BerandaDaerahKeracunan Massal, 269 Siswa Karo Tumbang Akibat Makan Bergizi Gratis

Keracunan Massal, 269 Siswa Karo Tumbang Akibat Makan Bergizi Gratis

Green Times | Karo :
Keracunan makanan kembali melanda program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Pada Kamis (13/8/2026), sedikitnya 269 murid dari lima sekolah berbeda mengalami gejala sakit setelah menyantap menu siang hari.

Para korban yang berasal dari sekolah tingkat SMA, SMK, dan SMP ini melaporkan keluhan berupa gatal di mulut dan kulit, sesak napas, mual, hingga muntah-muntah. Kejadian ini menambah daftar panjang insiden serupa dalam program MBG.

Gejala muncul usai para siswa mengonsumsi makan siang sekitar pukul 13.00 WIB. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV Sumut, Zulkarnain Barus, menyatakan bahwa semua makanan tersebut berasal dari satu sumber dapur yang sama.

Dapur tersebut adalah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karo Berastagi Sempajaya. Lokasi dapur ini berada di area Markas Kodim 0205/Tanah Karo. Lima sekolah yang terdampak meliputi SMA Negeri 1 Berastagi, SMA Swasta Bersama, SMK Swasta Bersama, SMP Negeri 3 Kabanjahe, dan SMP Swasta Bersama, seperti dilansir dari kompas.id.

Zulkarnain menjelaskan bahwa data 269 siswa sebagian besar berasal dari jenjang SMA dan SMK. Jumlah korban dari SMP juga ada, namun angkanya lebih sedikit. Saat ini, seluruh korban sedang menjalani perawatan di berbagai rumah sakit di Karo.

Fasilitas kesehatan yang menangani korban antara lain Rumah Sakit Umum Amanda, RSU Efarina Etaham, dan RSUD Kabanjahe. Pihak berwenang memastikan kondisi semua pasien dalam keadaan stabil dan terus dipantau.

Ikan dencis gulai menjadi menu yang paling dicurigai sebagai penyebab keracunan. Selain ikan, menu hari itu terdiri dari nasi, sayur kol, dan wortel. Zulkarnain menyebut gejala awal yang dirasakan siswa adalah gatal di bagian mulut segera setelah makan.

Baca Juga  Gotong Royong Karo, Kearifan Lokal yang Menjadi Soft Skill Kehidupan

Beberapa siswa baru merasakan gejala setelah tiba di rumah, sehingga langsung dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat. Hingga malam hari, jumlah korban terus terpantau oleh dinas pendidikan setempat.

Komandan Kodim 0205/Tanah Karo, Letnan Kolonel Infanteri Robert B Panjaitan, menegaskan prioritas utama adalah kesembuhan para siswa. Ia menyebutkan bahwa kondisi umum korban stabil dan diharapkan pulih sepenuhnya.

Robert meluruskan informasi mengenai keterlibatan TNI. Ia menjelaskan bahwa SPPG tersebut tidak dikelola langsung oleh Kodim Karo. Dapur hanya menempati aset milik Kodim dan dikelola oleh mitra kerja sama dengan Yayasan Manunggal Kartika Jaya.

“Kami menyediakan tempat dan melakukan pendampingan, tetapi kami tidak mengelola SPPG karena bukan kemampuan kami,” jelas Robert. Penyebab pasti keracunan masih menunggu hasil uji laboratorium sampel makanan yang telah diambil oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Langkah pencegahan ketat sebenarnya telah direncanakan oleh pemerintah pusat. Kepala BGN, Sudaryono, sebelumnya mengumumkan aturan baru terkait batas waktu konsumsi makanan MBG.

Mulai minggu depan, setiap wadah makanan atau ompreng wajib mencantumkan tanda peringatan batas waktu konsumsi. Guru diminta mengawasi agar makanan yang sudah lewat batas waktu tidak diberikan kepada siswa. Hal ini ditujukan untuk mencegah keracunan akibat makanan yang terlalu lama didiamkan setelah dimasak.

Pengawasan juga diperketat pada proses produksi di 27.489 SPPG yang beroperasi di seluruh Indonesia. Setiap dapur diwajibkan menggunakan sistem pemantauan terintegrasi, mulai dari persiapan bahan, memasak, pengemasan, hingga distribusi ke sekolah.

Data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2025 hingga awal Agustus 2026, tercatat 40.759 orang menjadi korban keracunan makanan dalam program MBG.

Rinciannya, sebanyak 28.103 korban terjadi sepanjang tahun 2025. Sementara itu, pada periode Januari hingga awal Agustus 2026, jumlah korban mencapai 12.656 orang. Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menilai angka ini terus melonjak seiring bertambahnya jumlah dapur penyedia makanan.

Baca Juga  Bantu Pemenuhan Bahan Pangan Dan Upaya Stabilisasi Harga, Kejati Sumut Bersama Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) Gelar Pasar Murah.

Ubaid mencatat bahwa 73 persen korban keracunan hanya menjalani rawat jalan. Namun, kasus di Karo ini menunjukkan bahwa risiko kesehatan dalam program MBG masih memerlukan pengawasan ekstra ketat dari semua pihak terkait. (Red/”)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read