BerandaArtikelEl Niño 2026 Menguat, Indonesia Bersiap Hadapi Kemarau Ekstrem

El Niño 2026 Menguat, Indonesia Bersiap Hadapi Kemarau Ekstrem

Oleh : Hery Buha Manalu

El Niño yang berkembang cepat di Samudra Pasifik kini menjadi salah satu ancaman iklim terbesar yang perlu dihadapi dunia. Fenomena ini belum dapat dipastikan sebagai El Niño terkuat dalam 150 tahun. Namun, proyeksi terbaru menunjukkan peluang besar bahwa intensitasnya akan mencapai kategori sangat kuat pada akhir 2026.

NOAA melaporkan bahwa El Niño telah terbentuk dan terus menguat. Peluang fenomena ini bertahan hingga awal musim semi 2027 di alam Belahan Bumi Utara mencapai 97 persen. NOAA juga memperkirakan peluang 81 persen bahwa El Niño mencapai kategori sangat kuat pada Oktober–Desember 2026. Nilai indeks Niño-3.4 pada awal Juli telah mencapai sekitar +1,2 derajat Celsius. Kondisi atmosfer dan laut juga menunjukkan keterkaitan yang kuat, termasuk berkurangnya pembentukan awan di atas Indonesia.

Nature pada 23 Juli 2026 melaporkan pengarahan sejumlah peneliti yang menyebut El Niño kali ini berpotensi menjadi yang terbesar dalam sedikitnya 150 tahun. Perkiraan itu berasal dari kumpulan model iklim yang menunjukkan pemanasan Pasifik dapat melampaui peristiwa 1997–1998. Namun, prediksi tersebut belum menjadi hasil pengamatan akhir.

Kekuatan sesungguhnya baru dapat dinilai ketika El Niño mencapai puncaknya, yang umumnya terjadi antara November dan Februari.

Istilah “Super El Niño” perlu digunakan secara hati-hati. Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO tidak memakainya dalam klasifikasi resmi. WMO menggunakan kategori lemah, moderat, kuat, dan sangat kuat. El Niño yang sangat kuat meningkatkan peluang terjadinya dampak tertentu, tetapi tidak menjamin semua wilayah mengalami bencana dengan pola yang sama.

El Niño bekerja melalui perubahan hubungan laut dan atmosfer. Ketika suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur meningkat, angin pasat melemah. Pusat pembentukan awan dan hujan bergeser ke arah timur. Indonesia yang berada di wilayah Pasifik barat biasanya menerima lebih sedikit uap air. Musim kemarau pun dapat menjadi lebih kering, panjang, dan panas.

Baca Juga  Agama sebagai Jantung Kehidupan Sosial, Fungsi, Peran, dan Struktur Sosial dalam Masyarakat

Kondisi Kering Mulai Mendominasi

Dampaknya mulai terlihat di Indonesia. BMKG mencatat bahwa hingga Dasarian II Juli 2026, sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Curah hujan rendah mencakup 92,93 persen wilayah, sementara 89,97 persen wilayah mengalami sifat hujan bawah normal.

BMKG juga memperingatkan peningkatan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta angin kencang menjelang puncak kemarau pada Agustus dan September.

Temuan ilmiah nasional memperkuat peringatan tersebut. Sabuna et al. (2022) menunjukkan bahwa El Niño meningkatkan frekuensi kekeringan di Timor bagian barat, termasuk di luar puncak musim kemarau.

Lisnawati et al. (2022) menemukan bahwa kekeringan saat El Niño 2015 meningkatkan kelas bahaya kebakaran ekstrem di lahan gambut Jambi sebesar 38 persen dibandingkan tahun normal. Penelitian Nurhayati dan Aulia (2024) juga memperlihatkan bahwa hotspot selama El Niño 2023 banyak muncul di lahan gambut Muaro Jambi.

Risiko El Niño tidak berhenti pada kekeringan. Perubahan sirkulasi atmosfer dapat memicu hujan berlebih dan banjir di kawasan lain. Suhu tinggi meningkatkan penguapan, tekanan terhadap pasokan air, kebutuhan listrik, risiko gagal panen, serta gangguan kesehatan akibat panas dan asap.

Di sektor laut, Pratama et al. (2025) menemukan hubungan kuat antara ENSO dan transportasi panas melalui Arus Lintas Indonesia. Perubahan tersebut memiliki jeda respons sekitar tiga hingga empat bulan dan dapat memengaruhi kandungan panas laut di kawasan Laut Banda.

Dampak ekonomi juga dapat bertahan lama. Liu et al. (2023) memperkirakan pengaruh El Niño terhadap perekonomian dapat berlangsung hingga tiga tahun setelah kejadian awal. Penelitian tersebut mengaitkan El Niño 1997–1998 dan 2015–2016 dengan kerugian ekonomi global kumulatif sekitar 2,1 triliun dan 3,9 triliun dolar AS. Kerugian muncul melalui gangguan pertanian, perikanan, infrastruktur, perdagangan, energi, kesehatan, dan rantai pasok.

