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi siswa untuk memahami nilai spiritual, pendidikan, dan budaya secara bersamaan. Di sekolah itu, penyambutan terhadap tamu dari Yunani tersebut menjadi cara untuk meneguhkan identitas iman sekaligus merawat warisan budaya Batak Toba. (Red/*)


