BerandaArtikelDalihan Na Tolu dan Nilai Harmoni Sosial sebagai Soft Skill Komunikasi dan...

Dalihan Na Tolu dan Nilai Harmoni Sosial sebagai Soft Skill Komunikasi dan Relasi

Dalihan Na Tolu dan Nilai Harmoni Sosial

Oleh : Hery Buha Manalu, Soft Skill Keterampilan Berbasis Kearifan Lokal (Bagian 2)

Pengantar

Ketika kita berbicara tentang budaya Batak, satu istilah yang selalu muncul dan terasa sangat fundamental adalah Dalihan Na Tolu. Filosofi ini bukan hanya sekadar aturan adat, melainkan sebuah pandangan hidup yang membentuk cara orang Batak berhubungan, berkomunikasi, dan hidup bersama dalam masyarakat. Dalihan Na Tolu dapat diterjemahkan sebagai “tungku berkaki tiga”. Bayangkan sebuah tungku tradisional: ia akan seimbang dan bisa dipakai memasak hanya jika ketiga kakinya berdiri kokoh. Jika satu kaki goyah atau hilang, tungku itu akan roboh. Begitu pula dengan kehidupan sosial masyarakat Batak, keseimbangannya bergantung pada harmoni tiga unsur utama: hula-hula (pemberi berkat), dongan tubu (saudara semarga), dan boru (penerima berkat).

Mengapa ini penting kita bahas dalam mata kuliah soft skill keterampilan berbasis kearifan lokal? Karena di balik sistem kekerabatan ini, terkandung nilai-nilai, komunikasi, relasi, dan harmoni sosial yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh generasi muda hari ini. Soft skill, seperti kemampuan berbicara dengan santun, mendengarkan dengan empati, menghormati perbedaan, dan membangun relasi sehat, justru dapat dipelajari dengan baik dari Dalihan Na Tolu.bukan hanya sekadar aturan adat, melainkan sebuah pandangan hidup yang membentuk cara orang Batak berhubungan,

Banyak orang melihat Dalihan Na Tolu hanya sebatas aturan adat di pesta pernikahan, kematian, atau acara adat lainnya. Padahal, Dalihan Na Tolu jauh lebih luas dari itu. Ia adalah cara pandang hidup. Di dalamnya ada tiga prinsip penting yang terus diulang dalam masyarakat Batak:

1. Somba marhula-hula – menghormati pihak hula-hula. Nilai ini mengajarkan kita untuk punya rasa hormat kepada orang lain, terutama mereka yang memberi kehidupan, berkat, atau restu. Dalam konteks modern, ini bisa diterjemahkan sebagai kemampuan menghargai otoritas, orang tua, guru, pemimpin, atau siapa pun yang menjadi “pemberi makna” dalam hidup kita.

2. Manat mardongan tubu – berhati-hati dengan saudara semarga. Nilai ini mengajarkan diplomasi dan toleransi. Saudara sedarah sering kali bisa lebih rawan bertengkar karena merasa setara. Maka, sikap hati-hati dan saling menjaga sangat diperlukan agar hubungan tidak rusak.

3. Elek marboru – membujuk, merangkul, dan menyenangkan hati pihak boru. Nilai ini melatih kemampuan persuasi, seni berbicara dengan lemah lembut, membangun relasi tanpa paksaan

Ketiga prinsip ini, bila diterapkan dengan sungguh-sungguh, membentuk pola komunikasi yang penuh empati, penghormatan, dan kehangatan.

Harmoni Sosial sebagai Soft Skill

Soft skill adalah keterampilan yang berhubungan dengan kepribadian, sikap, dan cara kita berhubungan dengan orang lain. Kalau hard skill membuat kita ahli secara teknis, maka soft skill membuat kita dicintai, dihargai, dan diterima dalam lingkungan kerja maupun masyarakat.

Dalam Dalihan Na Tolu, harmoni sosial bukan sesuatu yang abstrak, tetapi nyata dalam hubungan sehari-hari. Misalnya, ketika orang Batak menghadiri pesta adat, mereka tahu bagaimana harus berbicara sesuai posisi: jika sebagai hula-hula, ia dihormati; jika sebagai dongan tubu, ia dirangkul dengan setara; jika sebagai boru, ia diberi tempat sebagai pihak yang melayani. Dalam pola ini, orang Batak dilatih untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan orang lain.

Baca Juga  KLH/BPLH Kolaborasi Tokoh Agama dan Masyarakat Jadi Kunci Atasi Krisis Lingkungan

Bukankah ini sangat relevan dengan kehidupan modern? Di tempat kerja, di kampus, bahkan di komunitas gereja, kita dituntut untuk tahu kapan berbicara, bagaimana menyampaikan pendapat, kapan mendengar, dan bagaimana menjaga perasaan orang lain. Inilah soft skill yang lahir dari kearifan lokal Dalihan Na Tolu.

Dalihan Na Tolu dan Komunikasi yang Santun

Salah satu hal yang sering luput dari perhatian generasi muda adalah pentingnya komunikasi yang santun. Banyak konflik muncul bukan karena masalah besar, melainkan karena kata-kata yang kasar atau sikap yang tidak menghargai. Dalihan Na Tolu menanamkan kesadaran bahwa setiap orang punya posisi yang harus dihormati.