Pemanasan Global Memperbesar Dampak

Pemanasan global memperbesar bahayanya. El Niño merupakan variasi iklim alami, sedangkan perubahan iklim terutama berasal dari akumulasi emisi gas rumah kaca. El Niño melepaskan panas laut ke atmosfer. Pada saat yang sama, pemanasan global telah menaikkan suhu dasar bumi. Karena titik awalnya sudah lebih panas, gelombang panas, kekeringan, kebakaran, dan hujan ekstrem dapat mencapai tingkat yang lebih merusak.

Baca Juga  El Nino 2026 Menguat, BMKG Siapkan Langkah Darurat Cegah Kekeringan dan Karhutla

Jiang et al. (2025) menunjukkan bahwa pola pemanasan laut selama El Niño 2023–2024 berperan besar dalam lonjakan suhu global. Rata-rata suhu selama Juli 2023 hingga Juni 2024 mencapai 1,58 derajat Celsius di atas tingkat praindustri. Studi tersebut menemukan bahwa perubahan suhu permukaan laut menjelaskan sekitar 92 persen kenaikan suhu antartahun yang dianalisis.

Thirumalai et al. (2024) juga menemukan mekanisme yang dapat meningkatkan peluang terbentuknya El Niño ekstrem dalam iklim yang lebih hangat. Namun, WMO menilai bukti ilmiah belum cukup untuk memastikan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi atau intensitas setiap kejadian El Niño.

Konsensus yang lebih kuat menyatakan bahwa perubahan iklim memperbesar dampaknya karena atmosfer dan laut yang lebih hangat menyimpan lebih banyak energi dan uap air.

Indonesia Tidak Boleh Menunggu Rekor

Bagi Indonesia, respons tidak boleh menunggu kepastian apakah peristiwa ini akan memecahkan rekor. Pemerintah daerah perlu memperbarui peta rawan kekeringan dan karhutla, menjaga muka air gambut, memperkuat patroli, serta memastikan cadangan air baku.

Sektor pertanian perlu menyesuaikan kalender tanam, memilih varietas tahan kering, mengatur irigasi, dan melindungi petani kecil dari gagal panen. Fasilitas kesehatan harus menyiapkan layanan untuk penyakit akibat panas, gangguan pernapasan, dehidrasi, dan memburuknya penyakit kronis.

Masyarakat perlu menggunakan air secara efisien, tidak membuka lahan dengan api, menjaga kelompok rentan dari paparan panas, dan mengikuti informasi resmi BMKG. Prakiraan dapat berubah seiring masuknya data baru. Karena itu, kesiapsiagaan harus berbasis wilayah dan diperbarui secara berkala.

El Niño 2026 adalah ujian besar bagi tata kelola iklim. Rekor suhu 2027 masih berupa kemungkinan, bukan kepastian. Namun, sinyal ilmiah sudah cukup kuat untuk bertindak sekarang. Kesiapan sebelum puncak El Niño akan menentukan apakah peristiwa ini berubah menjadi krisis kemanusiaan atau dapat dikelola melalui ilmu pengetahuan, koordinasi, dan perlindungan terhadap masyarakat paling rentan.

Baca Juga  Sekte, Gerakan Keagamaan, Sekularisme, dan Politik

Referensi

Jiang, N., Zhu, C., McPhaden, M. J., Hu, Z. Z., Lian, T., Zhou, C., et al. (2025). Atypical warming pattern of strong 2023–24 El Niño boosts global temperatures to new 1.5°C record.

Communications Earth & Environment, 6, 1012. doi:10.1038/s43247-025-02971-1.

Lisnawati, Taufik, M., Dasanto, B. D., & Sopaheluwakan, A. (2022). Fire danger on Jambi peatland Indonesia based on Weather Research and Forecasting Model. Agromet, 36(1), 1–10. doi:10.29244/j.agromet.36.1.1-10.

Liu, Y., Cai, W., Lin, X., Li, Z., et al. (2023). Nonlinear El Niño impacts on the global economy under climate change. Nature Communications, 14, 5887. doi:10.1038/s41467-023-41551-9.

Nurhayati, A. D., & Aulia, C. H. N. (2024). Sebaran hotspot dan patroli terpadu pada masa El Niño 2023 di Kabupaten Muaro Jambi. Jurnal Silvikultur Tropika, 15(3), 279–286. doi:10.29244/j-siltrop.15.03.279-286.

Pratama, K. R., Radjawane, I. M., & Pratama, B. E. (2025). Effect of El-Niño Southern Oscillation on heat transport in the Indonesia Throughflow passages and ocean heat content in the Banda Sea. ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences, 30(1), 92–102. doi:10.14710/ik.ijms.30.1.92-102.

Sabuna, F. H., Hidayati, R., Santikayasa, I. P., & Taufik, M. (2022). Drought events in western part of Timor Island Indonesia. Agromet, 36(1), 11–20. doi:10.29244/j.agromet.36.1.11-20.

Thirumalai, K., DiNezio, P. N., Partin, J. W., Liu, D., Costa, K., et al. (2024). Future increase in extreme El Niño supported by past glacial changes. Nature, 634, 374–380. doi:10.1038/s41586-024-07984-y.

Sumber data iklim terkini: BMKG, NOAA Climate Prediction Center, World Meteorological Organization, dan laporan sains Nature periode Juni–Juli 2026. (Red/*)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read