Green Times – Bertani, di tengah padatnya kendaraan di Jalan Gatot Subroto, riuh pasar tradisional di Petisah, dan deretan gedung beton yang menjulang di sekeliling Lapangan Merdeka, kita rindu ada harapan baru yang tumbuh menghijaukan kota. Tanaman sayur dari botol bekas di balkon warga, kebun cabai di atap ruko, dan kompos hasil gotong royong warga komplek, suatu saat bisa ada. Ini harapan untuk kota yang ramah hijau dan bukan untuk sekadar tren, ini adalah cita-cita revolusi hijau kelak tumbuh subur di kota ini.
Sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia dan pintu gerbang utama wilayah barat, Medan adalah pusat pertumbuhan ekonomi, budaya, dan urbanisasi. Tapi pertumbuhan itu datang dengan konsekuensi, makin sempitnya ruang hijau, tekanan terhadap lingkungan, dan keterputusan masyarakat kota dari proses produksi pangan. Bertani ala Urban farming hadir sebagai jembatan, menghubungkan kembali manusia, ruang, dan alam.
Kota dan Warisan Bertaninya
Meski kini didominasi kehidupan urban, seperti Kota Medan sesungguhnya lahir dari kebudayaan bertani dan agraris. Sejarah awal Medan adalah sejarah lahan pertanian, perkebunan tembakau, dan masyarakat kampung yang akrab dengan tanah. Namun industrialisasi dan modernisasi mengubah wajah kota, menjauhkan warga dari aktivitas bercocok tanam.
Urban farming menjadi cara untuk menghidupkan kembali warisan bertani dan dasar agraris itu, dalam bentuk yang baru dan kontekstual. Menanam di pekarangan sempit, menata kebun vertikal, atau membuat hidroponik di garasi, semuanya bukan sekadar aksi praktis, tapi bentuk pelestarian nilai: kerja keras, ketekunan, kesabaran, dan gotong royong, nilai yang sangat akrab bagi masyarakat Medan dari berbagai etnis.
Potensi Kota yang Kaya Energi Sosial
Kekuatan Medan bukan hanya pada infrastrukturnya, tetapi juga pada energi sosialnya yang kaya dan beragam. Komunitas Batak, Melayu, Tionghoa, Karo, Mandailing, Minang, hingga Jawa hidup berdampingan dalam satu kota. Setiap komunitas membawa cara hidup, tradisi bertani dan bercocok tanam, dan semangat kolektif masing-masing. Urban farming bisa menjadi ruang lintas budaya yang menyatukan itu semua.
Sudah ada tanda-tanda awal. Di beberapa kelurahan, muncul komunitas tani kota yang digagas oleh ibu-ibu PKK. Mahasiswa di sekitar Universitas Sumatera Utara mulai membuat laboratorium hidroponik sederhana. Di pinggir sungai-sungai kota, warga membuat kebun vertikal dari botol plastik bekas. Medan harus memulai pemikiran kota agar hijau, meski perlahan.
Menjawab Krisis dan Membangun Harapan
Urban farming di Medan bukan hanya soal pangan. Ini juga soal ketahanan sosial, pendidikan lingkungan, dan penguatan budaya urban yang lebih berkelanjutan. Kota mulai menghadapi banyak tantangan, banjir, ketimpangan ekonomi, ketergantungan pangan dari luar. Urban farming bisa menjadi salah satu solusi akar rumput yang murah, inklusif, dan efektif.
Selain itu, kegiatan ini bisa membuka peluang ekonomi baru, jual beli tanaman organik, pelatihan pertanian kota, pariwisata hijau, hingga inovasi wirausaha hijau berbasis komunitas. Bukan tidak mungkin, ke depan Medan bisa dikenal sebagai kota urban farming terbaik di Sumatera, bahkan Indonesia.
Membangun Budaya Baru dari Balkon dan Atap
Yang paling menarik dari urban farming bukan hanya soal hasil panen, tapi budaya baru yang ia ciptakan. Di balkon-balkon warga, tumbuh rasa bangga karena bisa memanen sendiri. Di atap sekolah, tumbuh nilai kolaborasi dan kesadaran ekologis. Di sudut-sudut gang, tumbuh pertemanan baru karena saling bertukar bibit dan pupuk organik.
Inilah yang disebut ekobudaya urban, gaya hidup yang tidak memusuhi kota, tapi memperindahnya dari dalam. Urban farming mengajak warga Medan untuk mencintai kota mereka bukan hanya sebagai tempat tinggal, tapi sebagai ruang tumbuh bersama. Ia mengubah ruang pasif menjadi ruang produktif, mengubah tanah mati menjadi tanah harapan.
Menjadi Kota Tangguh yang Bernapas Hijau
Medan punya modal besar, tanah yang subur, iklim tropis yang ramah, semangat warga yang ulet, dan kekayaan budaya yang beragam. Yang dibutuhkan sekarang adalah narasi bersama: menjadikan urban farming bukan sekadar hobi segelintir orang, tapi gerakan kolektif seluruh warga kota.
Bayangkan jika tiap kelurahan punya semangat bertani dan kebun pangan bersama. Jika tiap sekolah punya laboratorium pertanian kota. Jika tiap rumah punya sudut hijau kecil. Maka Medan tak hanya akan dikenal sebagai kota perdagangan atau kuliner, tapi juga sebagai kota tangguh yang hijau, berbudaya, dan manusiawi. (Hery Buha Manalu)