Misalnya, ketika berbicara dengan hula-hula, bahasa yang digunakan lebih sopan dan penuh penghormatan. Ini melatih kita untuk mengendalikan diri, memilih kata yang tepat, dan menghindari ucapan yang bisa menyinggung. Ketika berbicara dengan dongan tubu, kita belajar untuk hati-hati agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Sedangkan dengan boru, kita belajar menggunakan kata-kata yang membujuk dan menghibur.

Keterampilan ini, jika diadaptasi dalam konteks modern, menjadi kemampuan komunikasi efektif: tahu kapan harus tegas, kapan harus lembut, dan kapan harus kompromis.

Dalihan Na Tolu dalam Kehidupan Mahasiswa

Bagi mahasiswa, Dalihan Na Tolu bisa dijadikan pedoman praktis dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan seorang mahasiswa di kampus. Ia punya dosen (posisi seperti hula-hula) yang harus dihormati. Ia punya teman sekelas (dongan tubu) yang harus diajak bekerja sama dengan hati-hati. Ia juga punya junior (boru) yang harus dirangkul dan dibimbing. Jika pola ini diterapkan, hubungan di kampus akan jauh lebih harmonis.

Contoh lain, dalam organisasi kemahasiswaan atau pelayanan di gereja, konflik sering muncul karena ego masing-masing. Tetapi kalau prinsip Dalihan Na Tolu dipraktikkan, setiap orang akan sadar: “Saya harus hormat kepada yang lebih tua atau pemimpin, saya harus hati-hati dengan rekan selevel, dan saya harus lemah lembut kepada yang lebih muda.” Bayangkan betapa banyak konflik bisa dihindari jika pola ini benar-benar dihidupi.

Dalihan Na Tolu dan Relasi Sosial

Relasi sosial hari ini seringkali rapuh. Media sosial penuh dengan ujaran kebencian, orang mudah tersinggung, dan konflik sering meledak karena salah komunikasi. Di tengah situasi ini, Dalihan Na Tolu menawarkan sebuah “obat” yang relevan.

Somba marhula-hula melatih kita untuk menghormati perbedaan otoritas, entah itu di keluarga, kampus, atau dunia kerja.

Manat mardongan tubu melatih kita untuk menahan diri, sabar, dan menjaga persaudaraan meski ada perbedaan pendapat.

Elek marboru melatih kita untuk menjadi pribadi yang ramah, menyenangkan, dan bisa diterima banyak orang.

Dengan kata lain, Dalihan Na Tolu membantu kita membangun jaringan sosial yang sehat. Bukan sekadar networking formal, tetapi relasi yang didasari pada penghormatan, kehangatan, dan kepercayaan.

Baca Juga  Ternyata Olahraga Lari Dapat Meningkatkan Konsentrasi Belajar

Refleksi Teologis: Dalihan Na Tolu dalam Terang Iman Kristen

Sebagai mahasiswa teologi atau siapa pun yang belajar dalam terang iman, kita bisa melihat Dalihan Na Tolu selaras dengan ajaran Alkitab. Rasul Paulus dalam Roma 12:10 berkata: “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” Ini sangat dekat dengan somba marhula-hula. Dalam Galatia 6:2, kita diajak untuk “saling menanggung beban”, yang selaras dengan manat mardongan tubu. Dan ketika Yesus mengajarkan kita untuk rendah hati, lembut, dan penuh kasih, itu sejalan dengan elek marboru.

Dengan demikian, Dalihan Na Tolu bukan sekadar filosofi adat Batak, melainkan juga sarana kontekstual bagi kita untuk memahami dan menghidupi nilai-nilai Injil dalam kehidupan sehari-hari.

Latihan Praktis untuk Mahasiswa

Agar Dalihan Na Tolu tidak berhenti pada teori, mahasiswa perlu latihan praktis. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:

1. Role Play – Mahasiswa dibagi menjadi tiga kelompok: hula-hula, dongan tubu, dan boru. Mereka diminta mensimulasikan percakapan dalam sebuah acara adat. Dari situ mereka belajar bagaimana cara berbicara sesuai peran.

2. Refleksi Kasus – Dosen memberikan contoh kasus konflik di kampus atau gereja. Mahasiswa diminta mencari solusi dengan menggunakan nilai Dalihan Na Tolu. Misalnya, bagaimana mengatasi pertengkaran antaranggota organisasi dengan prinsip manat mardongan tubu.

3. Diskusi Perbandingan – Mahasiswa membandingkan Dalihan Na Tolu dengan sistem harmoni budaya lain, seperti musyawarah dalam budaya Jawa atau gotong royong dalam budaya Minangkabau. Dari sini mereka bisa melihat bahwa kearifan lokal punya nilai universal untuk membangun harmoni.

4. Latihan Komunikasi – Mahasiswa dilatih membuat kalimat yang santun, kalimat diplomatis, dan kalimat persuasif sesuai prinsip somba, manat, elek.

