BerandaUncategorizedMenjaga Napas Kaldera Toba, Harmoni Geologi, Alam, Budaya, dan Pariwisata untuk Masa...

Menjaga Napas Kaldera Toba, Harmoni Geologi, Alam, Budaya, dan Pariwisata untuk Masa Depan

Oleh : Hery Buha Manalu

Kaldera Toba bukan hanya keajaiban alam biasa. Ia adalah mahakarya geologi dunia, laboratorium hidup yang menyimpan kisah letusan supervolcano terbesar dalam sejarah bumi, sekaligus rumah bagi ribuan jiwa yang hidup dari dan bersama alam. Tapi semua keindahan ini bukanlah sesuatu yang bisa kita anggap akan tetap ada selamanya, kalau kita tak serius menjaganya. Karena itu, penting sekali bagi semua pihak, dari pemerintah hingga masyarakat lokal, untuk menjaga nilai geologi, kelestarian, lingkungan, budaya, dan potensi pariwisata Kaldera Toba secara seimbang dan berkelanjutan.

Pesan inilah yang mengemuka dalam Konferensi Internasional Geotourism Destination Toba Caldera UNESCO Global Geopark 2025, yang digelar di KHAS Parapat Hotel, Sumatera Utara. Acara ini tidak hanya simbolik, tapi menjadi ruang kolaborasi nyata antara berbagai pemangku kepentingan yang peduli pada keberlanjutan Kaldera Toba sebagai kawasan UNESCO Global Geopark (UGGp). Dihadiri oleh Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, delapan bupati di kawasan Toba, hingga akademisi dan pakar lingkungan, konferensi ini menegaskan bahwa Kaldera Toba harus dijaga bukan karena statusnya saja, tapi karena nilai hidup yang terkandung di dalamnya.

Sebagai geopark, Kaldera Toba punya tiga pilar utama yang harus terus dijaga: nilai geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya. Di sinilah pentingnya pendekatan geotourism, yakni pariwisata berbasis pemahaman dan penghormatan terhadap keunikan bumi dan masyarakatnya. Tidak hanya mengagumi dan memotret, wisatawan didorong untuk belajar, memahami, dan ikut menjaga apa yang mereka nikmati.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumut, Dr. Rudy B. Hutabarat, melalui Deputinya Dr. Suryono, menyampaikan bahwa sektor pariwisata berbasis geopark memiliki manfaat berlapis: secara ekonomi, mendatangkan pemasukan dan membuka lapangan kerja; secara sosial, memperkuat identitas lokal; dan secara lingkungan, mendorong pelestarian kawasan. BI Sumut pun tak tinggal diam. Mereka telah berperan aktif dengan program-program seperti Geopark Goes to School, pelatihan dan kurasi UMKM geo-product, hingga simulasi evaluasi revalidasi UNESCO.

Baca Juga  Dua Aturan Diluncurkan untuk Jaga Lingkungan dan Ekosistem

Salah satu sorotan penting dari konferensi ini adalah kesadaran bahwa menjaga nilai geologi bukan pekerjaan teknis semata, tetapi menyangkut kesadaran kolektif. Gubernur Sumut dalam sambutannya bahkan meresmikan logo dan maskot baru Toba Caldera UGGp, yang akan menjadi simbol resmi pada produk-produk lokal. Langkah ini penting, bukan hanya untuk pemasaran, tetapi sebagai pengingat identitas: bahwa setiap produk dari kawasan Toba membawa nilai sejarah bumi, budaya Batak, dan kecintaan pada lingkungan.

Sementara itu, BPODT juga menyerahkan modul edukasi geopark untuk sekolah-sekolah dari tingkat PAUD hingga SMA. Tujuannya jelas, menanamkan sejak dini rasa cinta terhadap alam dan budaya sendiri. Jika generasi muda tumbuh dengan pemahaman tentang bagaimana Kaldera Toba terbentuk, apa fungsinya bagi iklim, bagaimana manusia hidup harmonis dengan lingkungan, maka mereka akan menjadi penjaga terbaik geopark ini di masa depan.

Para ahli dari Indonesia, Malaysia, dan Korea Selatan turut membagikan pengalaman pengelolaan geopark di negara masing-masing. Ada satu benang merah dari semua pemaparan: keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan. Jangan sampai kita mengorbankan nilai geologi dan kelestarian lingkungan hanya karena ingin menarik wisatawan sebanyak-banyaknya. Sebaliknya, wisata harus menjadi cara untuk memperkuat pelestarian.

Workshop yang digelar di penghujung konferensi, dipandu oleh Dr. Wilmar Simanjorang, memberi panduan praktis bagaimana mengelola geosite secara bijak: membatasi jumlah kunjungan, melibatkan masyarakat sekitar, dan memberi ruang untuk edukasi, bukan hanya hiburan. Karena kalau tidak hati-hati, kita justru bisa merusak warisan dunia yang kita banggakan sendiri.

Menjaga Kaldera Toba bukan hanya soal merawat tanah, bebatuan, atau danau semata. Ini tentang menjaga jati diri, masa depan, dan harga diri. Jika kita gagal merawatnya, kita tak hanya kehilangan destinasi wisata, tapi juga kehilangan warisan untuk generasi yang akan datang.

Baca Juga  Merajut Ekonomi Kreatif dari Medan: KKSU 2025 Hadirkan Sinergi UMKM dan Inovasi

Karena itu, mari kita pahami: geotourism adalah jalan tengah yang harmonis antara pariwisata dan pelestarian. Kaldera Toba bukan hanya tempat untuk dikunjungi, tetapi untuk dihormati, dipelajari, dan dijaga bersama. Dan itulah makna sebenarnya dari sebuah Geopark.

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read