BerandaParawisataPesona Simalungun : Jeruk, Potensi Emas Agrowisata dari Dataran Tinggi

Pesona Simalungun : Jeruk, Potensi Emas Agrowisata dari Dataran Tinggi

Green Times | Simalungun :
Pesona Simalungun tidak hanya hadir melalui keindahan Danau Toba, Bukit Simarjarunjung, Parapat, Tigaras, air terjun, dan hamparan pegunungan. Di balik bentang alam tersebut terdapat kekayaan pertanian yang berpotensi menjadi daya tarik wisata sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Salah satunya adalah jeruk Simalungun.

Potensi jeruk semakin relevan dalam pengembangan Pesona Simalungun. Pada Juli 2026, Pemerintah Kabupaten Simalungun menyebut Kecamatan Pamatang Silimahuta memiliki sekitar 1.200 hektare lahan pertanian jeruk. Fakta tersebut menunjukkan bahwa jeruk bukan tanaman pelengkap, tetapi bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat dataran tinggi Simalungun.

Jeruk juga masih menjadi salah satu komoditas yang dibawa Kabupaten Simalungun ke tingkat nasional. Pada Pekan Nasional Petani Nelayan XVII di Gorontalo, Juni 2026, jeruk termasuk dalam jajaran produk pertanian unggulan yang dipamerkan bersama jagung, kentang, cabai, wortel, tomat, kopi, nanas, manggis dan berbagai hasil pertanian lainnya.

Potensi tersebut membuka peluang untuk menjadikan jeruk sebagai bagian dari identitas baru Pesona Simalungun.

Dari Komoditas Pertanian Menjadi Identitas Daerah
Simalungun sebenarnya telah memiliki fondasi untuk membangun identitas jeruk lokal.

Pada 2022, pemerintah daerah pernah meluncurkan pengiriman jeruk menggunakan Brand Simaloengoen dari Purba Tongah. Produk tersebut dikemas membawa nama Simalungun dan dikirim ke Pulau Jawa. Saat itu, pemerintah berharap nama daerah dapat semakin dikenal melalui produk pertaniannya.

Gagasan tersebut tetap relevan, Jeruk Simalungun tidak seharusnya berhenti sebagai buah yang dipanen, dimasukkan ke dalam keranjang, kemudian dijual tanpa identitas ke pasar.

Nilai ekonominya dapat meningkat ketika produk memiliki standar kualitas, kemasan menarik, merek yang kuat dan asal produk yang jelas.

Ketika konsumen membeli jeruk, mereka juga harus mengenal nama Simalungun.

Baca Juga  Menjaga Danau Toba dengan Mempertahankan Ikan Pora-Pora

Inilah hubungan antara pertanian dan promosi daerah yang dapat dikembangkan dalam konsep Pesona Simalungun.

Kebun Jeruk Bisa Menjadi Destinasi AgrowisataPotensi yang lebih besar terdapat pada agrowisata. Hamparan kebun jeruk di daerah dataran tinggi dapat dikembangkan sebagai bagian dari perjalanan wisata Simalungun. Wisatawan tidak hanya melihat buah dari pasar, tetapi datang langsung ke kebun, mengenal proses budidaya, berbicara dengan petani dan memetik jeruk dari pohonnya.

Konsep seperti ini memberi pengalaman baru kepada wisatawan sekaligus membuka sumber pendapatan tambahan bagi petani.

Pengembangan tidak harus dimulai dengan fasilitas mahal. Kebun yang tertata, akses yang aman, area parkir sederhana, toilet bersih, tempat istirahat, papan informasi dan sistem wisata petik buah sudah dapat menjadi fondasi.

Petani kemudian dapat memperoleh pendapatan tidak hanya dari penjualan buah, tetapi juga tiket kunjungan, wisata petik jeruk, makanan lokal dan penjualan produk olahan.

Terhubung dengan Wisata Danau Toba
Posisi pertanian jeruk menjadi semakin menarik karena Simalungun juga memiliki akses langsung menuju kawasan wisata Danau Toba.

Wisatawan yang datang menikmati panorama Simarjarunjung, Parapat dan berbagai destinasi lainnya dapat diarahkan mengunjungi sentra pertanian di dataran tinggi.

Dengan demikian, perjalanan wisata tidak hanya berhenti pada objek wisata alam.

Wisatawan dapat menikmati Danau Toba pada pagi hari, mengunjungi perkebunan jeruk, menikmati makan siang dengan produk lokal, membeli oleh-oleh, kemudian melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya.

Konsep tersebut dapat memperpanjang aktivitas wisatawan dan membuat pengeluaran mereka menyebar kepada petani, UMKM, pedagang dan masyarakat nagori.

Jeruk Harus Diolah, Bukan Hanya Dijual Segar
Potensi jeruk juga terdapat pada sektor hilir.
Buah dengan kualitas terbaik dapat dijual sebagai buah segar.
Sementara buah yang secara tampilan kurang memenuhi standar pasar masih dapat dikembangkan menjadi jus, selai, sirup, manisan, makanan ringan atau produk kuliner lainnya.

Model ini penting untuk meningkatkan nilai tambah dan mengurangi ketergantungan petani terhadap penjualan buah segar.

Baca Juga  Pariwisata Butuh Ilmu: Kemenpar Rilis Tiga Karya Ilmiah untuk Transformasi Pariwisata Indonesia”

Pemerintah Kabupaten Simalungun sendiri menempatkan pengembangan agribisnis, termasuk jeruk dan berbagai komoditas hortikultura, sebagai bagian dari strategi sektor pertanian.

Tantangannya adalah menghubungkan produksi dengan pengolahan, pemasaran, UMKM dan pariwisata dalam satu ekosistem.

Menjadikan Jeruk Bagian dari Pesona Simalungun
Pesona Simalungun seharusnya tidak didefinisikan hanya melalui pemandangan.

Pesona sebuah daerah juga terdapat pada apa yang ditanam masyarakat, makanan yang dihasilkan, cara masyarakat bekerja dan produk yang mereka banggakan.

Jeruk memiliki potensi untuk mengisi ruang tersebut.

Ke depan, Simalungun dapat mengembangkan kampung jeruk, wisata petik jeruk, festival jeruk, pusat oleh-oleh jeruk hingga paket perjalanan agrowisata yang terhubung dengan destinasi Danau Toba. Ini merupakan peluang pengembangan, bukan program pemerintah yang sudah ditetapkan.

Jika kualitas produksi, infrastruktur, pemasaran, pengolahan dan pariwisata dapat dipadukan, jeruk dapat menjadi lebih dari komoditas hortikultura.

Jeruk dapat menjadi bagian dari wajah Pesona Simalungun, membawa nama daerah dari kebun-kebun masyarakat menuju pasar nasional sekaligus menarik wisatawan datang langsung melihat tempat buah itu tumbuh. (Red/Angga Sianturi/tim)

Google

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read