Penutup

Dalihan Na Tolu adalah warisan budaya Batak yang kaya makna. Ia bukan hanya aturan adat, tetapi juga sumber kearifan untuk membangun soft skill komunikasi dan relasi. Melalui prinsip somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru, kita diajak untuk menghormati, berhati-hati, dan merangkul orang lain dalam setiap interaksi.

Bagi mahasiswa dan generasi muda, Dalihan Na Tolu bisa menjadi kompas dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks. Dengan nilai ini, kita bisa menjadi pribadi yang tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Pada akhirnya, Dalihan Na Tolu mengajarkan kita bahwa harmoni sosial adalah hasil dari komunikasi yang penuh penghargaan, relasi yang sehat, dan hati yang mau merangkul semua orang.

Contoh Konkret dalam Kehidupan Mahasiswa Teologi

Agar lebih mudah dipahami, mari kita lihat bagaimana Dalihan Na Tolu dapat dipraktikkan dalam kehidupan nyata mahasiswa teologi:

1. Di Ruang Kuliah
Seorang mahasiswa teologi sering menghadapi dosen dengan berbagai gaya mengajar. Ada dosen yang sangat tegas, ada yang santai, ada juga yang kritis. Prinsip somba marhula-hula mengingatkan mahasiswa untuk tetap menghormati dosennya, apa pun gaya mereka. Bentuk konkretnya bisa sesederhana menyapa dosen dengan sopan, mendengarkan dengan serius, atau menyampaikan pendapat dengan bahasa yang santun. Dengan demikian, mahasiswa bukan hanya menunjukkan kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional dalam menghargai otoritas.

Baca Juga  Sekte, Gerakan Keagamaan, Sekularisme, dan Politik

2. Dalam Diskusi dengan Teman Satu Angkatan
Mahasiswa teologi kerap berdiskusi tentang topik yang memancing perbedaan pendapat, misalnya tentang tafsir Alkitab atau isu sosial. Kadang diskusi menjadi panas karena semua merasa sama-sama tahu. Di sini prinsip manat mardongan tubu menjadi sangat relevan. Artinya, mahasiswa dilatih untuk hati-hati, tidak merendahkan pendapat teman, dan menjaga agar diskusi tidak berubah menjadi pertengkaran. Kemampuan menahan diri, memilih kata, dan memberi ruang pada orang lain adalah bentuk nyata soft skill komunikasi yang lahir dari kearifan Batak.

3. Dalam Pelayanan Gereja
Seorang mahasiswa teologi biasanya terlibat dalam pelayanan: entah sebagai pengkhotbah muda, pemimpin pujian, atau guru sekolah minggu. Dalam pelayanan, ia harus berhadapan dengan jemaat yang lebih tua (seperti posisi hula-hula), sesama rekan pelayanan (dongan tubu), dan anak-anak atau jemaat muda (boru). Prinsip Dalihan Na Tolu membantu mahasiswa menyesuaikan cara komunikasinya. Misalnya, berbicara dengan bahasa penuh hormat kepada penatua jemaat, bekerja sama dengan hati-hati bersama sesama tim pelayanan, dan bersikap lembut serta penuh kasih kepada anak-anak sekolah minggu.

4. Dalam Organisasi Kemahasiswaan
Dalam organisasi kampus, konflik sering muncul, misalnya soal pembagian tugas atau perbedaan visi. Prinsip elek marboru bisa menjadi panduan untuk menyelesaikan masalah. Seorang mahasiswa yang mampu membujuk dengan kata-kata lembut, merangkul teman yang kecewa, dan menenangkan suasana akan lebih dihargai. Di sinilah terlihat bahwa soft skill komunikasi sering kali lebih penting daripada sekadar kemampuan intelektual.

5. Dalam Kehidupan Pribadi
Tidak jarang mahasiswa tinggal di kos atau asrama. Di sana, konflik kecil bisa muncul: rebutan kamar mandi, perbedaan kebiasaan, atau masalah keuangan. Prinsip manat mardongan tubu bisa membantu mahasiswa menjaga hubungan dengan teman sekamar atau sesama penghuni kos. Dengan komunikasi hati-hati dan empati, suasana hidup bersama bisa tetap harmonis.

Penegasan Akhir

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa Dalihan Na Tolu bukan sekadar teori adat yang dipelajari di buku, melainkan alat praktis untuk menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan mahasiswa teologi: dari kelas, organisasi, pelayanan, sampai kehidupan sehari-hari. Nilai harmoni sosial yang terkandung di dalamnya membantu mahasiswa untuk menjadi pribadi yang bijaksana, komunikatif, dan penuh empati.

Dengan mempraktikkan Dalihan Na Tolu, seorang mahasiswa tidak hanya mempersiapkan diri sebagai calon pemimpin rohani, tetapi juga sebagai pribadi yang matang dalam komunikasi dan relasi sosial. Inilah yang membuat soft skill berbasis kearifan lokal begitu berharga, ia bukan sesuatu yang asing, tetapi sudah tertanam dalam budaya kita, tinggal kita sadari dan hidupi. (Red/*)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read