BerandaArtikelMendengar Aktif, Belajar Mendengar dengan Hati

Mendengar Aktif, Belajar Mendengar dengan Hati

Oleh : Sipi Gloria Depari, Mahasiswa STT Paulus Medan, Prodi Pendidikan Agama Kristen (PAK)

Mendengar aktif adalah keterampilan komunikasi yang berarti mendengarkan dengan penuh perhatian, kesadaran, dan empati, bukan hanya sekadar mendengar kata-kata. Dalam mendengar aktif, seseorang fokus kepada lawan bicara, memahami isi pembicaraan, memperhatikan bahasa tubuh, serta memberi respon yang menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh memahami.Secara Alkitabbiah Dalam Yakobus 1:19 dikatakan: “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.”

Ayat ini menekankan bahwa mendengarkan adalah sikap hati yang mencerminkan kasih dan kerendahan hati. Mendengar aktif secara Alkitabbiah berarti memiliki ketersedian:
1. Membuka telinga dan hati terhadap orang lain.
2. Memberi waktu untuk benar-benar memahami sebelum berbicara.
3. Menahan diri agar tidak cepat bereaksi dengan emosi.

Menurut Dietrich Bonhoeffer – Life Together (1954):
“Pelayanan pertama yang kita berikan kepada sesama dalam persekutuan adalah mendengarkan mereka. Sama seperti kasih kepada Allah dimulai dengan mendengar Firman-Nya, demikian juga kasih kepada saudara dimulai dengan belajar mendengarkan mereka.”

Refleksi Pribadi

Sebagai calon pelayan Tuhan, ayat ini mengingatkan kita bahwa mendengarkan bukan hanya sekadar keterampilan sosial, melainkan juga sebuah sikap rohani. Cepat untuk mendengar berarti saya atau kita dipanggil untuk memberi perhatian penuh kepada orang lain, bukan hanya dengan telinga, tetapi juga dengan hati yang terbuka. Sementara itu, lambat untuk berkata-kata menuntun kita untuk tidak terburu-buru memberikan jawaban, nasihat, atau bahkan penghakiman sebelum benar-benar memahami situasi orang lain.

Dalam kehidupan komunikasi sehari-hari, khususnya dalam pelayanan, mendengar aktif menjadi sangat penting. Sering kali orang yang datang kepada kita tidak hanya membutuhkan solusi, melainkan lebih dahulu butuh dimengerti dan diterima. Sikap mendengar dengan penuh kesabaran dapat menjadi bentuk kasih Kristus yang nyata.

Baca Juga  Pendidikan Iman Kristen dalam Konteks Multikultural

Pengalaman Nyata

Saya pernah mengalami situasi ketika seorang teman menceritakan masalah keluarganya. Saat itu saya mencoba mendengar dengan penuh perhatian, tidak memotong pembicaraannya, dan memberikan respon berupa anggukan atau kata-kata singkat yang menunjukkan bahwa saya benar-benar memperhatikan. Setelah ia selesai, barulah saya memberi masukan singkat. Teman saya berkata bahwa ia merasa lega karena bisa bercerita dengan bebas. Dari situ saya belajar bahwa kadang yang orang lain butuhkan bukan jawaban panjang, melainkan telinga yang mau mendengar.

Kesimpulan

Yakobus 1:19 menuntun kita untuk melatih diri dalam mendengar aktif sebagai bagian dari karakter Kristus dalam komunikasi. Mendengar dengan cepat, berbicara dengan bijaksana, dan mengendalikan emosi akan menolong saya menjadi pelayan Tuhan yang peka, rendah hati, dan penuh kasih.

Referensi
1. Alkitab Terjemahan Baru, Lembaga Alkitab Indonesia.
2. Larry Barker, Active Listening in Ministry (Ministry Magazine, 2019).
3. Henry Cloud & John Townsend, Boundaries in Leadership, Zondervan, 2012.

Materi adalah pengembangan hasil diskusi dari mata kuliah Soft Skill Kemampuan Berkomunikasi di Sekolah

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read