BerandaEkonomi BisnisFESyar KTI 2026 Perkuat Indonesia Jadi Pusat Ekonomi Syariah Dunia

FESyar KTI 2026 Perkuat Indonesia Jadi Pusat Ekonomi Syariah Dunia

Green Times – Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia atau FESyar KTI 2026 menjadi momentum untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.

Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2025/2026, Indonesia menempati peringkat keempat dalam pengembangan ekonomi syariah global. Indonesia juga berada di posisi pertama untuk sektor modest fashion, peringkat kedua pada pariwisata ramah muslim, serta peringkat ketiga dalam sektor makanan halal.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk terus mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah. Potensi ini didukung oleh konsep ekonomi syariah yang inklusif, berkelanjutan, berkeadilan, dan memiliki stabilitas.

FESyar KTI 2026 Digelar di Mataram
FESyar KTI 2026 dibuka oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, di Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 10 Juli 2026.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi NTB Abul Chair, jajaran Dekranasda NTB, tokoh masyarakat, pemuka agama, pemuka adat, dan pelaku usaha syariah.

Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan adanya sinergi untuk memperkuat ekosistem halal, khususnya di wilayah timur Indonesia.

Destry Damayanti menegaskan bahwa kerja sama antarlembaga perlu terus diperkuat. Sinergi menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah secara berkelanjutan.

FESyar KTI 2026 Perkuat Indonesia Jadi Pusat Ekonomi Syariah Dunia
FESyar KTI 2026 Perkuat Indonesia Jadi Pusat Ekonomi Syariah Dunia/Green times

Ekonomi Syariah Tumbuh 6,21 Persen
Kinerja ekonomi syariah Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif. Pada 2025, ekonomi syariah tercatat tumbuh sebesar 6,21 persen secara tahunan atau year on year.

Pertumbuhan tersebut didukung oleh percepatan sektor Halal Value Chain. Sektor ini mencakup berbagai kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan produk dan layanan halal.

Kinerja perbankan syariah juga tetap kuat. Hingga Mei 2026, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 10,42 persen secara tahunan menjadi Rp709 triliun.

Baca Juga  KKSU 2026 Perkuat Sinergi, Dorong UMKM Sumut Naik Kelas

Pada periode yang sama, Dana Pihak Ketiga atau DPK perbankan syariah meningkat 11,75 persen menjadi Rp792 triliun.

Indeks literasi ekonomi syariah juga mengalami peningkatan dan mencapai 50,18 persen. Angka tersebut menunjukkan semakin luasnya pemahaman masyarakat terhadap sistem, produk, dan layanan ekonomi syariah.

Target Pembiayaan Syariah Rp11 Miliar
Melalui FESyar KTI 2026, Bank Indonesia tidak hanya menargetkan peningkatan pemahaman masyarakat. Kegiatan ini juga diarahkan untuk menghasilkan capaian ekonomi yang konkret.

Bank Indonesia menargetkan penyaluran pembiayaan syariah sebesar Rp11 miliar. Sementara itu, target omzet usaha mikro, kecil, dan menengah serta pelaku usaha syariah ditetapkan sebesar Rp1,5 miliar.

“Melalui FESyar KTI 2026, Bank Indonesia menargetkan capaian yang konkret dan berdampak nyata bagi masyarakat,” kata Destry.

Antusiasme masyarakat juga terlihat dari pelaksanaan Olimpiade Ekonomi Syariah Nasional atau OESN.

Jumlah pendaftar OESN mencapai 3.223 peserta. Jumlah tersebut setara dengan 124 persen dari target awal sebanyak 2.600 pendaftar.

Tingginya jumlah peserta menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap edukasi dan literasi ekonomi syariah.

Empat Program Unggulan FESyar KTI 2026
FESyar KTI 2026 mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Regional Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital.”

Dalam pelaksanaannya, FESyar KTI 2026 menghadirkan empat program unggulan.
Program pertama adalah AKBAR, singkatan dari Akselerasi Kemandirian Bisnis Pesantren Berkelanjutan. Program ini diarahkan untuk meningkatkan kemandirian dan keberlanjutan usaha pesantren.

Program kedua adalah AMANAH, yaitu Akselerasi Menuju Sertifikasi dan Ekosistem Halal. Program ini mendukung pelaku usaha dalam memperkuat sertifikasi serta pengembangan ekosistem produk halal.

Program ketiga adalah BARAKAH, singkatan dari Bina Rantai Komoditas Halal untuk Ekspor. Program ini berfokus pada penguatan rantai komoditas halal agar memiliki peluang lebih besar untuk memasuki pasar ekspor.

Baca Juga  Penjualan Eceran Diprediksi Melejit Juli 2025, Bank Indonesia Ungkap Faktor Pendorong

Program keempat adalah MAHAR, yaitu Mobilisasi Aset Halal melalui Akselerasi Wakaf. Program tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan pengelolaan aset halal dan keuangan sosial berbasis wakaf.

Keempat program unggulan itu mencakup penguatan akses pembiayaan, literasi dan edukasi, pengembangan usaha halal, serta pemanfaatan keuangan sosial digital.

NTB Dorong Ekonomi Syariah Berbasis Digital
Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Abul Chair, mengapresiasi empat program unggulan yang dijalankan Bank Indonesia.

Menurutnya, program tersebut dapat menjadi fondasi untuk membangun ekonomi syariah yang produktif, inklusif, dan mampu bersaing.

“Rangkaian kegiatan FESyar KTI 2026 diharapkan dapat membuka akses pasar baru, memperluas investasi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Abul Chair.

Ia juga berharap ekonomi syariah dapat menjadi ruang inovasi yang memanfaatkan teknologi digital.

Pemanfaatan teknologi diperlukan untuk memperluas pasar, meningkatkan kualitas produk, serta memperkenalkan produk syariah kepada masyarakat yang lebih luas.

Bagian dari ISEF 2026
FESyar KTI merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival atau ISEF 2026. Kegiatan tersebut menjadi program tahunan Bank Indonesia dalam mendukung perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Penyelenggaraan FESyar KTI 2026 melibatkan kolaborasi Bank Indonesia, pemerintah daerah, Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Agama, Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah, serta Kementerian Keuangan. Kolaborasi juga melibatkan akademisi dan para pelaku usaha syariah.

Bank Indonesia bersama seluruh mitra strategis berkomitmen memperkuat kerja sama lintas sektor. Kolaborasi tersebut diarahkan pada penguatan rantai nilai halal, pengembangan keuangan syariah yang inklusif dan adaptif, serta peningkatan literasi dan inklusi ekonomi.

Melalui sinergi tersebut, FESyar KTI 2026 diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha dan masyarakat, sekaligus mendukung visi Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia. (Red/Hery Buha Manalu)

Baca Juga  Penjualan Ritel Masih Jadi Penopang Ekonomi

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read